Sabtu, 31 Januari 2009

Kalau Rejeki Takkan Lari

Kalau Rejeki Takkan Lari - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Kalau Rejeki Takkan Lari, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Kalau Rejeki Takkan Lari
Link Tittle : Kalau Rejeki Takkan Lari

lihat juga


Konon, rejeki itu seperti bayangan. Kalau kita diam rejeki tak akan datang, tapi kalau kita kejar dia juga ikut berlari. Pada akhirnya, semua tergantung konsistensi dan kegigihan kita dalam mengejar si rejeki. Kalau kita mandeg di tengah jalan, alamat rejeki tak bakal bisa diraih. Sebaliknya, kalau kita terus ngotot dan ngeyel, insya Allah rejeki bakal menghampiri.

Kurang-lebih inilah yang saya alami dalam berburu motor belum lama ini. Berhubung budget-nya amat sangat terbatas (maklum, blogger kere), maka saya cari motor jadul. Itupun second pula. Lagipula mana ada sih motor jadul yang masih baru? Hehehe... Nah, guna menekan agar biaya yang dikeluarkan tak melebihi budget, sayapun berburu motor ke Jakarta. Bukan saya yang pergi ke Jakarta lho, tapi lewat bantuan seorang teman yang adik iparnya buka showroom motor bekas di Jakarta. Dan berhubung saya sama sekali buta soal motor, saya serahkan urusan ini sepenuhnya pada si teman.

Dari awal teman saya mengincar Honda Grand. Kata teman saya mesin motor jenis ini terkenal bandel. Lagipula kata dia beli Honda Grand sama dengan beli emas karena harganya akan terus naik meski umurnya semakin tua. Saya manut saja. Alhamdulillah, koq kebetulan sekali motor yang diincar ada. Sayang, karena terjadi miskomunikasi antara saya dan si teman, motor tersebut terlebih dulu diambil orang. Nasib...

Kamipun menunggu kesempatan kedua datang. Sayang disayang, kami harus bersabar untuk waktu yang lama karena ternyata adik ipar teman saya tak juga mendapat Honda Grand. Ujung-ujungnya teman saya berubah pikiran. Kamipun sepakat mengambil jenis lain dan tak harus Honda Grand. Kebetulan pula adik ipar teman saya sudah punya dua stok yang tak kalah bagus, Honda Star dan Honda Prima. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya pilihan jatuh pada Honda Prima. Uang saya tranfer dan motor lantas dititipkan ke perusahaan jasa pengiriman barang untuk dikirim ke Jogja.

Eh, koq ndilalah sampai 4 hari motor tersebut belum juga sampai di Jogja. Teman saya jadi bingung karena biasanya sehari sudah sampai. Alasan dari pihak jasa pengiriman, banjir di Jakarta membuat jadwal mereka kacau balau. Akibatnya motor yang saya pesan tak bisa langsung dikirim ke Jogja dan masih teronggok di gudang. Sialan, padahal saya sudah berangan-angan bakal punya motor sendiri dan tak perlu lagi mandi keringat saat ke kampus karena jalan kaki. Ternyata... :(

Kalau dulu di TVRI pernah ada sinetron berjudul "Sengsara Membawa Nikmat", maka pengalaman saya membeli motor sendiri untuk pertama kalinya ini juga bertema sama. Musibah banjir Jakarta yang menyebabkan keterlambatan pengiriman Honda Prima yang sudah saya bayar malah berbalik jadi berkah. Kenapa? Karena adik ipar teman saya menawarkan Honda Grand yang baru saja dia temukan. Jadi, Honda Prima-nya batal dikirim ke Jogja dan dijual ke orang lain, sementara saya dikirimi Honda Grand dengan sejumlah biaya tambahan. Kebetulan sekali Honda Prima tersebut sudah ada peminatnya. Kloplah sudah.

Begitulah. Kamis (29/1) kemarin motor tersebut tiba di Stasiun Tugu dengan menggunakan jasa Herona Ekspres. Sorenya langsung deh kami bongkar-bongkar untuk mengecek kondisinya. Alhamdulillah, untuk ukuran motor keluaran tahun 1993 secara umum kondisinya masih sangat bagus. Tebtu saja saya masih harus mengeluarkan dana tambahan untuk mengganti beberapa komponen yang sudah aus atau rusak. Namanya juga motor tua. Meski begitu saya senang sekali karena motor tersebut membuat iri teman-teman kos sesama pemakai motor jadul, bahkan para "pakar" motor kenalan teman saya. Mereka kompak bilang kalau saya beruntung bisa dapat motor tersebut dengan harga semurah itu. Saya yang tidak tahu-menahu tentang motor ini cuma bisa senyum-senyum saja menanggapinya.

Itulah, kalau memang sudah rejeki tak akan lari koq. Iya kan?

Tidak ada komentar: