Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 September 2009

Sebulan Pertama

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Sebulan Pertama
Link Tittle : Sebulan Pertama

lihat juga


SEBENARNYA posting ini mau saya tulis tanggal 4 kemarin. Berhubung IM2 Broom ngadat 2 hari, jadilah baru bisa saya tulis dan diposting sekarang. Telat sih, tapi masih belum terlalu lama koq. Jadi tidak apa-apa kan ya? ^_^

Btw, ada apa dengan tanggal 4? Hari istimewakah?

Kalau tanggal 4 September kemarin sih tidak ada yang istimewa. Hari istimewanya justru tepat sebulan sebelumnya, alias tanggal 4 Agustus. Ya, pada hari itu saya memasuki satu babak baru dalam kehidupan saya. Dengan hati mantap saya mengucapkan akad nikah di hadapan Bapak Penghulu, petugas KUA, orang tua, mertua, dan seluruh sanak-saudara yang berkumpul di Masjid al-Munawaroh, Taman, Pemalang.

Ada kejadian menarik waktu itu. Sejak malam sebelum akad saya sudah menghapal ucapan qobul yang akan saya ucapkan pada saat akad. Malah saya juga diam-diam masih menghapal sambil menunggu bapak-bapak dari KUA datang. Eh, begitu ijab-qobul mau diucapkan, lha koq penghulunya malah ngasih kepekan alias contekan ke saya. So, cuma sekali saja selesai sudah ijab-qobulnya, para hadirin pun berdecak kagum. Saya sama istri cuma bisa tertawa geli. ^_^

Kejadiannya singkat sekali. Mengucapkan ijab-qobul rasa-rasanya tak sampai 10 menit. Tapi tahukah teman-teman, berapa lama saya (dan istri) harus menunggu momen itu? 3 tahun! Karenanya kami berdua langsung tersenyum lebar begitu pengucapan akad nikah selesai. Akhirnya....

Eits, saya sadar ini bukan akhir. Justru ini merupakan satu langkah awal bagi kehidupan saya yang sebenarnya. Satu titik yang menentukan akan menjadi manusia seperti apa saya nanti. Kini saya sudah punya amanah bernama keluarga, meskipun dalam keluarga itu baru ada saya dan istri. Bila amanah ini dapat saya jaga dengan baik, maka saya boleh berbangga hati disebut sebagai "suami yang baik". Tapi jika sebaliknya, naudzubillah min dzalik.

Dan tidak terasa sebulan pertama sudah saya lalui. Baru sebentar memang. Karenanya masih belum terasa benar halang-rintangnya. Terlebih saya dan istri masih SLJJ, saya di Jogja & istri tetap di Pemalang karena terikat mengajar di dua SD negeri di sana. Nanti kalau sudah jadi satu dengan istri, mungkin itulah saatnya saya benar-benar merasa punya keluarga, amanah yang menentukan di mana tempat saya di hari akhir kelak.

Oke, teman-teman. Pada peringatan sebulan pernikahan ini saya mohon doa dari teman-teman, semoga saya dan istri awet sampai akhir hayat. Semoga kami dapat membangun sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rohmah. Amin.

Catatan: Foto-foto bisa dilihat di sini.

Rabu, 02 September 2009

Lagi-lagi Ganti Template (Repost)

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Lagi-lagi Ganti Template (Repost)
Link Tittle : Lagi-lagi Ganti Template (Repost)

lihat juga


MUNGKIN saya adalah satu-satunya blogger yang paling sering gonta-ganti template. Waktu blog ini belum genap berusia setahun saja terhitung sudah sekitar 6-7 template silih berganti dipakai. Bila diambil rata-rata, maka blog ini berganti template hampir setiap bulan! Di bulan ramadhan tahun lalu saya sudah ganti template 2 kali. Dan Ramadhan kali ini diganti lagi. Gila ya?

Kalau ada yang bertanya kenapa sesering itu saya berganti-ganti template, maka jawabannya hanya satu: mungkin saya ini orangnya terlalu perfeksionis. Saya bilang “mungkin” lho. Bisa jadi juga jawabannya adalah: saya ini ledha-ledhe alias plin-plan. Hehehe… Tapi yang jelas apa yang saya cari adalah paduan terbaik antara tampilan blog, tata halaman, sistem navigasi, dan juga waktu loading-nya.

Template yang saya pakai sebelum ini sebenarnya sudah bagus tampilannya. Fresh dan sejuk. Waktu loadingnya juga termasuk cepat. Apalagi headernya sudah saya ganti dengan ditambahkan logo sendiri. Tapi satu yang membuat saya kurang sreg adalah, kalau sedang dalam kondisi 'home' tampilannya kurang enak dilihat (bagi saya lho). Apalagi kalau beberapa posting pakai gambar sedangkan yang lain tidak. Kacau deh pokoknya. :D

Hal itu sebenarnya bisa dibilang bukan gangguan. LHa wong semua template ya begitu itu tampilannya kalau sedang menampilkan blog dalam kondisi 'home' alias halaman depan. Tapi dasar saya tukang komplain, akhirnya terulang lagi deh kejadian saat Ramadhan tahun lalu: ganti template (lagi).

Bagaimana dengan template yang sekarang? Untuk sementara ini saya merasa puas. Dari sekian banyak template yang pernah saya pakai, baru template inilah yang memenuhi keinginan saya. Pertama, desainnya simple tapi menarik. Tata halamannya rapi, mirip dengan yang biasa dipakai majalah-majalah online. Minimnya gambar yang dipakai (hanya di header, itupun ukurannya kecil) semoga saja membuat loading-nya tidak lambat. Eits, ini penilaian (subjektif) saya lho. Anda tentu punya penilaian sendiri kan? So, jangan malu-malu untuk mengungkapkannya di kolom komentar.

Oya, saya sebenarnya sudah kangen sekali ngeblog. Tapi hampir 3 bulan tidak ngeblog rupanya cukup membuat otak beku dan tangan kaku. Maka jadilah untuk pertama kalinya saya cuma repost saja. Mudah-mudahan setelah ini saya bisa aktif lagi menulis posting-posting baru yang segar. ^_^

Minggu, 31 Mei 2009

Rehat...

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Rehat...
Link Tittle : Rehat...

lihat juga


Hari ini, tepat di akhir bulan Mei 2009, masa magang saya di Harian Jogja berakhir sudah. Setelah selama 10 pekan atau 70 hari sejak tanggal 13 Maret 2009, akhirnya berakhir juga status saya sebagai reporter magang. Sungguh tidak terasa, terlebih karena saya mendapat jatah di mingguan yang praktis kerjanya jauh lebih santai dibanding yang harian. But, it's ok. Saya tidak mungkin memperpanjang masa magang karena ada satu alasan pribadi.

Ada banyak pengalaman menarik yang saya dapati dari magang ini. Sejumlah narasumber yang sempat saya temui telah memperkaya saya dengan wacana, pemikiran, pengetahuan, pelajaran, bahkan juga kekonyolan. Dan rasanya inilah hal paling berharga yang saya dapatkan selama magang ini. Tentu saja selain kesempatan untuk menampangkan tulisan-tulisan saya di Harian Jogja edisi Minggu selama masa magang tersebut.

Setelah magang ke mana lagi? Planning terdekat adalah menyelsaikan kuliah. Setelah magang seharusnya saya tinggal menggarap Laporan Kerja Praktek (LKP) saja. Tapi karena masih punya tanggungan beberapa mata kuliah, mungkin saya mesti bernegoisasi dulu dengan pihak kampus mengenai hal ini. Magang saya juga sebenarnya di luar kelaziman. Soalnya, sebenarnya yang boleh magang hanyalah mahasiswa yang sudah menghabiskan teorinya. :))

Mulai Juni sampai Agustus saya akan disibukkan dengan beberapa kegiatan dan sekaligus kewajiban. Ya, selain mengejar ketertinggalan di kampus tentunya. So, mungkin saya akan mengurangi aktivitas blogging selama dua-tiga bulan itu. Untuk itu saya mohon pamit pada teman-teman yang biasa berkunjung kemari. Saya juga mohon maaf jika selama Juni-Agustus tidak bisa berkunjung balik.

Itu saja. Dan saya mohon pamit untuk sejenak menghilang dari blogosphere. Terima kasih...


Kamis, 28 Mei 2009

Lebih Cepat (Tidak Selalu) Lebih Baik

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Lebih Cepat (Tidak Selalu) Lebih Baik
Link Tittle : Lebih Cepat (Tidak Selalu) Lebih Baik

lihat juga


Lebih cepat lebih baik. Itulah jargon yang diusung pasangan capres-cawapres Jusuf Kalla-Wiranto. Pasangan yang populer disebut JK-Win ini seolah ingin menyentil Presiden SBY yang sering bersikap lamban dan cenderung bingung menentukan sikap kala menghadapi suatu persoalan. Contoh kecil, SBY tak menentukan pilihan waktu ditanya siapa jagoannya dalam final Liga Champions kemarin malam.

