Rabu, 15 April 2009

Kalau Pengantin Naik Sepeda...

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Kalau Pengantin Naik Sepeda...
Link Tittle : Kalau Pengantin Naik Sepeda...

lihat juga


SEPASANG muda-mudi tersebut tampak sumringah di antara puluhan orang yang berkumpul di Taman Parkir Abu Bakar Ali, Minggu (12/4) sore itu. Mereka, Johan Sanjaya (27) dan Kate (26), memang sedang bergembira. Hari itu keduanya merayakan pernikahan mereka dengan cara unik, pawai keliling kota Jogja dengan sepeda onthel.

Johan dan Kate tidak hanya berdua. Orang tua mereka juga turut hadir bersama puluhan anggota Paguyuban Onthel Jogja (Podjok), sebuah komunitas penghobi sepeda. Dengan dikawal dua personil Polisi, rombongan pengantin bersepeda itu menyusuri rute sepanjang sekitar 5 km dari Jl. Malioboro sampai Wirosaban.

Orang-orang yang berada di sepanjang perjalanan tidak menyangka kalau pawai sepeda itu rombongan pengantin. Wajar saja, pasalnya tidak ada tanda khusus yang memperlihatkan identitas pengantin baru.

Sebagian anggota rombongan mengenakan pakaian bernuansa tempo dulu. Yang pria berkemeja putih dipadu celana panjang putih lengkap dengan topi bulat ala pembesar-pembesar jaman kolonial Belanda, sementara yang wanita memakai kebaya. Sebagian peserta rombongan bercelana jeans dipadu kaos oblong. Bahkan kedua mempelai cuma bercelana pendek dan memakai kaos oblong.



Kalau saja tidak ada papan kecil bertuliskan “Just Married” yang dipasang di batang kemudi sepeda Johan, orang tidak akan tahu pawai tersebut adalah rombongan pengantin.

Mengenang Masa Lalu
Acara bertajuk “Sawung Jabo Mantu dengan Onthel” ini merupakan ide pasangan Gono dan Tutik dari komunitas Podjok. Sesuai namanya, hari itu Sawung Jabo memang sedang mantu. Johan anaknya mempersunting Kate, seorang gadis Australia tulen.

Menurut Sawung, dipilihnya Jogja sebagai tempat diadakannya pawai pengantin bersepeda ini adalah untuk mengenang nostalgia antara dirinya dan Susan Piper, sang isteri tercinta. Masa itu Jogja masih dikenal sebagai kota sepeda. Masa di mana jalan-jalan Jogja masih dipenuhi orang-orang bersepeda. Di masa itulah keduanya bertemu.



Sawung dan Susan bertemu di tahun 1978. Waktu itu keduanya sama-sama aktif di Bengkel Teater binaan WS Rendra. Susan masih berstatus mahasiswi yang sedang mempelajari kebudayaan Jawa di keraton. Sedangkan Sawung aktif bermain musik dan teater. Hanya setahun setelah itu keduanya memutuskan untuk menikah.

Alasan lain, Jogja adalah kota tempat Sawung Jabo mulai meniti karir. “Di kota inilah saya mulai berkarya, dan tempat saya mengalami kebangkitan dalam bermusik,” kata Sawung kepada wartawan saat rombongan berhenti sejenak di depan keraton.

Ketika ditanya alasannya memilih pawai bersepeda, sambil tertawa lelaki bernama asli Mochamad Djohansyah ini mengatakan, “Acara seperti ini kan tidak perlu biaya banyak, tapi tepat sasaran.”

Cerita Sawung dibenarkan Susan. Kepada Harian Jogja ia berkata bahwa Jogja merupakan kota bersejarah baginya dan suami. Ada banyak kenangan yang ia alami di Jogja. Meski sekarang tinggal di Sydney, Australia, namun kenangan-kenangan tersebut masih melekat. Karena itulah, ketika ada usulan untuk mengadakan resepsi pernikahan anaknya di Jogja, Susan langsung mengiyakan.

“Konsepnya sederhana, tapi unik sekali,” demikian ujar Susan menanggapi acara sore itu.

Teman SMA
Diarak keliling kota dengan sepeda tentunya menjadi pengalaman mengesankan bagi Kate. Ketika dimintai komentarnya, gadis bermata biru ini berkata sambil tersenyum renyah, “I'm really happy. It's very exciting.”

Lebih lanjut Kate bercerita tentang kisah cintanya dengan Johan. Keduanya adalah teman satu SMA. Namun keduanya belum menjalin cinta saat masih sama-sama sekolah. “Nothing special,” ujar Kate sambil melirik Johan ketika menceritakan masa-masa awal pertemuannya dengan sang suami.

