Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Mei 2009

Nothing Is Impossible

Kisah Teladan - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Kisah Teladan, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Nothing Is Impossible
Link Tittle : Nothing Is Impossible

lihat juga


Masih ingat gambar di sebelah? Ya, ini momen saat Yunani merebut gelar juara Piala Eropa 2004 di Portugal. Sebuah momen bersejarah yang rasanya bakal melekat lama di ingatan para pecinta bola. Kenapa? Karena kemenangan Yunani sangat di luar dugaan. Masuk sebagai underdog, tapi Yunani justru keluar sebagai juara. From zero to hero.

Nothing is impossible. Adidas selaku sponsor apparel Yunani langsung memanfaatkan momen tersebut untuk lebih mempopulerkan jargonnya. Segera saja kalimat 'nothing is impossible' terlihat di mana-mana bersama foto timnas Yunani sedang merayakan kemenangan di Euro 2004. Ya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Bahkan Pablo Picasso, pelukis tersohor Spanyol pernah mengatakan 'Everything you can imagine is real'.

Suatu malam, saya chat dengan seorang rekan blogger. Sebut saja namanya Popo. Karena sudah sangat akrab, saya tak sungkan-sungkan menceritakan sebuah rencana padanya. Bukan rencana saya, tapi rencana seorang rekan lain di mana saya diajak terlibat menggarapnya. Apa rencananya? Tak muluk-muluk koq, mendirikan sebuah portal berita khusus Jogja.

Ketika rencana tersebut saya ceritakan pada Popo, dia bertanya "Mau menyaingi Detik?". Saya jawab enteng, "Who knows?". Eh, koq dia mengirim gambar orang tertawa dan menambahinya dengan kalimat, "Susah, Ko. Orang Okezone saja masih belum bisa menyamai Detik." Lagi-lagi saya jawab enteng, "Itu kan Okezone." Lalu pembicaraan jadi mengambang, jadi serba tidak enak.

Well, mungkin Popo benar tentang tak mungkin kami menyaingi Detik. Menyamainya pun mungkin susah. Tapi vonis ini terlalu dini dan sangat tidak adil. Bagaimana tidak? Detik sudah beroperasi sebagai situs berita sejak 1 Juli 1998, sementara kami baru sekedar rencana. Bahkan membandingkan Detik dengan Okezone juga tidak adil karena Okezone baru berjalan beberapa tahun belakangan. Tentu sebuah pembandingan yang tidak tepat.

Khusus soal rencana pembuatan situs berita lokal Jogja, rekan saya sudah membeberkan konsepnya kepada saya saat kami bertemu beberapa bulan lalu. Sebuah konsep cerdas yang bila itu dijalankan bakal sangat luar biasa hasilnya. Dan rencana itu sudah mulai direalisasikan oleh rekan tersebut. Ia pun sudah meminta saya untuk mencarikan beberapa anak AKY yang mau menjadi reporter di situsnya tersebut. Saya sendiri ditawari dua posisi: jadi reporter atau redaktur. :))

Sekali lagi, mungkin Popo benar saat mengatakan kami tak mungkin menyaingi Detik. Tapi pernyataan ini masih butuh kata tambahan. Ya, kami tidak mungkin menyaingi detik sekarang, tapi 5-10 tahun lagi siapa tahu? Apalagi saya tahu persis rekan yang punya ide membuat situs berita lokal Jogja tersebut punya jaringan sangat luas. Maklum, ia pernah jadi wartawan di Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Solopos, dan terakhir menjadi manajer di beberapa radio swasta.

Kembali ke cerita Yunani. Saat Euro 2004 dimulai, tak satupun pengamat berani memprediksi Yunani bakal jadi juara. Pasalnya, rekor internasional Yunani teramat buruk. Lebih sering absen di turnamen antarnegara dan tidak pernah menang di ajang internasional yang diikutinya membuat Yunani diposisikan hanya sebagai pelengkap Euro 2004. Apalagi Yunani tergabung di Grup A bersama Portugal, Spanyol dan Rusia yang peringkat FIFA-nya jauh lebih tinggi.

Publik mulai tercengang ketika tuan rumah Portugal berhasil mereka tundukkan di partai pembuka. Lalu satu demi satu raksasa Eropa mereka gilas. Rep. Ceska, Prancis, dan Portugal untuk kedua kalinya di partai final. So, nothing is impossible.