Lebih cepat memang lebih baik, tapi tidak selalu lebih baik. Semua tergantung bagaimana persepsi kita mengenai kata "cepat". Terkadang terlalu cepat justru menjadi tidak baik dan kontraproduktif. Contohnya terlalu cepat berkomentar tanpa membaca keseluruhan isi posting terlebih dahulu.

Posting saya yang berjudul "Nothing Is Impossible" bisa diambil sebagai contoh. Karena pembuka dan penutup posting tersebut bercerita mengenai kesuksesan Yunani memenangi Piala Eropa 2004 (plus gambar), sejumlah pengunjung yang "bertindak cepat" jadi meninggalkan komentar tidak nyambung. Bahkan ada yang dengan pedenya mengomentari kisah sukses Yunani. Padahal inti dari posting tersebut bukan di situ.

Contoh lain adalah serial posting "Skenario (Curang) Meningkatkan Earning AdSense" yang saya buat September tahun lalu. Ada 6 tulisan dalam serial tersebut, di mana masing-masing artikel membahas satu trik curang untuk meningkatkan earning AdSense. Nah, di tulisan terakhir (artikel ke-6) saya membuat satu kesimpulan yang sangat antiklimaks dan saya yakin tidak diduga-duga para pembaca. Namun kebanyakan pembaca ternyata bertindak "terlalu cepat" dan langsung mengambil kesimpulan tanpa mau membaca keseluruhan seri tersebut, terutama bagian terakhir yang menjadi kesimpulan.

Inilah fenomena dunia blogging di Indonesia. Ketika trafik menjadi tujuan utama, maka makna paling penting dan termulia dari blogging jadi terlupakan. Blog tak lagi berfungsi sebagai media menuangkan ide-ide untuk didiskusikan dengan pengunjung, bukan lagi media untuk saling berbagi, bukan pula untuk menjalin persahabatan antar blogger.

Apa yang terjadi justru kebalikannya. Demi mengejar trafik, seorang blogger rela melakukan blogwalking dari satu blog ke blog lain. Karena tujuan utamanya hanya kunjungan balik yang berarti menambah trafik blognya, maka iapun selalu "bertindak cepat". Cukup baca judul, lihat gambar (kalau ada), dan baca sekilas paragraf pembuka dan penutup, lalu tinggalkan komentar. Jangan harapkan komentar panjang-lebar, diberi satu-dua kalimat pendek saja pemilik blog sudah sangat bersyukur.

Alhasil, blogwalking hanya menjadi satu wahana (maaf) setor wajah semata. Asal namanya tercatat mengunjungi blog lain dengan harapan dikunjungi balik. Tak ada diskusi, tak ada tukar-pikiran. Maka jangan heran kalau blog-blog yang bertema agak serius dan berat jarang pengunjungnya.

Maaf, hanya sekedar uneg-uneg. Tolong jangan diambil hati (emosi), tapi diambil pikiran (logika) saja. :D

Sabtu, 23 Mei 2009

Nothing Is Impossible

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Nothing Is Impossible
Link Tittle : Nothing Is Impossible

lihat juga


Masih ingat gambar di sebelah? Ya, ini momen saat Yunani merebut gelar juara Piala Eropa 2004 di Portugal. Sebuah momen bersejarah yang rasanya bakal melekat lama di ingatan para pecinta bola. Kenapa? Karena kemenangan Yunani sangat di luar dugaan. Masuk sebagai underdog, tapi Yunani justru keluar sebagai juara. From zero to hero.

Nothing is impossible. Adidas selaku sponsor apparel Yunani langsung memanfaatkan momen tersebut untuk lebih mempopulerkan jargonnya. Segera saja kalimat 'nothing is impossible' terlihat di mana-mana bersama foto timnas Yunani sedang merayakan kemenangan di Euro 2004. Ya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Bahkan Pablo Picasso, pelukis tersohor Spanyol pernah mengatakan 'Everything you can imagine is real'.

Suatu malam, saya chat dengan seorang rekan blogger. Sebut saja namanya Popo. Karena sudah sangat akrab, saya tak sungkan-sungkan menceritakan sebuah rencana padanya. Bukan rencana saya, tapi rencana seorang rekan lain di mana saya diajak terlibat menggarapnya. Apa rencananya? Tak muluk-muluk koq, mendirikan sebuah portal berita khusus Jogja.

Ketika rencana tersebut saya ceritakan pada Popo, dia bertanya "Mau menyaingi Detik?". Saya jawab enteng, "Who knows?". Eh, koq dia mengirim gambar orang tertawa dan menambahinya dengan kalimat, "Susah, Ko. Orang Okezone saja masih belum bisa menyamai Detik." Lagi-lagi saya jawab enteng, "Itu kan Okezone." Lalu pembicaraan jadi mengambang, jadi serba tidak enak.

Well, mungkin Popo benar tentang tak mungkin kami menyaingi Detik. Menyamainya pun mungkin susah. Tapi vonis ini terlalu dini dan sangat tidak adil. Bagaimana tidak? Detik sudah beroperasi sebagai situs berita sejak 1 Juli 1998, sementara kami baru sekedar rencana. Bahkan membandingkan Detik dengan Okezone juga tidak adil karena Okezone baru berjalan beberapa tahun belakangan. Tentu sebuah pembandingan yang tidak tepat.

Khusus soal rencana pembuatan situs berita lokal Jogja, rekan saya sudah membeberkan konsepnya kepada saya saat kami bertemu beberapa bulan lalu. Sebuah konsep cerdas yang bila itu dijalankan bakal sangat luar biasa hasilnya. Dan rencana itu sudah mulai direalisasikan oleh rekan tersebut. Ia pun sudah meminta saya untuk mencarikan beberapa anak AKY yang mau menjadi reporter di situsnya tersebut. Saya sendiri ditawari dua posisi: jadi reporter atau redaktur. :))

Sekali lagi, mungkin Popo benar saat mengatakan kami tak mungkin menyaingi Detik. Tapi pernyataan ini masih butuh kata tambahan. Ya, kami tidak mungkin menyaingi detik sekarang, tapi 5-10 tahun lagi siapa tahu? Apalagi saya tahu persis rekan yang punya ide membuat situs berita lokal Jogja tersebut punya jaringan sangat luas. Maklum, ia pernah jadi wartawan di Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Solopos, dan terakhir menjadi manajer di beberapa radio swasta.

Kembali ke cerita Yunani. Saat Euro 2004 dimulai, tak satupun pengamat berani memprediksi Yunani bakal jadi juara. Pasalnya, rekor internasional Yunani teramat buruk. Lebih sering absen di turnamen antarnegara dan tidak pernah menang di ajang internasional yang diikutinya membuat Yunani diposisikan hanya sebagai pelengkap Euro 2004. Apalagi Yunani tergabung di Grup A bersama Portugal, Spanyol dan Rusia yang peringkat FIFA-nya jauh lebih tinggi.

Publik mulai tercengang ketika tuan rumah Portugal berhasil mereka tundukkan di partai pembuka. Lalu satu demi satu raksasa Eropa mereka gilas. Rep. Ceska, Prancis, dan Portugal untuk kedua kalinya di partai final. So, nothing is impossible.

Catatan: Foto dari SkySport.com dan Freewebs.com.

Selasa, 19 Mei 2009

Bertemu Pangeran

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Bertemu Pangeran
Link Tittle : Bertemu Pangeran

lihat juga


Namanya Nieko Messa Yudha, seorang pebisnis yang cukup mapan. Tapi semenjak menikahi putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X, ia mendapat gelar Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) dan punya nama baru Wironegoro. Nah, saya menemuinya dalam kapasitasnya sebagai pengelola Jogja National Museum (JNM). Apalagi kalau bukan tugas liputan jurnalistik di tempat saya magang. Ceritanya saya disuruh mewawancarai sang Pangeran mengenai JNM.

Pertama kali dapat tugas tersebut, seperti biasa saya santai-santai saja. Tapi begitu tahu kalau yang harus ditemui adalah seorang Pangeran bergelar KPH, walah koq saya tiba-tiba saja jadi grogi. Dua minggu lebih tugas tersebut tidak saya garap. Meskipun nomor HP sudah di tangan dan alamat JNM sudah dikantongi, tapi saya tak kunjung turun ke lapangan. Grogi abisss..! :))

Beberapa lama kemudian, karena terdorong rasa tidak enak sama redaktur yang mengasuh saya, akhirnya nekat juga saya mengontak sang Pangeran. Sebelumnya saya sempat browsing di internet mengenai JNM dan juga KPH Wironegoro. Dapat beberapa referensi yang memberi bocoran sedikit, dan ini membuat saya bisa sedikit rileks. So, saya pun menelepon.