Namun diam-diam mereka rupanya sama-sama menyimpan perasaan tertentu. Saat liburan bersama di Jepang dipilih Johan sebagai waktu yang tepat untuk meminang Kate. Pucuk dicinta ulam tiba, Kate menerima lamaran Johan. Keduanyapun lantas mengikat janji sehidup-semati.

Pawai bersepeda keliling kota Jogja, Minggu (12/4), lalu merupakan rangkaian terakhir dari perayaan pernikahan Johan dan Kate. “Akad nikahnya sudah di Bali,” cerita Susan. Dari Bali, acara lalu dilanjutkan dengan sebuah resepsi di Surabaya, tempat kelahiran Sawung Jabo. Dan terakhir dipilihlah Jogja sebagai kota pamungkas.

Sambil berseloroh, Susan mengatakan kalau ada seorang temannya yang menyebut acara pernikahan Johan dan Kate dengan istilah 'rabi tour'. “Pernikahan tiga kota, seperti tur saja,” kata dosen Bahasa Indonesia di beberapa universitas di Ausralia ini sambil tertawa lepas. (M5)

Catatan: Ini naskah asli dari feature berjudul "Pengantin Pilih Naik Onthel" di rubrik 'Pagelaran' Harian Jogja edisi Senin, 13 April 2009 lalu.

Sabtu, 11 April 2009

Kisah Seorang Caleg Perempuan Jogja

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Kisah Seorang Caleg Perempuan Jogja
Link Tittle : Kisah Seorang Caleg Perempuan Jogja

lihat juga


Pemilu telah usai. Proses penghitungan perolehan suara sedang berjalan. Untuk sementara Partai Demokrat masih memimpin dengan selisih yang cukup besar dengan Partai Golkar dan PDI Perjuangan di bawahnya. Meski belum selesai dihitung, tapi banyak pengamat dan juga masyarakat awam yang meyakini kalau Partai Demokrat akan menang besar dalam Pemilu kali ini.

Whatever. Saya koq malah tertarik membahas caleg-caleg yang tidak lolos ke Senayan. Kebetulan sekali ada seorang teman yang jadi caleg dari satu partai berbasis Muhammadiyah. Saya tidak tahu apakah dia lolos atau tidak jadi anggota DPRD Kab. Sleman. Namun melihat cerita pencalonannya koq saya malah yakin kalau si teman ini tadi tidak lolos. Kasihan? Bukan dia yang perlu dikasihani, tapi partai yang mengajukannya. :)

Teman saya ini sudah sejak lama saya tahu aktif di partai dimaksud. Dan terakhir bertemu ia menjadi pengurus DPD alias tingkat kabupaten. Nah, paling terakhir ketemu dianya sudah jadi caleg dari partai itu. Kebetulan sekali waktu itu saya sedang magang di SKM Malioboro Ekspres yang core beritanya tentang Pemilu dan segala pernak-perniknya. So, sayapun main ke rumahnya untuk diwawancarai. Semacam profil caleg perempuan begitulah.

Namanya juga teman, sesampainya di sana bukan wawancara yang terjadi. Kami ya cuma ngobrol ngalor-ngidul tak tentu arah sambil sesekali saja menyingung-nyinggung tentang visi-misinya. Nah, cerita baru jadi seru setelah saya mengajukan pertanyaan sepele, "Kok bisa jadi caleg sih?" Hehehe, kalau bukan teman mungkin saya sudah disuruh pulang gara-gara tanya begitu.

Maka teman saya itupun bercerita. Katanya, ia sebenarnya tidak ada niatan untuk menjadi caleg. Ia hanya senang berorganisasi. Dan karena tokoh pendiri partai di mana ia mencalonkan diri itu sangat ia kagumi, jadilah ia ikut jadi pengurus. Tanpa imbalan apa-apa tentu saja. Semata-mata hanya demi menunjukkan kesetiaan pada partai dan sang tokoh yang sangat ia hormati dan kagumi. Terus, kenapa sampai ia bisa jadi caleg? Rupa-rupanya untuk memenuhi kuota keterwakilan perempuan yang disyaratkan sebanyak 30% dari total caleg yang diajukan. Jadilah teman saya ini caleg pelengkap.

Berbeda dengan teman-temannya sesama caleg yang rata-rata membayar Rp 15 juta hanya untuk mendaftarkan diri saja, teman saya ini tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk partai. Nah, yang jadi masalah kemudian adalah: dia benar-benar tidak punya cukup modal untuk berkampanye. So, waktu saya temui ia hanya diam saja di rumah. Saya tanya kegiatan kampanyenya dia bilang tidak pernah kampanye ke mana-mana. Bahkan tetangga kanan-kirinya pun tidak ada yang tahu kalau dia jadi caleg. Walah...!