Catatan: Foto dari SkySport.com dan Freewebs.com.

Rabu, 08 April 2009

Hari Minggu yang Menyenangkan

Kisah Teladan - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Kisah Teladan, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Hari Minggu yang Menyenangkan
Link Tittle : Hari Minggu yang Menyenangkan

lihat juga


Sejak mulai magang di Harian Jogja, saya punya rutinitas baru di Minggu pagi. Apa itu? Membeli koran Harian Jogja edisi Minggu! Hehehe, biasalah, namanya juga masih pemula. Entah mengapa rasanya senang sekali kalau hasil liputan saya bisa dimuat. Padahal sudah beberapa kali tulisan dan nama saya tercetak di koran. Setelah di edisi Minggu (29/3) lalu 3 hasil liputan saya dimuat, maka Minggu kemarin saya kembali membeli koran untuk mengecek. Dimuat tidak ya Minggu ini?

Kalau sesuai dengan hasil rapat redaksi, maka Minggu itu paling tidak 3 (lagi) hasil liputan saya akan dimuat. Hal ini diperkuat dengan bujet alias tabel rencana liputan yang telah disepakati bersama dan diedarkan ke seluruh pihak-pihak yang berkepentingan dengan penerbitan edisi Minggu itu. Tapi begitu membuka Harian Jogja edisi Minggu, 5 April 2009, lalu saya jadi shock. Lho, koq tidak ada satupun tulisan saya yang dimuat?! OMG!!! :((

Sebenarnya terlalu berlebihan kalau saya bilang shock. Saya hanya merasa tak percaya, bagaimana bisa tulisan saya tidak dimuat? Padahal kalau mengacu pada hasil rapat redaksi, padahal kalau mau melihat bujet, padahal kalau mau mengingat ucapan sang redaktur, padahal... Ah, sudahlah! Saya kemudian melipat koran yang belum saya baca habis itu dan menyalakan komputer. Apalagi kalau bukan mengelus blog tercinta ini. Sambil menunggu komputer menyala, entah dapat ide dari mana saya melayangkan SMS bernada protes pada sang redaktur. Iseng. :))

4 jam online perut saya melilit minta diisi. Mau tak mau saya harus berhenti. Mandi dulu sambil persiapan menunggu sholat dhuhur berjamaah di mushola kos, kemudian baru keluar mencari makan. Setelah makan dan perut kekenyangan saya bingung. Mau ngapain lagi nih? Mau ke kantor Harian Jogja malu sama yang lain. Ya, bagaimana tidak malu kalau setiap hari kelihatan sibuk mengetik tapi begitu korannya terbit tulisannya tidak ada. So, saya memutuskan bolos hari itu. Tapi enaknya ke mana ya?

"Tring..!" Tiba-tiba dapat ide bagus. Saya ingat seorang kenalan di dekat petilasan Kraton Ratu Boko yang menjalankan bisnis agen travel online (online travel agent). Si Mas netpreneur yang belum banyak dikenal orang ini awalnya pemandu wisata khusus tamu-tamu berbahasa Prancis. Karena jiwa entrepreneurnya kuat, ia kemudian banting stir. Berhenti jadi pemandu wisata dan membangun bisnis travel agent di dunia maya. Padahal ia hanya tahu sedikit tentang internet, paling-paling hanya membuka email dan googling saja. Tapi ketekunan belajar dan sifat pantang menyerah membuatnya mampu menghasilkan omset puluhan juta rupiah dari bisnisnya tersebut.

Maka ke sanalah saya Minggu sore itu. Biar tidak bengong saya mengajak seorang teman kos. Kebetulan dia juga maniak internet meski lebih interes ke programming. Berangkat dari kos sekitar jam 16.00. Sampai di Jl. Solo, tepatnya setelah lampu merah pertigaan Jl. Babarsari, saya berhenti sebentar untuk mengambil uang di ATM BNI yang terletak persis di sebelah timur gapura Tambakbayan. Waktu itu langit sudah mulai gelap. Setelah saya selesai mengambil uang hujan rintik-rintikpun turun. Duh, gelagat tidak baik nih. :(

Kami nekat. Hujan rintik-rintik kami terobos. Tapi baru berapa kilo dari lampu merah Ring Road Timur kami harus berteduh karena hujan semakin deras. Hmmm, mendung sehitam itu pasti bakal lama nih hujannya. Benar saja. Sampai setengah jam kemudian kami masih harus berteduh. Sampai akhirnya kami memilih nekat dan kembali melanjutkan perjalanan. Sial, baru sampai Kalasan kami sudah harus berteduh lagi. Kali ini lebih lama karena hujannya semakin deras. Pffiuuuh....