Begitu telepon diangkat jadi kikuk juga. Mau pakai panggilan apa nih? Masa iya mau memanggil lengkap KPH Wironegoro? Rasanya tidak mungkin deh. Akhirnya nekat saya sok akrab saja dan panggil Mas Nico yang memang jadi panggilan akrabnya. Hehehe. Tahu tidak, ternyata kemudian KPH Wironegoro menyebut dirinya sebagai Wiro. Tentu saja saya jadi salting karena merasa salah panggil. :))

Untungnya semua berjalan lancar. Kami membuat janji dan bertemu keesokan harinya di JNM. Ugh, betapa senangnya bisa bertemu dengan kerabat dekat Kraton Yogyakarta. Bayangkan, istri KPH Wironegoro merupakan calon penerus tahta Kraton Yogyakarta karena merupakan anak sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X. Itu artinya, kalau boleh GR, saya sedang berhadapan dengan suami calon Ratu Yogyakarta. Hehehehe....

Sepulang dari wawancara di JNM itu, benak saya berbisik nakal. Untung saja saya bertemu Pangeran di jaman modern seperti sekarang. Kalau saja bertemunya di jaman monarki jadul kala, tentu saya harus terlebih dahulu menyembah sang Pangeran. Bicaranya pun harus dengan bahasa Jawa kromo inggil yang saya sama sekali tidak tahu. Hihihi....

Catatan: Foto dari sinarharapan.co.id.

Sabtu, 16 Mei 2009

Kritik Keras untuk Blogger Jambi

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Kritik Keras untuk Blogger Jambi
Link Tittle : Kritik Keras untuk Blogger Jambi

lihat juga


Jum'at kemarin rupanya bukan hari baik saya. Beberapa kejadian tidak menyenangkan saya alami di hari itu. Mulai dari pembatalan kuliah secara sepihak dari dosen (padahal sudah jauh-jauh datang), reaksi tidak enak atas kinerja saya dari seorang rekan di tempat magang, dan malamnya saya secara tidak langsung mendapat kritik keras dari salah seorang kontributor BloggerJambi.com.

Dari semua kejadian tidak enak tersebut, kritik dalam blog BloggerJambi.com menjadi yang paling tidak enak. Saya benar-benar 'tertampar' sekali. Apalagi kritik tersebut diberi judul pedas pula, "Hangat-hangat Tahi Ayam". Tapi saya tidak marah ataupun tersinggung. Saya justru berterima kasih sekali atas kritik tersebut. Dan saya sadar, saya memang pantas mendapat kritik seperti itu.

Ada dua hal yang saya garis bawahi dalam kritik yang dibuat oleh rekan BuJang itu. Pertama, kelalaian saya mengurusi blog BloggerJambi.com, dan kedua adalah kebiasaan jelek saya yang jarang berkunjung balik ke blog rekan-rekan yang sudah berkunjung kemari. Kedua-duanya saya akui sebagai kesalahan saya, dan untuk itu saya meminta maaf sebesar-besarnya pada rekan-rekan sekalian. Namun ijinkanlah saya untuk memberi sedikit penjelasan.

Mengenai BloggerJambi.com yang tidak pernah di-update, saya tidak mau disalahkan sepenuhnya. Blog tersebut saya buat bukan untuk saya pribadi. Saya membuatnya dengan tujuan sebagai ajang silaturahim antar blogger Jambi, baik yang berdomisili di Jambi maupun di luar Jambi. Formatnya, para blogger Jambi tersebut menjadi kontributor dan menyumbang posting. Kenyataannya, yang berminat hanya segelintir orang. Dan yang benar-benar berkontribusi hanya satu orang saja, yakni rekan BuJang.

Lama tidak di-update, rupanya banyak blogger Jambi yang merasa gerah. Sebelum rekan BuJang menuliskan kritiknya, sebenarnya sudah banyak kritik yang saya terima lewat kolom komentar blog tersebut. Rata-rata menanyakan kenapa koq tidak sering di-update. Ketika saya jelaskan bahwa blog itu berformat partisipasi dan menerima sumbangan tulisan dari rekan-rekan blogger Jambi yang peduli, hampir semuanya berkilah "untuk blog sendiri saja susah, apalagi untuk blog lain."

Ada pula yang mengatakan kalau keberadaan BloggerJambi.com seolah hendak menyaingi blog komunitas blogger Jambi yang sudah lebih dulu eksis, yakni bloggerjambi.blogspot.com. Hal ini perlu diluruskan. Saya bahkan pernah menawarkan pada pengelola blog tersebut untuk memakai nama domain bloggerjambi.com, tapi sampai sekarang tidak ada respon. Beberapa rekan blogger Jambi yang saya tahu akrab dengan blog dan blogosphere juga sudah saya beri tawaran untuk menjadi admin blog tersebut, tapi semuanya angkat tangan.

So, solusi bagi BloggerJambi.com mungkin hanya dua: (1) diteruskan dengan keterlibatan dan kepedulian rekan-rekan blogger Jambi yang lain, atau (2) ditutup saja selama-lamanya. Pilihannya bukan pada saya karena sejak awal saya tidak memosisikan diri sebagai pemilik blog tersebut. Keputusan dan masa depan BloggerJambi.com tergantung pada sikap teman-teman blogger Jambi yang merasa ikut memiliki dan peduli pada blog tersebut.

Oya, soal jarangnya saya berkunjung balik, untuk ini saya harus memohon pengertian teman-teman semua. Seperti pernah saya ceritakan sebelumnya, sejak magang di Harian Jogja waktu online saya sudah sangat jauh berkurang. Selain magang, saya juga masih harus menempuh beberapa mata kuliah lho. Jadi, dari biasanya bisa online sampai 4-5 jam sehari, sekarang paling banter hanya 1-2 jam saja. Itupun lebih banyak saya habiskan untuk mencari referensi tambahan demi memperkaya hasil liputan saya.

Masa magang saya hanya sampai 31 Mei 2009, dan kuliah saya juga akan selesai dalam waktu tak lama kemudian. Setelah itu saya baru bisa punya banyak waktu luang lagi untuk online. Apalagi jika ternyata setelah lulus tak ada media massa yang tertarik memakai tenaga saya sebagai reporter. Soalnya, mau tak mau saya harus bekerja keras mencari nafkah di internet. :))

Itu saja dari saya. Harap maklum.

Senin, 11 Mei 2009

Keok Seminggu

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Keok Seminggu
Link Tittle : Keok Seminggu

lihat juga


Bukan karena digebuk Google kalau kemudian saya jatuh sakit dan ambruk selama satu minggu. Ya, mulai malam Senin pekan lalu badan saya panas-dingin, disusul pusing-pusing, dan kemudian juga dilengkapi dengan (maaf) buang air besar yang terlalu sering. Wah, benar-benar serangan yang komplit. Semua jenis penyakit menyerang dalam waktu bersamaan. Tak heran kalau sayapun jadi tergolek lesu tanpa daya.

Selama itu badan saya terasa lemas bukan main. Hal ini diperparah dengan lidah yang jadi pahit, sehingga untuk makan rasanya jadi tak karuan. Alhasil, apapun makanannya selalu saja terasa tidak enak di mulut. Sampai-sampai sate kambing langganan pun rasanya jadi aneh. Walah... :((

Karena kondisi fisik yang begitu pula saya meminta ijin tidak masuk pada redaktur yang membimbing saya selama magang di Harian Jogja. Untungnya beliau bisa mengerti kondisi saya dan menyarankan untuk istirahat sampai benar-benar sembuh. Tapi saya sendiri tidak mau libur lama-lama. Sayang betul rasanya kalau waktu magang yang hanya tinggal 3 minggu ini saya sia-siakan.

Untunglah penderitaan itu cepat berakhir. Mulai kemarin badan saya terasa lebih enak. Pusing-pusingnya sudah hilang, panasnya sudah jauh menurun, dan perut tak lagi rewel. Tapi rupanya saya belum diberi kesembuhan total. Pasalnya, kini gantian flu dan batuk yang menghinggapi saya. Hmmmm....

Btw, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada teman-teman yang telah memberikan support selama saya sakit. Saya juga mohon maaf karena belum bisa menjawab komentar teman-teman di dua posting terakhir. Asal tahu saja, dua posting itu adalah posting terjadwal yang saya buat sebelum saya jatuh sakit. :))

Jumat, 08 Mei 2009

Kapan Dapat Bayaran dari BuyBlogReviews?

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Kapan Dapat Bayaran dari BuyBlogReviews?
Link Tittle : Kapan Dapat Bayaran dari BuyBlogReviews?

lihat juga


Selain Google AdSense, Buy Blog Reviews menjadi program lain yang membingungkan saya. Kalau di Google AdSense saya masih belum bisa mendongkrak pendapatan sekaligus belum pernah menerima cek sejak pertama kali mendaftar hampir 2 tahun lalu, maka di BBB (Buy Blog Reviews maksudnya) saya juga belum pernah terima bayaran. Padahal saya sudah join program paid review ini selama setahun lebih.

Terakhir kali melongok ke member area, catatan earning saya baru menyentuh angka $2.85. Koq kecil sekali? Jelas saja kecil, lha wong saya cuma dapat bonus referensi dari sekitar 30-an referal yang saya punya. Tentu ceritanya bakal lain kalau saya juga dapat job menulis review. Tapi persoalannya saya belum pernah sekalipun memperoleh job review dari Buy Blog Reviews. Hebat!