Cerita punya cerita, sebenarnya teman saya ini ingin sekali memproduksi alat-alat kampanye. Ya, seperti caleg-caleg lain yang punya kalender, kaos, baliho, atau sekedar sticker untuk ditempel di muka pintu. Tapi apalah daya. Boro-boro untuk mencetak alat-alat kampanye, lha wong dia saja masih bingung mencari pekerjaan tetap yang bisa menghidupi dirinya koq. Hmmm....

Usai Pemilu kemarin saya belum sempat ketemu dia lagi. Tapi saya koq yakin dia tidak bakal terpilih. Bagaimana mungkin terpilih kalau modalnya cuma 2 keluarga yang tak lain adalah saudaranya sendiri di dapil di mana ia dicalonkan. OMG!

Rabu, 08 April 2009

Hari Minggu yang Menyenangkan

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Hari Minggu yang Menyenangkan
Link Tittle : Hari Minggu yang Menyenangkan

lihat juga


Sejak mulai magang di Harian Jogja, saya punya rutinitas baru di Minggu pagi. Apa itu? Membeli koran Harian Jogja edisi Minggu! Hehehe, biasalah, namanya juga masih pemula. Entah mengapa rasanya senang sekali kalau hasil liputan saya bisa dimuat. Padahal sudah beberapa kali tulisan dan nama saya tercetak di koran. Setelah di edisi Minggu (29/3) lalu 3 hasil liputan saya dimuat, maka Minggu kemarin saya kembali membeli koran untuk mengecek. Dimuat tidak ya Minggu ini?

Kalau sesuai dengan hasil rapat redaksi, maka Minggu itu paling tidak 3 (lagi) hasil liputan saya akan dimuat. Hal ini diperkuat dengan bujet alias tabel rencana liputan yang telah disepakati bersama dan diedarkan ke seluruh pihak-pihak yang berkepentingan dengan penerbitan edisi Minggu itu. Tapi begitu membuka Harian Jogja edisi Minggu, 5 April 2009, lalu saya jadi shock. Lho, koq tidak ada satupun tulisan saya yang dimuat?! OMG!!! :((

Sebenarnya terlalu berlebihan kalau saya bilang shock. Saya hanya merasa tak percaya, bagaimana bisa tulisan saya tidak dimuat? Padahal kalau mengacu pada hasil rapat redaksi, padahal kalau mau melihat bujet, padahal kalau mau mengingat ucapan sang redaktur, padahal... Ah, sudahlah! Saya kemudian melipat koran yang belum saya baca habis itu dan menyalakan komputer. Apalagi kalau bukan mengelus blog tercinta ini. Sambil menunggu komputer menyala, entah dapat ide dari mana saya melayangkan SMS bernada protes pada sang redaktur. Iseng. :))

4 jam online perut saya melilit minta diisi. Mau tak mau saya harus berhenti. Mandi dulu sambil persiapan menunggu sholat dhuhur berjamaah di mushola kos, kemudian baru keluar mencari makan. Setelah makan dan perut kekenyangan saya bingung. Mau ngapain lagi nih? Mau ke kantor Harian Jogja malu sama yang lain. Ya, bagaimana tidak malu kalau setiap hari kelihatan sibuk mengetik tapi begitu korannya terbit tulisannya tidak ada. So, saya memutuskan bolos hari itu. Tapi enaknya ke mana ya?

"Tring..!" Tiba-tiba dapat ide bagus. Saya ingat seorang kenalan di dekat petilasan Kraton Ratu Boko yang menjalankan bisnis agen travel online (online travel agent). Si Mas netpreneur yang belum banyak dikenal orang ini awalnya pemandu wisata khusus tamu-tamu berbahasa Prancis. Karena jiwa entrepreneurnya kuat, ia kemudian banting stir. Berhenti jadi pemandu wisata dan membangun bisnis travel agent di dunia maya. Padahal ia hanya tahu sedikit tentang internet, paling-paling hanya membuka email dan googling saja. Tapi ketekunan belajar dan sifat pantang menyerah membuatnya mampu menghasilkan omset puluhan juta rupiah dari bisnisnya tersebut.