Lihat jam di handphone angkanya sudah 17:05, padahal perjalanan masih lumayan jauh. Pikir punya pikir akhirnya kami nekat menembus hujan setengah hati itu. Sampai di dekat pintu masuk Kraton Ratu Boko kembali kami harus berhenti lagi. Kalau dilanjutkan bisa-bisa kami basah kuyup. Mana sopan bertamu dalam keadaan basah kuyup? Tapi kali ini kami tak berhenti lama. Begitu hari sudah gelap kami langsung tancap gas. Sambil menahan dingin kami mencari-cari letak rumah si Mas tadi. Setelah berputar-putar sebentar di perumahannya plus salah masuk rumah orang, akhirnya ketemu juga deh rumah yang kami cari. Alhamdulillah...

Dasar pebisnis, begitu ketemu dia langsung bercerita panjang-lebar tentang bisnis travel agen online-nya. Cukup lama kami mengobrol, dari jam setengah 7 sampai jam 9 lebih. Dari obrolan sepanjang itu saya banyak belajar tentang bagaimana membangun sebuah bisnis online berdasarkan hobi dan skill yang dimiliki. Si Mas yang tidak mau namanya diekspos itu hobinya jalan-jalan dan skillnya bisa berbahasa asing, Inggris dan Prancis. Dengan kedua modal itulah dia membangun bisnisnya. Padahal, sekali lagi, dia tidak tahu banyak tentang internet, apalagi tentang bisnis online.

Tentu saja dia tidak langsung sukses. Awal situsnya beroperasi, ia harus sibuk menangani semua urusan. Mulai dari membuat situs, promosi, mencari backlink, menjawab setiap email yang masuk, mencari transportasi, memesan hotel, menjadi pemandu bagi tamunya, dan sekaligus menerima pembayaran dari tamu-tamunya. Ya, all in one deh pokoknya. Semakin lama tamunya semakin banyak. Ia kemudian mulai mencari pemandu lain yang mau bekerja sama dengannya. Jadi begitu ada tamu ia tidak lagi memandu sendiri tamunya tersebut.

Kini setelah hampir 3 tahun berjalan ia tinggal duduk diam di kantor kecilnya yang merangkap sebagai ruang keluarga. Ia nyaris tak pernah keluar rumah lagi sekarang. Jadi seluruh waktunya full ia curahkan untuk keluarganya tercinta. Toh, bisnis bisa ia urus lewat laptop yang sudah terhubung dengan jaringan internet? Begitu ada order, ia tinggal angkat telepon untuk menyewa mobil pada pemilik rental mobil yang sudah jadi langganannya dan kemudian menghubungi pemandu wisata yang juga sudah ia kenal lama. Praktis dan efektif, bukan?

Bayangkan, si Mas netpreneur tadi bukanlah seorang ahli TI. Ia tak pandai pemrograman, tak tahu membuat situs, bahkan ia belajar membuat akun PayPal dari saya. Tapi kini bisnisnya sudah beromset puluhan juta perbulan. Sebagai gambaran besarnya omset yang ia dapat, ia dapat membeli 1 laptop Compaq plus modem seharga total 13 juta (waktu itu), satu motor Yamaha Mio gres, satu motor Yamaha Jupiter MX gres, tabungan untuk membeli mobil idamannya, biaya sekolah anak-anaknya, biaya hidupnya sehari-hari selama ini, dan uang untuk bersenang-senang setiap pekan. Bagi orang yang baru memulai bisnis online selama hampir 3 tahun, ini tentu sebuah pencapaian luar biasa. Ingat, si Mas ini seorang otodidak lho. Jadi besar kemungkinan beberapa bulan di tahun pertamanya hanya dilalui dengan trial and error saja.