Entah apa yang salah. Padahal setiap ada email pemberitahuan kalau di Buy Blog Reviews terdapat opportunity baru saya langsung login dan melakukan penawaran (bidding). Tapi ritual itu berhenti hanya sampai di sana saja. Belum pernah sekalipun saya menerima email pemberitahuan kalau penawaran (bid) saya menang. Alhasil, saya pun tidak pernah menggarap job review dari broker paid review yang satu ini.

Untungnya saya masih bisa mengandalkan Blogsvertise dan SponsoredReviews. Dari kedua broker inilah saya memperoleh job-job review yang terkadang saya publish di blog ini (maaf ya...). Dan praktis hanya dari dua broker inilah penghasilan paid review saya berasal. Selain Buy Blog Reviews yang masih sulit saya pahami, ReviewMe dan PayPerPost sampai sekarang juga tidak mau meng-approve blog-blog yang saya daftarkan. Padahal stats-nya jauh lebih baik dari saat saya daftarkan pertama kali beberapa bulan lalu.

Ya sudahlah, mungkin saya memang tidak berjodoh dengan Buy Blog Reviews. Lagipula kalau diperhatikan nilai bayarannya juga kecil-kecil. Bahkan ada beberapa advertiser yang tega memberi harga di bawah $5/review. Tak heran bila broker satu ini terlihat kurang peminat. Indikasinya, earning saya dari referal lama sekali naiknya. Padahal 30-an referal seharusnya sudah cukup lumayan untuk mendongkrak penghasilan pasif dari situs ini.

Btw, Anda punya pengalaman lain dengan Buy Blog Reviews? Bagi-bagi ceritanya dunks...

Senin, 04 Mei 2009

EkoNurhuda.com Digebuk Google

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : EkoNurhuda.com Digebuk Google
Link Tittle : EkoNurhuda.com Digebuk Google

lihat juga


Setelah sekian lama dinanungi keberuntungan, akhirnya saya kena 'getah' juga dari hobi bermain paid review. Ya, apalagi kalau bukan digebuk Google alias pagerank blog ini dipangkas. Berapa? Tidak tanggung-tanggung, dari PR3 langsung dibabat habis jadi PR0. Gila! Kaget betul saya waktu melihat banner mypagerank.net yang terletak di footer. Awalnya saya tidak percaya. Tapi setelah cross-check ke DigPagerank.com koq ternyata memang benar-benar sudah jadi 0.

Saya sadar, terlalu banyak memasukkan paid review di blog ini memang sangat besar resikonya. Masih beruntung saya baru dibabat sekarang. Artinya, saya masih sempat menuai hasil paid review dari blog ini. Setelah hampir 2,5 tahun berjalan, akhirnya kena juga saya digebuk. Dasar nasib. :)

Kalau dipikir-pikir sayang juga dari PR3 langsung turun jadi PR0. Dengan begini tentu saja penghasilan saya dari paid review akan sangat berkurang. Sebab selama ini blog inilah yang jadi andalan saya dan paling sering menerima job review. Kalau PR-nya 0, siapa yang mau menerima blog ini? Saya yakin tidak ada.

Itu baru dari paid review. Efek lain, 'proyek' jualan link juga jadi terhambat. Padahal baru kemarin saya menerima earning pertama dari jualan link underground. Banyaknya backlink, hits, dan trafik natural dari search engine menjadi nilai plus blog ini. Tapi setelah PR-nya anjlok, saya tidak yakin masih ada advertiser yang mau memasang iklan dalam bentuk link di sini. Apalah arti backlink dan trafik kalau PR-nya 0?

Ya sudahlah, saya tidak boleh bersedih hati hanya karena pagerank anjlok. Kalau mau mengambil sisi positif, dengan anjloknya PR saya tidak lagi menyisipi paid review di blog ini. Artinya, para pelanggan RSS feed blog ini tidak lagi merasa terganggu. Jadi yang akan diterima pelanggan hanya benar-benar posting dari saya untuk pembaca, bukan untuk advertiser. Harapannya, mudah-mudahan tanpa sisipan paid review pelanggan RSS feed blog ini bisa melonjak. Tidak perlu sampai 1000 pelanggan seperti punya Mas Medhy. Bisa menembus angka 500 pelanggan saja di akhir tahun ini sudah merupakan sebuah berkah bagi saya. Amin. :))

* Gambar ilustrasi saya ambil dari Google Image. Entah siapa pemilik aslinya, soalnya saya pertama kali melihat gambar tersebut jadi cover ebooknya Denny Ardian. Lha, tadi di Google Image ada beberapa situs lain yang memajang gambar itu.

Minggu, 26 April 2009

Wartawan Otomotif atau Wartawan Amplop?

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Wartawan Otomotif atau Wartawan Amplop?
Link Tittle : Wartawan Otomotif atau Wartawan Amplop?

lihat juga


Saya sama sekali tidak tahu masalah motor. Jangankan mengotak-atik, bisa naik motor dengan baik dan benar saja baru beberapa tahun ini. Tepatnya setelah dapat failitas motor dari orang tua dan kemudian membeli motor sendiri beberapa saat sesudahnya. Artinya, saya ini awam sekali dalam dunia permotoran. Tapi 3 minggu terakhir magang di Harian Jogja, saya sudah seperti wartawan otomotif saja. Lho, koq bisa?

Ceritanya begini. Entah kebetulan atau tidak, selama 2 edisi terakhir Harian Jogja Minggu saya kebagian tugas liputan sepeda motor terus. Minggu tanggal 12 April 2009 saya menurunkan tulisan tentang Kawasaki KLX 150S di rubrik 'Otomotif' halaman 21. Lalu seminggu setelahnya saya menulis tentang Honda Absolute Revo 110cc di halaman yang sama. Nah, dalam rapat hari Kamis pekan lalu saya kebagian meliput Suzuki SkyDrive Dynamatic 125cc yang rencananya akan dimuat hari Minggu (26/4) ini.

Dasar tidak tahu-menahu masalah motor, saat bertemu narasumber saya jadi orang super blo'on. Semua hal saya tanyakan meskipun sebenarnya ada di brosur. :) Terkadang juga keluar pertanyaan-pertanyaan tidak penting yang setelah saya utarakan membuat wajah saya jadi merah padam karena malu. Hehehe... Untung, meskipun menjadi penjual ternyata tidak semua narasumber yang saya temui di kantor agen-agen motor Jogja mengerti seluk-beluk dagangannya.

Seperti salah seorang narasumber yang saya temui saat liputan motor Honda Absolute Revo 110cc. Jabatannya lumayan tinggi di struktur organisasi kantor itu. Namun ternyata ia sempat 'berkeringat' juga waktu saya tanya yang agak aneh-aneh, seperti 1 liter bensin bisa untuk berapa kilometer? Si narasumber ini selama wawancara hanya membacakan brosur. Jadi saya agak bingung juga mau mengorek-korek lebih dalam (padahal aslinya saya yang bingung mau tanya apa).

Yang lebih 'aneh' lagi ya waktu menemui seorang manajer di kantor pemasaran salah satu merek motor pabrikan Jepang yang terletak di Jl. Magelang (maaf, identitasnya harus saya sembunyikan rapat-rapat). Pas saya wawancara dia hanya menunjukkan brosur dan manual guide produk. Begitu saya ajukan pertanyaan, dia bilang sudah ada di manual guide dan brosur. Terus, begitu saya tanya hal-hal teknis dia bilang tidak perlu ditulis. Dia malah terkesan mendikte saya untuk menulis beberapa hal yang menjadi kelebihan produknya.

Ada yang tidak beres? Jelas! Begitu pamit pulang saya disuruh menemui salah seorang stafnya. Saya menurut karena pikir saya mungkin si staf itu akan memberikan keterangan tambahan. Ternyata, eh, ternyata dugaan saya salah, Saudara-saudara. Begitu saya ketemu staf tersebut dia senyum-senyum sambil basa-basi sebentar. Kemudian tanpa banyak kata dia menyalami saya. Bukan salaman biasa karena di tangannya terselip amplop untuk saya. Walah...!

Tentu saja saya jadi serba salah. Refleks saya tarik tangan saya sehingga kami tidak jadi salaman. Kemudian saya memundurkan badan. Tapi staf itu mengejar dan akhirnya berhasil memasukkan amplop ke kantong kemeja saya. Duh, jadi beban nih. Tak mau menarik perhatian orang-orang yang ada di ruangan itu, sayapun membiarkan amplop tersebut di kantong dan pamit pulang.

Saya jadi wartawan amplop? Maaf, meski baru berstatus wartawan magang saya tahu etika profesi ini. Amplop adalah hal tabu bagi wartawan yang punya hati nurani. Karena sedikit-banyak amplop dapat mempengaruhi obyektifitas si wartawan. Tapi koq saya terima? Tenang. Saya hanya menahan amplop itu untuk sementara waktu koq. Bila sudah tiba saatnya saya akan mengembalikannya pada si pemberi, plus beberapa 'hadiah' tambahan dari saya. Apa rencananya? Biar jadi rahasia saya. Hehehe...

