Tittle : Kalau Pengantin Naik Sepeda...
Link Tittle : Kalau Pengantin Naik Sepeda...
Johan dan Kate tidak hanya berdua. Orang tua mereka juga turut hadir bersama puluhan anggota Paguyuban Onthel Jogja (Podjok), sebuah komunitas penghobi sepeda. Dengan dikawal dua personil Polisi, rombongan pengantin bersepeda itu menyusuri rute sepanjang sekitar 5 km dari Jl. Malioboro sampai Wirosaban.
Orang-orang yang berada di sepanjang perjalanan tidak menyangka kalau pawai sepeda itu rombongan pengantin. Wajar saja, pasalnya tidak ada tanda khusus yang memperlihatkan identitas pengantin baru.
Sebagian anggota rombongan mengenakan pakaian bernuansa tempo dulu. Yang pria berkemeja putih dipadu celana panjang putih lengkap dengan topi bulat ala pembesar-pembesar jaman kolonial Belanda, sementara yang wanita memakai kebaya. Sebagian peserta rombongan bercelana jeans dipadu kaos oblong. Bahkan kedua mempelai cuma bercelana pendek dan memakai kaos oblong.
Kalau saja tidak ada papan kecil bertuliskan “Just Married” yang dipasang di batang kemudi sepeda Johan, orang tidak akan tahu pawai tersebut adalah rombongan pengantin.
Mengenang Masa Lalu
Acara bertajuk “Sawung Jabo Mantu dengan Onthel” ini merupakan ide pasangan Gono dan Tutik dari komunitas Podjok. Sesuai namanya, hari itu Sawung Jabo memang sedang mantu. Johan anaknya mempersunting Kate, seorang gadis Australia tulen.
Menurut Sawung, dipilihnya Jogja sebagai tempat diadakannya pawai pengantin bersepeda ini adalah untuk mengenang nostalgia antara dirinya dan Susan Piper, sang isteri tercinta. Masa itu Jogja masih dikenal sebagai kota sepeda. Masa di mana jalan-jalan Jogja masih dipenuhi orang-orang bersepeda. Di masa itulah keduanya bertemu.
Sawung dan Susan bertemu di tahun 1978. Waktu itu keduanya sama-sama aktif di Bengkel Teater binaan WS Rendra. Susan masih berstatus mahasiswi yang sedang mempelajari kebudayaan Jawa di keraton. Sedangkan Sawung aktif bermain musik dan teater. Hanya setahun setelah itu keduanya memutuskan untuk menikah.
Alasan lain, Jogja adalah kota tempat Sawung Jabo mulai meniti karir. “Di kota inilah saya mulai berkarya, dan tempat saya mengalami kebangkitan dalam bermusik,” kata Sawung kepada wartawan saat rombongan berhenti sejenak di depan keraton.
Ketika ditanya alasannya memilih pawai bersepeda, sambil tertawa lelaki bernama asli Mochamad Djohansyah ini mengatakan, “Acara seperti ini kan tidak perlu biaya banyak, tapi tepat sasaran.”
Cerita Sawung dibenarkan Susan. Kepada Harian Jogja ia berkata bahwa Jogja merupakan kota bersejarah baginya dan suami. Ada banyak kenangan yang ia alami di Jogja. Meski sekarang tinggal di Sydney, Australia, namun kenangan-kenangan tersebut masih melekat. Karena itulah, ketika ada usulan untuk mengadakan resepsi pernikahan anaknya di Jogja, Susan langsung mengiyakan.
“Konsepnya sederhana, tapi unik sekali,” demikian ujar Susan menanggapi acara sore itu.
Teman SMA
Diarak keliling kota dengan sepeda tentunya menjadi pengalaman mengesankan bagi Kate. Ketika dimintai komentarnya, gadis bermata biru ini berkata sambil tersenyum renyah, “I'm really happy. It's very exciting.”
Lebih lanjut Kate bercerita tentang kisah cintanya dengan Johan. Keduanya adalah teman satu SMA. Namun keduanya belum menjalin cinta saat masih sama-sama sekolah. “Nothing special,” ujar Kate sambil melirik Johan ketika menceritakan masa-masa awal pertemuannya dengan sang suami.
Namun diam-diam mereka rupanya sama-sama menyimpan perasaan tertentu. Saat liburan bersama di Jepang dipilih Johan sebagai waktu yang tepat untuk meminang Kate. Pucuk dicinta ulam tiba, Kate menerima lamaran Johan. Keduanyapun lantas mengikat janji sehidup-semati.
Pawai bersepeda keliling kota Jogja, Minggu (12/4), lalu merupakan rangkaian terakhir dari perayaan pernikahan Johan dan Kate. “Akad nikahnya sudah di Bali,” cerita Susan. Dari Bali, acara lalu dilanjutkan dengan sebuah resepsi di Surabaya, tempat kelahiran Sawung Jabo. Dan terakhir dipilihlah Jogja sebagai kota pamungkas.
Sambil berseloroh, Susan mengatakan kalau ada seorang temannya yang menyebut acara pernikahan Johan dan Kate dengan istilah 'rabi tour'. “Pernikahan tiga kota, seperti tur saja,” kata dosen Bahasa Indonesia di beberapa universitas di Ausralia ini sambil tertawa lepas. (M5)
Catatan: Ini naskah asli dari feature berjudul "Pengantin Pilih Naik Onthel" di rubrik 'Pagelaran' Harian Jogja edisi Senin, 13 April 2009 lalu.