Pulang dari sana saya langsung termotivasi. Ya, saya juga harus memiliki bisnis sendiri kalau ingin memiliki kebebasan finansial. Sejumlah ide bisnis yang pernah saya rencanakan kembali berseliweran di kepala saya. Hmmm, sepertinya satu di antaranya harus segera saya realisasikan. Sekecil apapun bisnis itu, sesedikit apapun hasil yang akan dicapai, saya harus memulainya! Bukankah segala sesuatu yang besar juga berasal dari hal-hal kecil? The Beatles yang sekarang jadi legenda awalnya hanyalah band kafe.

Benar-benar hari Minggu yang menyenangkan. Biarlah hasil liputan saya tidak satupun yang dimuat di Harian Jogja edisi Minggu itu, biarlah saya harus kehujanan sepanjang jalan dari Kalasan ke Perumahan Ratu Boko, biarlah saya harus masuk angin karena menahan lapar di tengah udara dingin, tapi saya pulang dengan sebuah pelajaran berharga yang akan sangat menentukan masa depan saya nanti. Amin.

Itu saja. Semoga bermanfaat. :)

Sabtu, 21 Maret 2009

Zalukhu.com dan Indonesia Raya

Kisah Teladan - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Kisah Teladan, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Zalukhu.com dan Indonesia Raya
Link Tittle : Zalukhu.com dan Indonesia Raya

lihat juga


Bukan karena saya dekat dengan Bang Zalukhu kalau kemudian 3 posting terakhir blog ini menyinggung-nyinggung kasus saling kritiknya dengan Mualim sang Kritikus. Cuma memang harus diakui kalau kritik-kritik yang dilontarkan Bang Zal tajam sekali. Tak heran bila pihak-pihak yang dikritik jadi merah telinganya. Terakhir, saat kritik keras dilontarkan pada Joko Susilo, eh, koq malah yang menanggapi seorang blogger anonim ber-nick Mualim.

Mengamati sikap kritis Bang Zal dan Zalukhu.com, saya jadi ingat kisah sebuah surat kabar nasional bernama Indonesia Raya. Koran harian ini dikenal sebagai pers yang sangat kritis terhadap pemerintah saat itu. Hidup di dua orde kekuasaan (1949-1959 dan 1968-1974), Indonesia Raya dua kali dibredel akibat kekritisannya. Pembredelan kedua di jaman Presiden Soeharto kemudian menghabisi riwayat koran pimpinan Mochtar Lubis ini untuk selama-lamanya. Tinggallah nama Indonesia Raya hanya tinggal sejarah saja.

Sejak pertama kali terbit pada tanggal 29 Desember 1949, Indonesia Raya dikenal kritis, anti korupsi, anti penyelewengan, dan senantiasa memperjuangkan aspirasi masyarakat bawah. Karena itu, Mochtar Lubis dan rekan-rekannya tak segan-segan mengungkap berbagai kasus korupsi dan skandal yang dilakukan pejabat tinggi negara. IR, demikian koran ini biasa disebut, pernah mengkritik layanan Komite Ramah Tamah yang disediakan pemerintah Orde Lama sewaktu menyelenggarakan KTT Asia-Afrika sebagai sebuah "prostitusi terselubung". Bahkan IR tak takut memberitakan pernikahan diam-diam antara Presiden Soekarno dengan Hartini.

Bisa ditebak, keberanian tanpa pandang bulu ini membuat petinggi Orde Lama gerah. Puncaknya, ketika Indonesia Raya memberitakan peristiwa 20 Desember 1956 secara besar-besaran, Mochtar Lubis ditahan dengan tuduhan mendukung gerakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera. IR-pun berhenti terbit.

Saat tongkat estafeta kekuasaan negara berpindah ke tangan Jenderal Soeharto, Mochtar Lubis kembali berupaya menghidupkan Indonesia Raya. Dengan susah-payah ijin kembali didapatkan dan IR terbit untuk kedua kalinya pada tanggal 30 Oktober 1968. Seolah sudah menjadi watak, sikap kritis IR terhadap perilaku negatif aparat pemerintahan kembali ditunjukkan dalam pemberitaannya. Sama seperti saat belum dibredel Presiden Soekarno, IR di masa Orde Baru juga kerap menurunkan laporan investigatif seputar penyimpangan-penyimpangan dalam pengelolaan negara.