Setinggi-tingginya nilai uang dalam amplop seperti itu, sepengetahuan saya dari hasil ngobrol-ngobrol dengan teman kampus AKY Babarsari yang sudah kerja di media, paling-paling cuma Rp 50.000. Duh, koq cuma segitu? Padahal sekali menulis review saya bisa dapat $10 alias Rp 100.000. So, itulah sebabnya saya justru akan memberikan sejumlah hadiah saat mengembalikan amplop tersebut ke pemberinya. :))

Sabtu, 04 April 2009

Awas, Copy Cat di Mana-mana..!

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Awas, Copy Cat di Mana-mana..!
Link Tittle : Awas, Copy Cat di Mana-mana..!

lihat juga


Dua hari tidak membuka email yang Gmail, saya jadi ketinggalan sebuah info penting dari Kang Munawar. Setelah menjadi guest blogger blog ini dengan artikel berjudul "5 Tips untuk Guest Blogger", Kang Nawar memberi tahu saya kalau ternyata artikel tersebut dikopi mentah-mentah setelah di-publish di sini. Gila! :(

Awalnya saya tidak membaca gelagat apa-apa, lha wong Kang Nawar memberi judul emailnya itu "Ini Blog Sampaian..?" Setelah saya buka barulah saya tahu apa yang terjadi. Artikel Kang Nawar yang dikirimkan dalam rangka guest blogging di blog ini dikopi oleh seorang blogger tak bertanggungjawab. Sialnya, si tukang kopi itu nama depannya juga Eko. Entah asli atau rekayasa, blogger itu bernama Eko Novianto.



Lihat saja screenshot di atas. Artikel tersebut dikopi persis sama, bahkan 100% mirip sekali dengan posting yang di blog ini. Susunan paragraf, besar-kecil dan tebal-tipis kata, bahkan kredit dan link-link (juga inbound link) yang saya berikan untuk Kang Nawar selaku penulis asli juga dikopi. Kalau mau lebih jelas silakan baca sendiri di sini.

Lho, seharusnya kan tidak masalah karena ada link-nya dan aktif? Masalahnya bukan itu. Memang semua link ada lengkap seperti aslinya dan aktif. Tapi dengan perbuatannya itu dia telah membuat kesan kalau artikel tersebut dikirimkan Kang Nawar untuk blog itu, padahal sebenarnya kan dikopi dari sini? Kalau dia berniat baik dan tahu etika, tentunya diberi keterangan di mana dia mengambil artikel tersebut. Ternyata kan tidak?

Ini bukan pengalaman pertama saya menjadi korban kopi-paste. Sudah sering. Sebelum ini ada seorang blogger yang cukup terkenal mengkopi artikel saya yang berjudul "Mengenal Liew Cheon Fong, Fulltime Blogger Pertama Malaysia". Lihat saja kopiannya di sini dan screenshot berikut:



Sopannya, si blogger beken itu menambahkan 3 kata pada judul dan juga memberikan 2 paragraf penutup yang ia buat sendiri sebagai tambahan. Di akhir posting ia menuliskan "Sumber Inspirasi: Mas Eko Nur Huda". Tapi tidak sopannya, tidak ada satupun link ke alamat URL posting yang ia kopi. Ia hanya memberikan link ke blog ini, yakni http://www.ekonurhuda.com saja. Padahal seharusnya kan http://www.ekonurhuda.com/2008/10/mengenal-liew-cheon-fong-fulltime.html.

Saya mungkin benar waktu mengatakan bahwa blogger tidak kalah hebat dalam menulis dibanding para kolumnis koran. Karena itu blogger seharusnya tidak boleh diremehkan. Tapi perbedaannya, menjadi penulis bagus di blogosphere sangat beresiko jadi korban kopi-paste. Jadi, waspadalah, waspadalah..!

Jumat, 03 April 2009

Steak Gratis, Mau?

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Steak Gratis, Mau?
Link Tittle : Steak Gratis, Mau?

lihat juga


Dalam buku "Enaknya Wartawan Olahraga", Sumohadi Marsis menceritakan betapa asyiknya menjadi seorang wartawan olahraga. Mantan pentolan Tabloid BOLA itu sudah berkeliling ke puluhan negara secara gratis. Ia juga sudah pernah menonton pertandingan-pertandingan akbar seperti Liga Champion Eropa, Piala Eropa, bahkan Piala Dunia. Semua itu ia dapatkan dengan gratis karena ditugaskan kantornya. Enak ya?

Selama magang di Harian Jogja, saya juga sudah mulai merasakan enaknya jadi wartawan. Kejadian paling gres kemarin siang (2/4), waktu saya diberi tugas liputan ke sebuah restoran steak di Jl. Taman Siswa. Ceritanya koran tempat saya magang ini hendak mengangkat soal steak di rubrik "Kuliner" edisi Minggu besok. Karena ada banyak restoran steak di Jogja, maka kru yang menangani edisi Minggu dipecah ke tiga restoran steak terkemuka. Saya kebagian yang di Jl. Taman Siswa itu.

Ini kali pertama saya liputan tentang kuliner untuk Harian Jogja. Dan, jujur banget nih, ini juga jadi kunjungan pertama saya ke restoran steak. Saya itu paling tidak suka makan di tempat-tempat seperti itu. Maklum deh, kantongnya masih tipis. Penghasilannya masih kembang-kempis tak tentu arah. Kan saya terdaftar sebagai anggota KPK alias Komunitas Publisher Kere? Hehehe...

Saya janjian ketemu dengan manajer resto tersebut sekitar jam 12. Tapi tidak benar-benar jam 12 sih, soalnya kami (tanpa sengaja) sama-sama berangkat ke tempat janjian setelah sholat dhuhur. Jadi ya begitu sampai sudah jam 12 lewat. Kebetulan saya datang lebih dulu, jadi sempat bengong dulu di resto yang sederhana tapi ramai itu.

Setelah menunggu beberapa saat, Pak Manajer akhirnya datang juga. Kami bersalaman, berbasa-basi sebentar di tempat saya duduk, kemudian Pak Manajer tersebut mengajak saya ke ruangan dalam. Bukan ruangan manajer yang full ac dan sejuk lho. Tapi ruangan yang sebenarnya juga berfungsi untuk menerima pelanggan. Berhubung siang itu pengunjung tidak terlalu ramai, ruangan tersebut kosong. Di sanalah kami ngobrol-ngobrol tentang steak dan terutama sekali menu-menu yang dijual di resto itu.

Seumur-umur, saya cuma sekali makan steak. Itupun sudah lama sekali, sekitar tahun 2001 saat kelas table manner di pendidikan pariwisata yang pernah saya ikuti. Setelahnya saya tak pernah lagi makan steak. Artinya, saya benar-benar buta tentang steak. Alhasil, siang itu sempat kedodoran juga saya mau tanya apa. Improvisasi sedikit plus modal muka tembok, akhirnya sukses deh membuat Pak Manajer yang ramah itu bercerita panjang-lebar tentang menu steak yang ada di restorannya. :)

Kurang-lebih satu jam kemudian obrolan selesai. Saya lalu minta ijin memotret steak sebagai gambar pelengkap. Bayangan saya sih saya bakal memotret steak yang hendak dihidangkan ke konsumen karena memang saya juga bilangnya begitu. Eh, lha koq ternyata Pak Manajer itu meminta tolong bawahannya untuk membuatkan satu porsi beef steak khusus untuk saya. Bukan itu saja, segelas milkshake vanilla juga dihidangkan sebagai pasangannya. Walah...

So, jadilah saya makan siang dengan menu beef steak dan milkshake vanilla gratis. Mau? Nih, saya kasih gambarnya saja. :)




Catatan: Sebenarnya cerita ini mau saya tulis semalam. Tapi berhubung saya ngantuk sekali setelah pulang dari kantor Harian Jogja, jadi baru sempat diposting sekarang sambil menunggu hujan berhenti. :)

Selasa, 24 Maret 2009

Ternyata Eko itu Benar-benar Nama Pasaran...

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Ternyata Eko itu Benar-benar Nama Pasaran...
Link Tittle : Ternyata Eko itu Benar-benar Nama Pasaran...

lihat juga


Masih ingat cerita saya tentang betapa pasarannya nama Eko? Buat yang belum membaca, silakan deh baca dulu dan temukan betapa banyaknya si Eko Nurhuda ini bertemu dengan sesama pemilik nama Eko sejak dari masa kecilnya hingga sekarang. Nah, kejadian Senin (23/3) sore kemarin di halaman kantor Harian Jogja mungkin bisa jadi pelengkap cerita sekaligus fakta betapa banyaknya pemilik nama Eko itu.

Ceritanya, sebagai syarat untuk lulus dari Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY), maka saya harus menempuh praktek kerja lapangan (PKL) alias magang kerja. Entah mengapa, sejak awal saya sudah niat ingin magang di Harian Jogja atau biasa disingkat Harjo. Ternyata, eh, ternyata, pihak Harjo menerima saya dengan tangan terbuka. Jadilah saya magang di sana terhitung sejak kemarin itu. Karena itulah saya kemudian sampai ke kantornya Harjo yang terletak di Jl. MT Haryono, dekat Plengkung Gading.