Maka ke sanalah saya Minggu sore itu. Biar tidak bengong saya mengajak seorang teman kos. Kebetulan dia juga maniak internet meski lebih interes ke programming. Berangkat dari kos sekitar jam 16.00. Sampai di Jl. Solo, tepatnya setelah lampu merah pertigaan Jl. Babarsari, saya berhenti sebentar untuk mengambil uang di ATM BNI yang terletak persis di sebelah timur gapura Tambakbayan. Waktu itu langit sudah mulai gelap. Setelah saya selesai mengambil uang hujan rintik-rintikpun turun. Duh, gelagat tidak baik nih. :(

Kami nekat. Hujan rintik-rintik kami terobos. Tapi baru berapa kilo dari lampu merah Ring Road Timur kami harus berteduh karena hujan semakin deras. Hmmm, mendung sehitam itu pasti bakal lama nih hujannya. Benar saja. Sampai setengah jam kemudian kami masih harus berteduh. Sampai akhirnya kami memilih nekat dan kembali melanjutkan perjalanan. Sial, baru sampai Kalasan kami sudah harus berteduh lagi. Kali ini lebih lama karena hujannya semakin deras. Pffiuuuh....

Lihat jam di handphone angkanya sudah 17:05, padahal perjalanan masih lumayan jauh. Pikir punya pikir akhirnya kami nekat menembus hujan setengah hati itu. Sampai di dekat pintu masuk Kraton Ratu Boko kembali kami harus berhenti lagi. Kalau dilanjutkan bisa-bisa kami basah kuyup. Mana sopan bertamu dalam keadaan basah kuyup? Tapi kali ini kami tak berhenti lama. Begitu hari sudah gelap kami langsung tancap gas. Sambil menahan dingin kami mencari-cari letak rumah si Mas tadi. Setelah berputar-putar sebentar di perumahannya plus salah masuk rumah orang, akhirnya ketemu juga deh rumah yang kami cari. Alhamdulillah...

Dasar pebisnis, begitu ketemu dia langsung bercerita panjang-lebar tentang bisnis travel agen online-nya. Cukup lama kami mengobrol, dari jam setengah 7 sampai jam 9 lebih. Dari obrolan sepanjang itu saya banyak belajar tentang bagaimana membangun sebuah bisnis online berdasarkan hobi dan skill yang dimiliki. Si Mas yang tidak mau namanya diekspos itu hobinya jalan-jalan dan skillnya bisa berbahasa asing, Inggris dan Prancis. Dengan kedua modal itulah dia membangun bisnisnya. Padahal, sekali lagi, dia tidak tahu banyak tentang internet, apalagi tentang bisnis online.

Tentu saja dia tidak langsung sukses. Awal situsnya beroperasi, ia harus sibuk menangani semua urusan. Mulai dari membuat situs, promosi, mencari backlink, menjawab setiap email yang masuk, mencari transportasi, memesan hotel, menjadi pemandu bagi tamunya, dan sekaligus menerima pembayaran dari tamu-tamunya. Ya, all in one deh pokoknya. Semakin lama tamunya semakin banyak. Ia kemudian mulai mencari pemandu lain yang mau bekerja sama dengannya. Jadi begitu ada tamu ia tidak lagi memandu sendiri tamunya tersebut.

Kini setelah hampir 3 tahun berjalan ia tinggal duduk diam di kantor kecilnya yang merangkap sebagai ruang keluarga. Ia nyaris tak pernah keluar rumah lagi sekarang. Jadi seluruh waktunya full ia curahkan untuk keluarganya tercinta. Toh, bisnis bisa ia urus lewat laptop yang sudah terhubung dengan jaringan internet? Begitu ada order, ia tinggal angkat telepon untuk menyewa mobil pada pemilik rental mobil yang sudah jadi langganannya dan kemudian menghubungi pemandu wisata yang juga sudah ia kenal lama. Praktis dan efektif, bukan?

Bayangkan, si Mas netpreneur tadi bukanlah seorang ahli TI. Ia tak pandai pemrograman, tak tahu membuat situs, bahkan ia belajar membuat akun PayPal dari saya. Tapi kini bisnisnya sudah beromset puluhan juta perbulan. Sebagai gambaran besarnya omset yang ia dapat, ia dapat membeli 1 laptop Compaq plus modem seharga total 13 juta (waktu itu), satu motor Yamaha Mio gres, satu motor Yamaha Jupiter MX gres, tabungan untuk membeli mobil idamannya, biaya sekolah anak-anaknya, biaya hidupnya sehari-hari selama ini, dan uang untuk bersenang-senang setiap pekan. Bagi orang yang baru memulai bisnis online selama hampir 3 tahun, ini tentu sebuah pencapaian luar biasa. Ingat, si Mas ini seorang otodidak lho. Jadi besar kemungkinan beberapa bulan di tahun pertamanya hanya dilalui dengan trial and error saja.