Kasus mega korupsi di tubuh Pertamina di tahun 70-an menjadi sorotan utama Indonesia Raya. IR dengan berani mengungkap hal ini ke publik sehingga memberikan tamparan keras pada muka Orde Baru. Kemudian ketika Presiden Soeharto membuka pintu investasi selebar-lebarnya bagi investor asing, khususnya investor Jepang, Mochtar Lubis, dkk. memberikan kritik keras. Dan saat peristiwa demo anarkis pada 15 Januari 1975 (Malari) meletus, IR menurunkan laporannya secara lengkap dan tuntas. Beberapa hari setelahnya, IR terus mengulas peristiwa tersebut dari berbagai perspektif. Entah mengapa, hal ini kemudian membuat pemerintah Orde Baru tidak senang sehingga IR dibredel (lagi). Surat Ijin Terbit Indonesia Raya dicabut oleh Dirjen Pembinaan Pers dan Grafika tanggal 22 Januari 1974, atau tepat sepekan setelah Peristiwa Malari.

Tidak cukup sampai di sana. Setelah korannya dibredel, tiga pengasuh Indonesia Raya (Mochtar Lubis, Enggak Baha'udin, dan Kustiniyati Mochtar) juga ditangkap dan diinterogasi oleh aparat keamanan. Mereka dituduh mensponsori sejumlah rapat gelap dalam rangka mendiskreditkan pemerintah dengan menurunkan pemberitaan yang tendensius. Namun tuduhan tersebut tidak terbukti sehingga merekapun dibebaskan kembali.

Nah, kalau sikap kritis Indonesia Raya terhadap pemerintah berakibat pembredelan dan penangkapan, kekritisan Bang Zal dalam Zalukhu.com juga menuai buah pahit. Kita tentu ingat bagaimana tertekannya Bang Zal menerima serangan-serangan yang dilakukan oleh orang-orang yang dikritiknya, sampai-sampai ia memutuskan berhenti dulu untuk sementara waktu selama sebulan demi me-refresh dirinya sendiri. Akankah kisah Zalukhu.com sama dengan nasib Indonesia Raya? Silakan jawab sendiri.

Jumat, 03 Oktober 2008

Mengenal Liew Cheon Fong, Fulltime Blogger Pertama Malaysia

Kisah Teladan - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Kisah Teladan, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Mengenal Liew Cheon Fong, Fulltime Blogger Pertama Malaysia
Link Tittle : Mengenal Liew Cheon Fong, Fulltime Blogger Pertama Malaysia

lihat juga


Pernah dengar nama Liew Cheon Fong? Belum? Sama dong kalau begitu. Hehehe… Nama ini pertama kali saya tahu saat membaca ebook Chitika BlogBash. Chitika menyebut Cheon Fong—atau biasa dikenal dengan nickname LcF, sebagai salah satu blogger populer di Asia Tenggara. Dan yang membuat saya kemudian mem-bookmark namanya di urutan pertama dalam ingatan saya adalah bahwa Cheon Fong tinggal di Malaysia.

Sebuah fakta menarik mengetahui Chitika mengundang seorang blogger Malaysia dalam proyeknya. Di ebook tersebut terdapat nama-nama besar seperti Darren Rowse, Joel Comm, Aaron Wall, Daniel Scocco, Chris Batty, Jay Brewer dan lain-lainnya yang sudah diakui sebagai master blogger. Itu artinya Cheon Fong adalah seorang blogger yang sudah diperhitungkan kemampuannya (setidaknya oleh Chitika) sehingga namanya terdaftar di antara para master blogger dunia. Hmmm, tentu Anda jadi penasaran sehebat apa sih si LcF ini, bukan?

Rupanya Cheon Fong memang bukan blogger sembarangan, Saudara-saudara. Ia tercatat sebagai fulltime blogger pertama di Malaysia. Maksudnya tentu saja orang yang bekerja dan menghasilkan uang semata-mata dengan blog. Nah, buat Anda yang berniat menjadi fulltime blogger, pengalaman Liew Cheon Fong ini patut disimak baik-baik.

Awalnya Cheon Fong adalah seorang programmer sekaligus webmaster profesional di sebuah perusahaan kosmetik lokal. Sejak tahun 2005 ia mengenal blog dan mengisi waktu luangnya untuk mengurus blog. Pertama-tama hanya iseng-iseng menyalurkan hobi. Seiring berjalannya waktu, ternyata dari blognya itu ia mampu memperoleh penghasilan sebanyak gaji bulanannya. Iapun mulai berpikir untuk keluar dari pekerjaan dan menekuni profesi sebagai fulltime blogger.

Sebuah pemikiran hebat. Tidak semua orang berani meninggalkan pekerjaan tetap dengan gaji rutin yang sudah pasti demi menjadi fulltime blogger, profesi yang sekilas pandang tidak begitu menjanjikan karena penghasilannya tidak jelas. Terlebih waktu itu blog dan blogging belum begitu populer di Malaysia. Namun Cheon Fong sudah bulat tekadnya. 18 Agustus 2005 ia menyatakan keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, kemudian memfokuskan diri menjadi fulltime blogger sejak 9 September 2005.

Sudah bisa ditebak kalau kemudian Cheon Fong menerima banyak pertanyaan dari keluarga besarnya. Karena tak satupun anggota keluarganya yang paham apa itu blog, blogging, ataupun blogger, Cheon Fong hanya menjelaskan kalau ia ingin bekerja di rumah dengan memanfaatkan internet. Keluarganya mendukung keputusan tersebut meskipun tidak begitu mengerti apa maksud Cheon Fong. Lucunya, sampai saat inipun ibunya tidak mengerti apa yang dilakukan Cheon Fong sampai bisa menerima cek secara rutin setiap bulan. Hehehe, ada yang punya pengalaman serupa?

Jalan Cheon Fong tak selalu mulus. Ia justru menerima banyak komentar negatif dari pembaca blognya saat menceritakan niat tersebut. Beberapa orang menertawakan bahasa Inggris-nya yang masih berantakan, sementara sebagian lagi memintanya untuk bersikap reaslistis karena blogger bukanlah sebuah profesi ataupun pekerjaan. Cheon Fong tak terpengaruh. Ia menganggap komentar-komentar negatif itu sebagai angin lalu dan terus melangkah. Terbukti sekarang ia bisa hidup enak dengan penghasilan berlimpah sebagai fulltime blogger.

Kesuksesan Cheon Fong segera menginspirasi blogger-blogger Malaysia untuk mengikuti jejaknya. Meskipun diakuinya penghasilan dari blog masih belum begitu besar, namun Cheon Fong merasakan hidup sebagai fulltime blogger benar-benar menyenangkan. Tidak hanya jam kerja yang seenaknya, ia juga jadi memiliki banyak waktu luang bersama keluarga dan kebebasan untuk bepergian ke mana saja kapanpun. Hal ini tentu tidak mungkin ia dapatkan kalau masih menjadi karyawan.

Jujur saja, setelah membaca kisah ini saya jadi sangat termotivasi untuk menjadi fulltime blogger. Sayangnya hal tersebut belum bisa saya wujudkan sekarang karena masih harus membagi konsentrasi dan waktu dengan kuliah. Mudah-mudahan setelah lulus tahun depan saya bisa mulai menekuni "karir" sebagai fulltime blogger. Amin. Bagaimana dengan Anda?

Posting yang MIRIP 99.99%:
- Caksub Ingin Seperti Liew Cheon Fong, Fulltime Blogger Pertama Malaysia

Kamis, 28 Agustus 2008

Keyakinan, Modal Penting Berbisnis Online

Kisah Teladan - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Kisah Teladan, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Keyakinan, Modal Penting Berbisnis Online
Link Tittle : Keyakinan, Modal Penting Berbisnis Online

lihat juga


Pernah dengar nama Jeff Bezos? Kalau Anda salah satu pelanggan atau member program afiliasi Amazon.com pasti kenal sosok satu ini. Ya, Jeff Bezos adalah penggagas sekaligus bos besar toko buku virtual paling terkenal sejagat raya ini. Tapi kalau Anda tak tahu siapa itu Jeff Bezos dan juga apa itu Amazon, maka sekelumit kisah berikut tidak boleh Anda lewatkan.