Hari pertama magang hanya diisi dengan pengarahan dari Pemimpin Redaksi (Pemred), Wapemred, dan Redaktur Harjo Minggu di mana saya bakal ditempatkan. Terus, namanya juga orang baru, sayapun berusaha bersosialisasi dengan kru Harjo yang lain, terutama yang se-desk dengan saya. Yah, pake jurus SKSD alias sok kenal sok dekat deh. Untungnya semua kru Harjo yang saya temui ramah-ramah, jadinya saya tidak kesulitan berbaur. Sepertinya saya langsung merasa betah di sana. :)

Setelah pengarahan dari para "petinggi" redaksi selesai, saya keluar menemui bagian HRD dan kesekretariatan untuk keperluan administrasi. Maksudnya pendataan anggota baru. Meskipun statusnya cuma reporter magang, tetap saja harus didata sebagai arsip. Entah kebetulan atau tidak, setelah acara di meja sekretariat redaksi selesai saya bertemu dengan salah satu kru Harjo Minggu, yakni Heru Lesmana. Ternyata kami seumuran dan sama-sama dari Sumatera. Jadi deh kita ngobrol. Mulanya kami ngobrol di atas, di ruang redaksi. Beberapa saat kemudian Heru mengajak saya turun dan ngobrol di bawah. Sayapun ikut karena memang mau sekalian pulang.

Sampai di bawah, Heru mengajak keluar ke angkringan yang berada tepat di depan kantor Harjo. Nah, di halaman parkir saya diperkenalkan dengan satpam Harjo yang sedang berjaga. Kejadian lucupun terjadi waktu kami saling memperkenalkan diri. Saya yang merasa lebih muda dari si bapak satpam langsung menyebutkan nama, "Eko, Pak." Eh, lha koq si bapak tersenyum lalu menjawab, "Sama." Koq namanya sama sih? Usut punya usut, rupanya si bapak satpam Harjo itu juga bernama Eko. Walah, tambah satu lagi deh anggota komunitas Eko. :)

Jauh sebelum pertemuan dengan Pak Eko itu, saya sebenarnya sudah lama merasa sebal setiap kali berada di kos. Apalagi waktu bapak kos mengabsen seluruh penghuni setiap habis azan. Penyebabnya? Apalagi kalau bukan karena ada penghuni baru bernama Eko. Oh, my God!

Jumat, 13 Maret 2009

Cerita dari Sungai Bahar

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Cerita dari Sungai Bahar
Link Tittle : Cerita dari Sungai Bahar

lihat juga


Inilah resiko jadi perantau: repot pulang kampung! Terlebih untuk perantau lintas pulau seperti saya ini. Jarak Jogja-Jambi yang lebih dari 1000 kilometer membuat saya mesti melakoni perjalanan tidak ringan setiap kali hendak pulang kampung. Kalau lewat jalan darat, badan yang pegal-pegal karena harus duduk di bis selama 36 jam, terkadang bahkan lebih. Kalau lewat jalan udara memang waktunya jadi singkat, paling banter 2 jam. Tapi kantong yang capek. Maklum, saya kan anggota KPK (Komunitas Publisher Kere).

Nah, sewaktu pulang kampung akhir bulan kemarin perjalanan jadi tambah panjang karena saya mesti mampir Pemalang. Sebenarnya satu arah sih. Bisa saja saya berangkat dari Jogja terus mampir Pemalang dan baru bablas ke Jambi. Tapi karena ada masalah dengan pembiayaan, akhirnya waktu berangkat saya mesti bolak-balik dulu. Jogja-Pemalang untuk jemput tunangan, baru kemudian berangkat ke Jambi dari Jogja. Pulangnya baru asyik. Dari Jambi mampir ke Pemalang, terus dilanjutkan perjalanan Pemalang-Jambi dengan travel andalan saya, Rama Sakti.

Benar kata pepatah, manusia berencana Tuhan menentukan. Menjelang berangkat ke Jambi saya sudah berencana untuk sekaligus melakukan beberapa liputan. Selain dapat penugasan dari Pemred SKM Malioboro Ekspres, saya juga pengen menulis beberapa feature tentang orang-orang trans di Kecamatan Sungai Bahar, Muaro Jambi. Tepatnya kisah keberhasilan para transmigran dari Jogja di Desa Talang Bukit alias Sungai Bahar VI tempat saya tinggal. Plus, kalau bisa tulisan tentang Suku Anak Dalam dan kebudayaan mereka. Apa lacur, semua rencana jadi berantakan karena kondisi yang saya temui di lapangan jauh dari bayangan.

Begitu sampai di Jambi hari Minggu (1/3), ternyata kami (saya, tunangan, dan adik) secara tak sengaja datang berbarengan dengan rombongan paman dari Metro, Lampung, dan calon pengantin pria dari Batam. Rombongan paman naik bis dan sampai sekitar pukul 10, disusul calon adik ipar saya yang naik pesawat. Rombongan saya datang terakhir. Tapi berhubung yang menjemput hanya satu mobil, jadilah ketiga rombongan harus saling menunggu sampai semuanya dijemput sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan tambahan menuju rumah selama kurang-lebih 2 jam lagi.

Sampai di rumah ternyata sudah ramai sekali oleh ibu-ibu dan bapak-bapak yang rewang (membantu memasak dan mempersiapkan semua keperluan acara). Benar-benar suasana yang sangat tidak kondusif bagi saya yang paling tidak suka keramaian dan kebisingan. Ditambah lagi semua keluarga baik dari pihak Ibu maupun Bapak berdatangan. Rombongan keluarga dari pihak Ibu yang semuanya tinggal di Batumarta, OKU Timur, sejumlah 4 mobil plus 1 truk berisi perlengkapan organ tunggal. Lalu rombongan dari pihak Bapak berjumlah 2 mobil, merupakan kontingen campuran dari Pendopo, Palembang, dan Sungai Lilin, MUBA. Hmmm, rumah yang tak seberapa besar itupun jadi terasa sumpek. Untung saja rombongan besan yang terdiri dari 3 keluarga diinapkan di rumah tetangga. Kalau tidak... :(

Hal ini berlangsung sampai tanggal 6 atau H+2, meskipun tingkat keramaiannya tidak seperti menjelang hari H. Alhasil, saya sama sekali tidak bisa memegang pena. Keluar untuk liputan juga tidak bisa. Sekali-kalinya saya keluar rumah seaktu disuruh ke... pasar! Sebenarnya yang disuruh belanja tunangan saya, tapi mau tidak mau saya kan mesti ikut mengantar karena dia tidak tahu pasarnya di mana. Keluar yang kedua kali ya sewaktu mau pulang ke Jawa. Yah, bukan salah bunda mengandung, tapi salah bapak punya burung. Hehehe... Maksudnya, memang dasar momennya saja yang tidak pas. Jadinya sayapun balik ke Jawa dengan tangan hampa. Entahlah, besok sewaktu rapat redaksi apa yang akan saya jadikan alasan ke Pemred tentang kegagalan saya ini.

Untung saja begitu sampai di Jogja saya disambut beberapa berita baik. Yang pertama, untuk pertama kalinya saya mendapat komisi dari KumpulBlogger. Berapa? Rp 50.000 saja. :) Berita baik lainnya, saldo PayPal saya pelan-pelan sudah mulai terisi lagi. Ask2Link dan Blogsvertise jadi dua kontributor terbesar, disusul dengan SponsoredReviews yang akhir-akhir ini memang kurang bersahabat dengan saya. Anyway, itulah rejeki. Banyak-sedikit tetap harus disyukuri. Iya nggak sih?

Kamis, 26 Februari 2009

Susahnya Pulang Kampung

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Susahnya Pulang Kampung
Link Tittle : Susahnya Pulang Kampung

lihat juga


Jum'at (27/2) sore besok rencananya saya mau pulang kampung ke Jambi. Kenapa pulang? Ceritanya adik cewek saya satu-satunya mau nikah tanggal 4 Maret, so saya harus pulang. Selain itu, saya juga punya misi lain. Apa itu? memperkenalkan tunangan saya kepada seluruh keluarga besar yang bakal kumpul semua saat pernikahan adik saya itu. Kalau kata pepatah sih sekali tepuk dua lalat.

Nah, rencana awal kami bertiga pengen naik pesawat. Kalau jadi rutenya Jogja-Jakarta, terus transit di Jakarta dan lanjut Jakarta-Jambi. Ini bukan karena banyak duit atau karena gaya-gayaan lho, tapi murni untuk menghemat waktu. Soalnya adik saya harus bolos kuliah, dan tunangan saya juga bolos ngajar. Jadi pesawat dipilih supaya bolosnya tidak terlalu lama. Tapi ternyata ceritanya jadi lain. :(

Dasar blogger kere, cuma beli motor Honda Astrea Grand second saja tabungan saya sudah amblas. Ada sih sisanya, cuma duit yang tidak seberapa itu habis untuk operasional sehari-hari. Kondisi diperparah dengan tidak adanya subsidi dari orang tua selama dua bulan! Ya, saya tidak malu-malu mengatakan kalau saya masih disubsidi sama orang tua selama kuliah. Jadi bisa dibayangkan kan berapa sih sebenarnya penghasilan online saya?