Pulang dari sana saya langsung termotivasi. Ya, saya juga harus memiliki bisnis sendiri kalau ingin memiliki kebebasan finansial. Sejumlah ide bisnis yang pernah saya rencanakan kembali berseliweran di kepala saya. Hmmm, sepertinya satu di antaranya harus segera saya realisasikan. Sekecil apapun bisnis itu, sesedikit apapun hasil yang akan dicapai, saya harus memulainya! Bukankah segala sesuatu yang besar juga berasal dari hal-hal kecil? The Beatles yang sekarang jadi legenda awalnya hanyalah band kafe.

Benar-benar hari Minggu yang menyenangkan. Biarlah hasil liputan saya tidak satupun yang dimuat di Harian Jogja edisi Minggu itu, biarlah saya harus kehujanan sepanjang jalan dari Kalasan ke Perumahan Ratu Boko, biarlah saya harus masuk angin karena menahan lapar di tengah udara dingin, tapi saya pulang dengan sebuah pelajaran berharga yang akan sangat menentukan masa depan saya nanti. Amin.

Itu saja. Semoga bermanfaat. :)

Senin, 06 April 2009

Wisata Pantai Gunungkidul

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Wisata Pantai Gunungkidul
Link Tittle : Wisata Pantai Gunungkidul

lihat juga


Gunungkidul, propinsi paling terbelakang di Jogja. Selain letaknya yang paling jauh dari pusat kota Jogja, Gunungkidul juga tandus. Maklum, daerah pegunungan. Meski begitu jangan sepelekan kabupaten yang satu ini. Di balik ketandusan tanahnya, Gunungkidul menyimpan banyak potensi wisata pantai. Nah, kebetulan sekali belum lama ini saya dan teman-teman kos melakukan tour ke seluruh pantai-pantai yang ada di Gunungkidul. Gila, seru banget, Bro!

Tour yang saya sebut Tour de Gunungkidul ini dilaksanakan dua kali. Jaraknya seminggu. Minggu pertama kami hanya mengunjungi Pantai Ngerenehan, sebuah pantai kecil di mulut sebuah teluk. Pantainya lumayan pendek, sekitar 500 meter saja. Di kiri-kanan pantai berdiri bukit karang terjal yang menjorok hingga ke tengah laut. Di mulut teluk terdapat batu-batu karang yang meredam ombak deras Laut Selatan. Dengan demikian ombak di Pantai Ngerenehan tidak tinggi sehingga aman untuk mandi.





Di Ngerenehan kita tak cuma bisa mandi, tapi juga makan ikan. Setiap hari para nelayan hilir-mudik ke laut melalui pantai ini, jadi ikannya sangat melimpah. Tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa makan ikan laut di Ngerenehan. Harganya cukup bersahabat koq. Sebagai gambaran, teman saya membeli seekor ikan hiu kecil plus 4-5 ekor ikan pari dengan harga Rp 15.000 saja. Tidak ditimbang? Hehehe, nelayan di sana main kira-kira saja, Bro. Asal sudah deal ya sudah, ikan dilepas. Asyik kan?



Pantai Sepanjang
Seminggu setelah mengunjungi Ngerenehan, kami berangkat lagi ke selatan Jogja. Kali ini tujuannya Pantai Sepanjang. Di mana itu? Tidak jauh dari Ngerenehan koq. Hanya sekitar 5 kilometer ke arah timur, sebelum Pantai Baron. Di sini pemandangannya cukup indah. Sesuai namanya, Pantai Sepanjang benar-benar panjang. Melihat ke kanan-kiri hanya hamparan pasir putih yang memanjang.



Lain dengan Ngerenehan, di Sepanjang kita tidak boleh mandi. Masuk ke laut saja kalau bisa jangan. Kenapa? Arusnya deras, Bro. Selain itu kontur pantainya juga sangat curam. Sekali kita masuk ke laut dan terseret, bakalan repot deh yang menolong. So, kalau di sini enaknya cuma jalan-jalan menyusuri pantai, terus naik ke bukit untuk melihat hamparan Laut Selatan, dan kalau sudah capek istirahat di gubuk-gubuk yang banyak tersebar di sepanjang pinggiran pantai.



Bagaimana? Asyik, bukan? Selama ini nama Ngerenehan dan Sepanjang kalah tenar dibanding Pantai Baron, Trisik, Kukup, dan pantai-pantai Gunungkidul lain yang ada di brosur-brosur keluaran Dinas Pariwisata Jogja. Padahal pesona kedua pantai ini tidak kalah dibanding pantai-pantai lain. Dan satu kelebihan utama keduanya adalah: masih sepi pengunjung!