Jeff Bezos awalnya bukanlah siapa-siapa di dunia internet. Salah satu lulusan terbaik Princeton University ini memang bergelar sarjana ilmu komputer—disiplin ilmu yang ’dekat’ dengan internet, namun ia justru sangat berminat pada ilmu fisika. Ia bahkan pernah bercita-cita menjadi ahli fisika atau astronot saat berusia 14 tahun. Hal ini tak lepas dari pengaruh kakeknya yang pernah menjadi manajer di Komisi Energi Atom Amerika Serikat.

Sebagai lulusan dengan predikat summa cum laude di universitas paling tersohor AS, Bezos muda tak kesulitan mencari pekerjaan. Ia memulai karirnya di FITEL, sebuah perusahaan teknologi tinggi di New York. Hanya bertahan selama 2 tahun, ia lantas pindah ke Bankers Trust Company. Di perusahaan barunya itu ia dipercaya memimpin pengembangan sistem komputer dan diangkat menjadi direktur. Ini merupakan prestasi luar biasa mengingat ia baru bergabung selama 4 tahun dan usianya belum genap 30.

Jabatan tinggi ternyata tak membuat Bezos betah di Bankers Trust Company. Tahun 1990 ia pindah ke DE Shaw & Co, sebuah perusahaan yang berkecimpung di bisnis keuangan Wall Street. Karirnya juga cepat menanjak di sini. Baru bekerja 2 tahun posisi wakil direktur sudah berhasil ia capai. Namun lagi-lagi jabatan tinggi tak membuatnya bertahan. Terdorong oleh impiannya sendiri, ia memutuskan keluar dari DE Shaw & Co di tahun 1994.

Apa impian Bezos sampai berani meninggalkan karir cemerlangnya di DE Shaw & Co? Bisnis online! Ia tertarik mencoba membangun sebuah bisnis berbasis internet yang diyakininya sebagai bisnis menjanjikan. Keyakinan tersebut timbul saat ia mengetahui satu data statistik mengenai pertumbuhan internet yang mencapai angka 2.300% per tahun. Dari situ ia percaya bahwa internet adalah ladang bisnis masa depan.

Bersama istrinya yang berprofesi sebagai penulis novel, Bezos mengkonsep sebuah toko buku online yang akan melayani pembeli dari seluruh penjuru dunia. Ide bisnis itu ia dapatkan saat dalam perjalanan dari Fort Worth menuju Seattle. Namun ia sempat diliputi keraguan atas konsep bisnis tersebut. Ia bimbang apakah akan ada yang tertarik membeli buku di internet? Diskusi panjang bersama sang istri dan sejumlah rekan akhirnya membulatkan tekad Bezos untuk merealisasikan toko buku virtualnya.

Begitulah. Tahun 1995 Jeff Bezos resmi meluncurkan Amazon.com. Saat itu usianya baru menginjak 30-an tahun. Ternyata perkembangan Amazon di luar dugaan. Toko buku virtual itu menjadi situs yang paling banyak dikunjungi dan buku-buku yang dijual selalu laris-manis. Kini Amazon tak hanya menjual buku, tapi juga DVD, jam tangan, sepatu, sampai pakaian dan beragam aksesoris lainnya. Terakhir Amazon meluncurkan Kindle, sebuah perangkat khusus untuk membaca eBook.

Berapa hasil yang didapat Jeff Bezos dari Amazon.com? Jangan ditanya. Saat Amazon belum genap berusia 5 tahun saja ia telah mengumpulkan kekayaan pribadi di atas 5 miliar dolar AS. Hari-hari ini tentu kekayaan yang diperolehnya dari Amazon.com jauh lebih banyak lagi.

Nah, kini Anda sudah tahu siapa Jeff Bezos, bukan? Berangkat dari satu keyakinan bahwa internet adalah ladang bisnis prospektif ia berhasil mengubah ide sederhananya menjadi bisnis bertaraf internasional. Amazon.com telah mengubah taraf hidupnya menjadi jauh lebih baik lagi. Boleh dibilang Amazon adalah mesin uang tangguh yang terus-menerus memberikan pemasukan tanpa henti selama 24 jam sehari 7 hari seminggu. Tak peduli Bezos sedang makan atau tidur, Amazon terus beroperasi menggemukkan pundi-pundi uangnya.

NB: Artikel ini dibuat dalam rangka mengikuti Kontes Menulis Artikel yang diadakan oleh Fahry.com.