Nah, awal Februari adik saya sudah pesan 3 tiket Batavia Air untuk keberangkatan tanggal 28 Februari. Sengaja booking jauh-jauh hari supaya harganya lebih murah (kata yang sering naik pesawat sih begitu). So, tiket Jogja-Jambi transit di Jakarta untuk 3 orang totalnya Rp 1,7 juta. Apes, duit saya waktu itu cuma ada kurang dari 200 ribu di ATM Niaga (yang khusus untuk penghasilan online), sedangkan di ATM BNI (khusus buat menampung kiriman dari rumah) malah cuma Rp 18.000. Adik saya juga tidak punya uang, terus tunangan saya jauh di sana. Lagipula mau pinjam saya malu.

Sama travel agent tempat adik saya reservasi tiket dikasih tenggang waktu 5 hari untuk melunasi. Saya coba cek ke PayPal, saldonya cuma $13. Tidak cukup! Terus saya beranikan diri bilang ke tunangan, dia bilang ada Rp 600 ribu. Lumayanlah. Giliran saya tanya adik, dia bilang tidak ada uang. Saya sendiri? Benar-benar buntu! Mau meggadaikan motor mana laku? Lagipula motornya masih diservis. Diam-diam saya jadi menyesal beli motor. Soalnya kalau saja saya belum beli motor pasti tidak akan pusing-pusing memikir ongkos.

Ya sudah, akhirnya tenggat waktu habis dan booking-nya dianggap hangus. Untungnya adik saya tidak keluar uang sama sekali waktu booking (orang memang dia tidak punya uang koq). Tunggu ditunggu, masuk tanggal 20-an barulah PayPal saya bertambah meski tidak terlalu banyak. Di saat bersamaan adik saya dapat kiriman dari rumah, dan saya juga dikirim walaupun jumlahnya lebih kecil dari biasanya. Saya dengan adik lantas berembug. Keputusannya, kami pulang naik bis dengan resiko bisa tertahan lebih lama di penyeberangan Merak-Bakaheuni karena gelombang Selat Sunda sedang tinggi-tingginya (kata berita lho).

So, sesuai rencana kami akan berangkat besok sore dari Terminal Jombor dengan menumpang bis Ramayana. Bis eksekutif itu biasanya membuat saya kedinginan kalau malam datang. Apalagi sekarang musim hujan. Tapi berhubung besok sama tunangan, sepertinya saya tidak akan kedinginan lagi deh. Hahaha....
(to be continued....)

Mudah-mudahan saya bisa menyempatkan diri untuk menemui rekan-rekan blogger Jambi. Terutama si juragan VCC, Putra Eka alias Paman Gober. Tunggu saja laporan saya dari Jambi. :)

Senin, 02 Februari 2009

Saya Ingin Berubah, Minta Sarannya Dong...

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Saya Ingin Berubah, Minta Sarannya Dong...
Link Tittle : Saya Ingin Berubah, Minta Sarannya Dong...

lihat juga


Setelah pada awal tahun lalu mengatakan kalau tidak akan melakukan perubahan kecuali tampilan (layout) blog, seiring waktu berjalan koq saya jadi berubah pikiran ya? :)) Terutama setelah saya magang di SKM Malioboro Ekspres. Dan kelak, kalau jadi, saya juga bakal magang lagi di sebuah harian lokal di Jogja (jadi bakal dobel magangnya). Tapi nama medianya masih rahasia ya.

Nah, perubahan yang saya usung tak akan jauh-jauh dari dunia saya yang sekarang. Maksudnya, dunia saya di alam nyata alias lingkungan offline. Sebagai mahasiswa jurnalistik dan menaruh keinginan besar untuk bisa menjadi seorang jurnalis, saya berpikir untuk mengubah 'haluan' blog ini dari tema-tema make money dan blogging menjadi tema-tema lain yang sedang saya pikirkan. Ada banyak tema yang masih saya pertimbangkan, namun pada ujungnya blog ini akan saya jadikan sebagai sebuah lahan citizen journalism bagi saya.

Apa itu citizen journalism? Pengertian gampangnya, citizen journalism adalah kegiatan jurnalistik yang dilakukan oleh warga biasa. Jadi, Anda dan saya sebagai masyarakat biasa dapat berperan sebagai jurnalis yang melaporkan berbagai peristiwa di sekitar kita kepada siapa saja. Berkaitan dengan rencana saya, maka saya akan bertindak sebagai seorang citizen journalist (jurnalis warga) yang akan melaporkan berbagai peristiwa dan kejadian di sekitar saya tinggal, dan umumnya kota Jogja. Tentu tak cuma laporan saja. Sebagai blogger saya juga akan memberikan semacam analisis dan komentar atas peristiwa yang saya laporkan.

Kenapa saya berpikiran begitu? Alasan pertama dan terutama tentu saja agar ada keselarasan antara kegiatan saya di dunia offline (sebagai mahasiswa jurnalistik yang magang di sebuah media cetak) dengan aktivitas saya di dunia maya (sebagai blogger yang harus senantiasa meng-update blog). Saya tidak mau kehilangan kesempatan untuk mencari pengalaman di lapangan praktis dunia jurnalistik, tapi saya juga tidak mau menelantarkan blog yang sudah memberi 1 unit komputer, 1 modem, 1 sepeda motor, tambahan uang jajan yang cukup, dan segudang teman pada saya ini. So, saya rasa jalan tengah inilah yang harus saya ambil agar keduanya bisa berjalan beriringan.

Btw, ini masih rencana kasar koq. Artinya masih bisa berubah-ubah dan belum final. Untuk itu saya minta saran dan masukan dari teman-teman mengenai hal ini. Saya akan mengambil keputusan setelah membaca saran dan masukan teman-teman di kolom komentar. Kalau dipikir-pikir sebenarnya aneh ya? Mau berubah koq pake minta saran segala. Tapi itulah saya. Hahaha...

Sabtu, 31 Januari 2009

Kalau Rejeki Takkan Lari

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Kalau Rejeki Takkan Lari
Link Tittle : Kalau Rejeki Takkan Lari

lihat juga


Konon, rejeki itu seperti bayangan. Kalau kita diam rejeki tak akan datang, tapi kalau kita kejar dia juga ikut berlari. Pada akhirnya, semua tergantung konsistensi dan kegigihan kita dalam mengejar si rejeki. Kalau kita mandeg di tengah jalan, alamat rejeki tak bakal bisa diraih. Sebaliknya, kalau kita terus ngotot dan ngeyel, insya Allah rejeki bakal menghampiri.

Kurang-lebih inilah yang saya alami dalam berburu motor belum lama ini. Berhubung budget-nya amat sangat terbatas (maklum, blogger kere), maka saya cari motor jadul. Itupun second pula. Lagipula mana ada sih motor jadul yang masih baru? Hehehe... Nah, guna menekan agar biaya yang dikeluarkan tak melebihi budget, sayapun berburu motor ke Jakarta. Bukan saya yang pergi ke Jakarta lho, tapi lewat bantuan seorang teman yang adik iparnya buka showroom motor bekas di Jakarta. Dan berhubung saya sama sekali buta soal motor, saya serahkan urusan ini sepenuhnya pada si teman.

Dari awal teman saya mengincar Honda Grand. Kata teman saya mesin motor jenis ini terkenal bandel. Lagipula kata dia beli Honda Grand sama dengan beli emas karena harganya akan terus naik meski umurnya semakin tua. Saya manut saja. Alhamdulillah, koq kebetulan sekali motor yang diincar ada. Sayang, karena terjadi miskomunikasi antara saya dan si teman, motor tersebut terlebih dulu diambil orang. Nasib...

Kamipun menunggu kesempatan kedua datang. Sayang disayang, kami harus bersabar untuk waktu yang lama karena ternyata adik ipar teman saya tak juga mendapat Honda Grand. Ujung-ujungnya teman saya berubah pikiran. Kamipun sepakat mengambil jenis lain dan tak harus Honda Grand. Kebetulan pula adik ipar teman saya sudah punya dua stok yang tak kalah bagus, Honda Star dan Honda Prima. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya pilihan jatuh pada Honda Prima. Uang saya tranfer dan motor lantas dititipkan ke perusahaan jasa pengiriman barang untuk dikirim ke Jogja.