Setelah puas mengagumi pemandangan alam di Sepanjang, perjalanan kami lanjutkan ke timur. Ya, kami terus lanjut ke sebelah timur. Semua pantai kami masuki meski hanya melihat secara sekilas-sekilas saja sambil lewat. Sampai di suatu desa, eh, lha koq ban belakang motor saya bocor. Bukan bocor sih, orang tempat pentilnya secara ajaib bisa lepas dari ban. Jadilah kami berhenti dulu karena saya harus mengganti ban. Untung saja ada bengkel tak jauh dari tempat kami berhenti. :)



Akhirnya, sekitar jam 7 malam sampailah kami di pantai paling timur Jogja, Pantai Sadeng. Pantai ini merupakan sebuah pelabuhan kecil tempat para nelayan berlabuh setelah mencari ikan di laut. Ikan-ikan di sini juga murah-murah, Bro. So, kamipun sepakat patungan membeli ikan dan ujung-ujungnya tentu saja makan-makan. :)) Puas makan sekitar jam 8 malam. Gila, begitu mau pulang koq inget kalau waktu itu malam Jum'at. Walah....

Btw, meski capeknya bukan main, tapi perjalanan tersebut benar-benar menyenangkan. Suatu saat ingin saya mengulangi perjalanan itu lagi. Siapa mau ikut?

Minggu, 05 April 2009

Mau Jadi Raja Sulap?

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Mau Jadi Raja Sulap?
Link Tittle : Mau Jadi Raja Sulap?

lihat juga


Harian Jogja mengangkat tulisan tentang belanja online di halaman 15 (rubrik 'Belanja') Sabtu (4/4) kemarin. Penulisnya, duo Martha Nalurita dan Yuspita Anjar Palupi, memang bukan orang yang akrab dengan dunia online shopping. Tapi ulasan mereka cukup lengkap. Mulai dari ulasan ringkas tentang dunia online shopping di Indonesia, sampai tips-tips berbelanja online yang aman.

Dalam tulisan itu juga disebutkan kalau apa saja sudah bisa dibeli secara online sekarang. Ya, apa saja! Mulai dari barang yang super mahal berharga jutaan rupiah, sampai dengan pernak-pernik seharga puluhan ribu rupiah. Nah, buat Anda yang sedang belajar sulap atau gemar dengan sulap, segala keperluan sulap juga sudah bisa didapatkan di internet lho.

Adalah RajaSulap.com, toko sulap online di mana Anda bisa membeli alat sulap dan segala keperluan berkaitan dengan sulap. Situs ini merupakan toko alat sulap online nomor 1 di Indonesia versi Google Indonesia. Coba saja ketikkan "toko alat sulap" di kotak pencarian Google Indonesia, maka situs RajaSulap.com akan terpampang di nomor 1 pada halaman 1 hasil pencarian. Bagaimana kalau yang diketik kata kunci lain? Ya coba saja sendiri. :))

Ada banyak peralatan sulap yang disediakan RajaSulap.com. Mulai dari koin, kartu ajaib, sampai dengan peralatan yang agak aneh seperti linking Polo mint, sebuah alat sulap yang memungkinkan Anda menyambungkan dua biji permen Polo bolong menjadi satu seperti rantai. Ada juga sarana belajar sulap seperti video dan buku-buku teori sulap. Cukup pesan melalui SMS atau telepon, maka barang pesanan Anda sudah dapat sampai di tangan 2-3 hari kemudian.

Tertarik?

Menata Kamar Kos Menjadi Surga

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Menata Kamar Kos Menjadi Surga
Link Tittle : Menata Kamar Kos Menjadi Surga

lihat juga


"Rumahku surgaku". Anda yang beragama Islam pasti sudah sangat familiar dengan kata-kata itu. Ya, kalimat pendek namun penuh makna tersebut adalah ucapannya Rosulullah Muhammad SAW. Sebuah konsep tentang keluarga bahagia. Keluarga yang menyenangkan, sehingga berada di dalamnya tak ubahnya seperti di dalam surga. Baity jannaty, begitu redaksi aslinya di dalam bahasa Arab.

Buat yang sudah menikah, "rumahku surgaku" bisa dilakukan bersama-sama pasangan. Ya, apalagi kalau bukan menikmati surga dunia. Hehehehe. Eits, jangan berpikiran ngeres dulu lho. Surga dunia yang saya maksud adalah membentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah. Sebuah keluarga yang aman tentrem toto raharjo. Nah, kalau yang belum menikah bagaimana dunks caranya?