Kamis, 17 Juli 2008

Meneladani Sikap Pendiri Google

Kisah Teladan - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Kisah Teladan, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Meneladani Sikap Pendiri Google
Link Tittle : Meneladani Sikap Pendiri Google

lihat juga


Artikel ini merupakan posting pertama blog ini. Namun karena waktu itu masih newbie banget dan masih benar-benar baru, saya haqul yaqin tidak ada yang membaca deh. So, daripada mubazir artikel ini saya repost. Silakan ambil pelajaran dari kisah sekilas para pendiri Google ini.

Apa yang dipikirkan oleh Larry Page dan Sergey Brin saat menciptakan teknologi PageRank yang merupakan cikal-bakal Google saat ini? Kekayaan? Kepopuleran? Ternyata bukan. Mereka hanya ingin mempersembahkan sesuatu yang lebih baik kepada para pengguna internet. Waktu itu teknologi mesin pencari belum secanggih sekarang sehingga alih-alih membantu pencarian, kebanyakan mesin pencari justru menambah pekerjaan bagi penggunanya.

Nah, melihat kerepotan itulah lalu Larry dan Sergey yang sebenarnya gak cocok satu sama lain bahu-membahu menciptakan satu teknologi baru dalam dunia search engine. Hasilnya, mereka berhasil mengkreasi PageRank. Teknologi baru inipun lantas diuji-cobakan pada sebuah mesin pencari bernama BackRub dan sukses besar. Mereka lantas mengganti namanya menjadi Google seperti yang kita kenal sekarang.

Ketika Google kemudian semakin berkembang, mereka merasa harus mencari sumber dana besar untuk memperbaiki server dan komputer yang digunakan Google. Alhasil, berkat bantuan dari seorang investor ternama di Mountain View bernama Andy Bechtolsheim, Google Guys dapat pinjaman dana US$ 100.000,-.

Lucunya, Andy menuliskan cek tersebut untuk Google, Inc. sementara perusahaan itu sendiri belum berdiri. Alhasil cek belum bisa diuangkan dan memaksa Google Guys mencari dana segar lain dari saudara, keluarga dan teman-teman mereka. Berhasil. Dana tunai US$ 1 juta mereka peroleh dan berdirilah Google, Inc.

Tapi di awal-awal beridirnya Google tidaklah profit oriented. Sergey dan Larry hanya berpikiran bagaimana Google dapat memberikan yang terbaik untuk dunia internet. Mereka semakin hari semakin mempercanggih teknologi PageRank, semakin memperbesar server dan mempunyai impian untuk mendigitalkan dunia. Alhasil, Google sekarat karena tak mempunyai penghasilan. Ketika memperoleh dana segar dari John Doerr dan Michael Moritz, dua investor kakap di Silicon Valley, dananya juga mereka gunakan untuk menambah kapasitas dan kualitas pencarian Google. Setelah diultimatum oleh para investornya, barulah Google mencari CEO untuk mengatur cahsflow perusahaan lebih baik lagi. Terpilihnya Eric Schmidt yang mantan CEO Novell, Inc. dan CTO Sun Microsystem.

Apa yang dapat dipelajari dari sinopsis di atas? Well, tak lain bahwa memulai sesuatu dengan spirit money oriented atau profit oriented tidaklah memberikan hasil maksimal. Kenapa? Karena profit atau money adalah 'hasil', sehingga orang cenderung lebih cepat kecewa jika 'merasa' sudah berusaha keras tapi 'hasil'nya tidak sesuai harapan. Sebaliknya, kalau ia meneladani sikap para pendiri Google, yang terbaik adalah berniat 'melayani' orang lain sebaik-baiknya. Dengan spirit ini kita akan tertantang untuk selalu melakukan yang terbaik tanpa memikirkan hasil yang akan diperoleh.

Percayalah bahwa Tuhan tidak tidur dan Ia akan membalas kebajikan yang kita lakukan dengan berlipat-ganda. So, kalau Anda publisher Google AdSense, berpikirlah untuk melayani orang lain dengan web yang Anda punya tanpa harus risau iklan Anda akan diklik atau tidak. Buah manisnya pasti akan datang sendiri koq.

Baca sendiri deh bukunya, saya jamin Anda puas (dan saya tidak akan loyo :p ). Kalau belum baca bukunya, cepetan deh cari di toko-toko buku. Bagus banget loh...