Eh, koq ndilalah sampai 4 hari motor tersebut belum juga sampai di Jogja. Teman saya jadi bingung karena biasanya sehari sudah sampai. Alasan dari pihak jasa pengiriman, banjir di Jakarta membuat jadwal mereka kacau balau. Akibatnya motor yang saya pesan tak bisa langsung dikirim ke Jogja dan masih teronggok di gudang. Sialan, padahal saya sudah berangan-angan bakal punya motor sendiri dan tak perlu lagi mandi keringat saat ke kampus karena jalan kaki. Ternyata... :(

Kalau dulu di TVRI pernah ada sinetron berjudul "Sengsara Membawa Nikmat", maka pengalaman saya membeli motor sendiri untuk pertama kalinya ini juga bertema sama. Musibah banjir Jakarta yang menyebabkan keterlambatan pengiriman Honda Prima yang sudah saya bayar malah berbalik jadi berkah. Kenapa? Karena adik ipar teman saya menawarkan Honda Grand yang baru saja dia temukan. Jadi, Honda Prima-nya batal dikirim ke Jogja dan dijual ke orang lain, sementara saya dikirimi Honda Grand dengan sejumlah biaya tambahan. Kebetulan sekali Honda Prima tersebut sudah ada peminatnya. Kloplah sudah.

Begitulah. Kamis (29/1) kemarin motor tersebut tiba di Stasiun Tugu dengan menggunakan jasa Herona Ekspres. Sorenya langsung deh kami bongkar-bongkar untuk mengecek kondisinya. Alhamdulillah, untuk ukuran motor keluaran tahun 1993 secara umum kondisinya masih sangat bagus. Tebtu saja saya masih harus mengeluarkan dana tambahan untuk mengganti beberapa komponen yang sudah aus atau rusak. Namanya juga motor tua. Meski begitu saya senang sekali karena motor tersebut membuat iri teman-teman kos sesama pemakai motor jadul, bahkan para "pakar" motor kenalan teman saya. Mereka kompak bilang kalau saya beruntung bisa dapat motor tersebut dengan harga semurah itu. Saya yang tidak tahu-menahu tentang motor ini cuma bisa senyum-senyum saja menanggapinya.

Itulah, kalau memang sudah rejeki tak akan lari koq. Iya kan?

Sabtu, 17 Januari 2009

Maaf, Saya (Sok) Sibuk

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Maaf, Saya (Sok) Sibuk
Link Tittle : Maaf, Saya (Sok) Sibuk

lihat juga


Setelah mengkritik Mas Cosa yang sudah lamaaaaaaa sekali tidak update blog-nya, lha koq malah saya yang kemudian ketularan. Terakhir update tanggal 9 Desember, berarti sudah lebih seminggu saya tidak menelurkan tulisan terbaru di blog saya tercinta ini. Ada apa sih? Tidak ada apa-apa, hanya sedikit perubahan ritme akibat fokus saya yang terbagi untuk magang di Malioboro Ekspres (ME).

Di ME saya memang hanya magang iseng. Artinya, sewaktu-waktu saya tinggalpun sebenarnya tidak jadi masalah. Apalagi saya masih harus mencari satu tempat magang lain yang lebih bonafit untuk kepentingan Tugas Akhir (TA). Tapi kesempatan besar di ME tidak boleh saya abaikan. Dengan ME saya bisa meretas jalan menuju ke dunia baru yang sesungguhnya sudah saya idam-idamkan sejak masih di SMP: menjadi jurnalis. So, sayang sekali kalau saya sampai keluar dari ME.

Memang, ME masih tergolong baru. Produksi dan peredarannyapun masih sangat terbatas. Jadi saya harus maklum kalau narasumber yang saya datangi selalu bertanya keheranan "Malioboro Ekspres? Koran apa itu?" sebelum bisa saya wawancarai. Toh, dengan ME saya jadi punya banyak pengalaman berharga plus kenalan baru yang akan sangat memudahkan kerja saya jika kelak benar-benar memutuskan untuk terjun sebagai seorang jurnalis.

Oke, sekarang tentang blog ini. Bagaimana bisa sampai seminggu lebih tidak di-update? Sampai-sampai Mas Ipung menanyakan kabar saya di posting sebelumnya, mungkin ia khawatir saya kenapa-napa yang menjadi halangan untuk meng-update blog. Terima kasih banyak atas perhatiannya, Mas Ipung. Saya sehat-sehat saja koq. Malah saya sering keliling-keliling Jogja untuk mencari bahan tulisan di ME. Dan rasanya kesibukan mencari bahan tulisan itulah yang bakal saya jadikan sebagai kambing hitam atas lamanya blog ini tidak di-update. Hehehe....

Ya, harus saya akui ritme di ME sangat mempengaruhi keluangan waktu saya akhir-akhir ini. Dengan intensitas kuliah yang semakin padat menjelang UAS, dan deadline setiap hari Jumat di ME, praktis saya hanya punya waktu sempit sekali untuk meng-update blog dan blogwalking. Sering saya pulang ke kost dalam keadaan letih dan ngantuk berat. Akhirnya, baru mendengarkan satu-dua lagu sambil menunggu Broom tersambung, sayanya sudah tertidur. Begitu bangun hari sudah terang dan saya harus kembali keluar, kuliah dan mencari bahan tulisan untuk ME lagi. Wow!

Oya, kenapa saya sampai begitu kedodoran sebenarnya masih ada satu faktor lain: karena saya belum punya kendaraan sendiri. Maklum, blogger kere. Kemana-mana ya ngebis sama nebeng teman. Hehehe... Padahal kalau punya kendaraan sendiri kan bisa lebih menghemat waktu, tenaga, sekaligus juga biaya. Iya kan? Sayang penghasilan saya dari blog justru kian turun dari bulan ke bulan, jadinya ya kaya gini deh. :(

Oops, koq malah berkeluh-kesah begini ya? Intinya, saya masih kelabakan dengan ritme dan kesibukan baru saya belakangan ini. Mudah-mudahan saja setelah motor jadul yang saya beli seharga Rp 4 juta sudah sampai di tangan, saya bisa punya banyak waktu luang. Amin.

Itu saja. Mohon dukungan semua teman-teman agar saya bisa membagi waktu dengan baik sehingga blog ini dapat saya upate secara teratur. Trims...

Kamis, 01 Januari 2009

Logo Baru di Tahun Baru

Curhat - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Curhat, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Logo Baru di Tahun Baru
Link Tittle : Logo Baru di Tahun Baru

lihat juga


1 Januari 2009, ini hari pertama di tahun 2009. Masih dalam suasana tahun baru, tapi saya tidak banyak melakukan perubahan untuk blog ini. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, saya sudah kapok gonta-ganti template. What a time-wasting activity! Padahal pengaruhnya tidak begitu besar bagi peningkatan trafik, apalagi kalau kontennya amburadul. Walah! Ya sudah, sayapun tidak menyambut tahun baru dengan template baru.

Eits, tapi koq sepertinya ada yang berubah ya? Yup, kalau Anda teliti pasti bakal melihat satu perubahan di bagian header. Hehehe, sebenarnya tidak perlu teliti juga bakal terlihat koq. Lha wong header kan bagian yang paling dulu muncul, masa iya tidak tahu kalau ada yang berubah? :)) Sebelumnya hanya ada tulisan besar "EkoNurhuda.com" plus deskripsi panjang "Write and Earn Money, That's What I'm Doing Online. What About You?" di sebelah kiri header dan di sebelah kanannya banner iklan ukuran 468x60. Kini, bagian kiri header saya persempit dan diisi dengan satu... logo baru!

Sebenarnya logo itu sudah saya buat sejak lama. Kira-kira sudah dua bulan yang lalu. Namun karena sengaja ingin memberi sentuhan perubahan di tahun 2009, maka logo tersebut tidak buru-buru saya pasang. Lay out header sebenarnya juga sudah lama saya otak-atik untuk mengakomodasi logo baru tersebut, tapi tentu saja bukan blog ini yang diobrak-abrik. saya buat satu blog khusus untuk mencoba tampilan header baru seperti yang terlihat sekarang ini. Setelah fix, template yang sudah diubah tadi saya simpan sampai akhirnya tahun 2009-pun datang.

Inilah satu-satunya perubahan tampilan yang saya lakukan di tahun baru ini. Ya, hanya logo baru dan banner iklan header yang ukurannya menjadi super jumbo, 728x90 pixel! Sayangnya belum ada yang berminat mem-booking space tersebut. Jadi, setelah kontesnya Bang Zalukhu selesai kemungkinan space tersebut saya isi dengan banner-banner promosi program afiliasi yang saya ikuti. Gede banget, sayang kalau sampai dibiarkan kosong melompong atau hanya dipasangi banner "Pasang iklan di sini!".

Btw, koq logonya tidak dijadikan kontes? Mungkin ada di antara teman-teman yang bertanya begitu. Sebenarnya niat itu ada. Tapi sudah keduluan Bang Zalukhu, jadinya ya saya batalkan saja. Apalagi saya keburu ditodong untuk jadi donatur di kontes dia. Hahaha... Tidak, tidak, saya hanya bercanda koq. Saya memang sengaja tidak membuat kontes. Kenapa? Saya takut diprotes seperti KapanLagi.com kalau sampai pengumumannya telat. Kalau semua blogger bilang saya scammer, walah bisa tamat deh karir saya di blogosphere. :))

Jangan serius membaca posting ini. Saya hanya bercanda lho. Poin yang serius cuma ini: EkoNurhuda.com kini memiliki logo baru dengan header baru pula. Itu saja. :)) Btw, SELAMAT TAHUN BARU 2009..!