Ada banyak jalan mewujudkan rumah yang serasa surga. Bagi yang masih sendirian dan tinggal di kos (seperti saya), kita juga bisa koq membangun sebuah surga di kos kita. Caranya? Salah satunya, ini cuma salah satunya saja lho, adalah dengan menata kos-kosan sebaik mungkin sehingga kita merasa betah di dalamnya. Buatlah kamar kos senyaman mungkin, dan enak dipakai istirahat. Tata serapi mungkin, dan buatlah kamar menjadi tempat kembali yang selalu dirindukan bila kita bepergian.

Kalau catnya sudah agak pudar ya dicat lagi. Warna apa yang cocok untuk kamar kos? Ini tentu terserah Anda, cari inspirasi memilih warna ruangan dengan melihat-lihat iklan interior & property atau membaca-baca artikel interior kantor yang banyak tersebar di internet. Tanya Mbah Google, pasti dia tahu harus ke mana mencari informasi-informasi itu.

Buat yang jauh dari rumah dan orang tua, kamar kos adalah tempat kembali satu-satunya. Di sanalah semua kegiatan kita bermula dan kemudian juga berakhir. Jadi, buatlah kamar kos senyaman mungkin agar setiap hari yang kita mulai selalu ceria. Dan setiap istirahat kita bisa merasa nyaman.

Itu saja. Semoga bermanfaat.

Sabtu, 04 April 2009

Awas, Copy Cat di Mana-mana..!

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Awas, Copy Cat di Mana-mana..!
Link Tittle : Awas, Copy Cat di Mana-mana..!

lihat juga


Dua hari tidak membuka email yang Gmail, saya jadi ketinggalan sebuah info penting dari Kang Munawar. Setelah menjadi guest blogger blog ini dengan artikel berjudul "5 Tips untuk Guest Blogger", Kang Nawar memberi tahu saya kalau ternyata artikel tersebut dikopi mentah-mentah setelah di-publish di sini. Gila! :(

Awalnya saya tidak membaca gelagat apa-apa, lha wong Kang Nawar memberi judul emailnya itu "Ini Blog Sampaian..?" Setelah saya buka barulah saya tahu apa yang terjadi. Artikel Kang Nawar yang dikirimkan dalam rangka guest blogging di blog ini dikopi oleh seorang blogger tak bertanggungjawab. Sialnya, si tukang kopi itu nama depannya juga Eko. Entah asli atau rekayasa, blogger itu bernama Eko Novianto.



Lihat saja screenshot di atas. Artikel tersebut dikopi persis sama, bahkan 100% mirip sekali dengan posting yang di blog ini. Susunan paragraf, besar-kecil dan tebal-tipis kata, bahkan kredit dan link-link (juga inbound link) yang saya berikan untuk Kang Nawar selaku penulis asli juga dikopi. Kalau mau lebih jelas silakan baca sendiri di sini.

Lho, seharusnya kan tidak masalah karena ada link-nya dan aktif? Masalahnya bukan itu. Memang semua link ada lengkap seperti aslinya dan aktif. Tapi dengan perbuatannya itu dia telah membuat kesan kalau artikel tersebut dikirimkan Kang Nawar untuk blog itu, padahal sebenarnya kan dikopi dari sini? Kalau dia berniat baik dan tahu etika, tentunya diberi keterangan di mana dia mengambil artikel tersebut. Ternyata kan tidak?

Ini bukan pengalaman pertama saya menjadi korban kopi-paste. Sudah sering. Sebelum ini ada seorang blogger yang cukup terkenal mengkopi artikel saya yang berjudul "Mengenal Liew Cheon Fong, Fulltime Blogger Pertama Malaysia". Lihat saja kopiannya di sini dan screenshot berikut:



Sopannya, si blogger beken itu menambahkan 3 kata pada judul dan juga memberikan 2 paragraf penutup yang ia buat sendiri sebagai tambahan. Di akhir posting ia menuliskan "Sumber Inspirasi: Mas Eko Nur Huda". Tapi tidak sopannya, tidak ada satupun link ke alamat URL posting yang ia kopi. Ia hanya memberikan link ke blog ini, yakni http://www.ekonurhuda.com saja. Padahal seharusnya kan http://www.ekonurhuda.com/2008/10/mengenal-liew-cheon-fong-fulltime.html.

Saya mungkin benar waktu mengatakan bahwa blogger tidak kalah hebat dalam menulis dibanding para kolumnis koran. Karena itu blogger seharusnya tidak boleh diremehkan. Tapi perbedaannya, menjadi penulis bagus di blogosphere sangat beresiko jadi korban kopi-paste. Jadi, waspadalah, waspadalah..!

Jumat, 03 April 2009

Steak Gratis, Mau?

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Steak Gratis, Mau?
Link Tittle : Steak Gratis, Mau?

lihat juga


Dalam buku "Enaknya Wartawan Olahraga", Sumohadi Marsis menceritakan betapa asyiknya menjadi seorang wartawan olahraga. Mantan pentolan Tabloid BOLA itu sudah berkeliling ke puluhan negara secara gratis. Ia juga sudah pernah menonton pertandingan-pertandingan akbar seperti Liga Champion Eropa, Piala Eropa, bahkan Piala Dunia. Semua itu ia dapatkan dengan gratis karena ditugaskan kantornya. Enak ya?

Selama magang di Harian Jogja, saya juga sudah mulai merasakan enaknya jadi wartawan. Kejadian paling gres kemarin siang (2/4), waktu saya diberi tugas liputan ke sebuah restoran steak di Jl. Taman Siswa. Ceritanya koran tempat saya magang ini hendak mengangkat soal steak di rubrik "Kuliner" edisi Minggu besok. Karena ada banyak restoran steak di Jogja, maka kru yang menangani edisi Minggu dipecah ke tiga restoran steak terkemuka. Saya kebagian yang di Jl. Taman Siswa itu.

Ini kali pertama saya liputan tentang kuliner untuk Harian Jogja. Dan, jujur banget nih, ini juga jadi kunjungan pertama saya ke restoran steak. Saya itu paling tidak suka makan di tempat-tempat seperti itu. Maklum deh, kantongnya masih tipis. Penghasilannya masih kembang-kempis tak tentu arah. Kan saya terdaftar sebagai anggota KPK alias Komunitas Publisher Kere? Hehehe...

Saya janjian ketemu dengan manajer resto tersebut sekitar jam 12. Tapi tidak benar-benar jam 12 sih, soalnya kami (tanpa sengaja) sama-sama berangkat ke tempat janjian setelah sholat dhuhur. Jadi ya begitu sampai sudah jam 12 lewat. Kebetulan saya datang lebih dulu, jadi sempat bengong dulu di resto yang sederhana tapi ramai itu.

Setelah menunggu beberapa saat, Pak Manajer akhirnya datang juga. Kami bersalaman, berbasa-basi sebentar di tempat saya duduk, kemudian Pak Manajer tersebut mengajak saya ke ruangan dalam. Bukan ruangan manajer yang full ac dan sejuk lho. Tapi ruangan yang sebenarnya juga berfungsi untuk menerima pelanggan. Berhubung siang itu pengunjung tidak terlalu ramai, ruangan tersebut kosong. Di sanalah kami ngobrol-ngobrol tentang steak dan terutama sekali menu-menu yang dijual di resto itu.

Seumur-umur, saya cuma sekali makan steak. Itupun sudah lama sekali, sekitar tahun 2001 saat kelas table manner di pendidikan pariwisata yang pernah saya ikuti. Setelahnya saya tak pernah lagi makan steak. Artinya, saya benar-benar buta tentang steak. Alhasil, siang itu sempat kedodoran juga saya mau tanya apa. Improvisasi sedikit plus modal muka tembok, akhirnya sukses deh membuat Pak Manajer yang ramah itu bercerita panjang-lebar tentang menu steak yang ada di restorannya. :)

Kurang-lebih satu jam kemudian obrolan selesai. Saya lalu minta ijin memotret steak sebagai gambar pelengkap. Bayangan saya sih saya bakal memotret steak yang hendak dihidangkan ke konsumen karena memang saya juga bilangnya begitu. Eh, lha koq ternyata Pak Manajer itu meminta tolong bawahannya untuk membuatkan satu porsi beef steak khusus untuk saya. Bukan itu saja, segelas milkshake vanilla juga dihidangkan sebagai pasangannya. Walah...

So, jadilah saya makan siang dengan menu beef steak dan milkshake vanilla gratis. Mau? Nih, saya kasih gambarnya saja. :)




Catatan: Sebenarnya cerita ini mau saya tulis semalam. Tapi berhubung saya ngantuk sekali setelah pulang dari kantor Harian Jogja, jadi baru sempat diposting sekarang sambil menunggu hujan berhenti. :)

Kamis, 02 April 2009

Mengapa Saya Tidak Membeli SMUO?

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Mengapa Saya Tidak Membeli SMUO?
Link Tittle : Mengapa Saya Tidak Membeli SMUO?

lihat juga


Mumpung masih hangat-hangatnya bahas masalah Joko Susilo (JS), saya jadi tertarik untuk mengangkat sebuah kenangan lama. Tentu saja tidak jauh-jauh dari JS dan Formula Bisnis, karena saya hendak membeberkan pengalaman saya ketika pertama kali melihat situs penjual SMUO tersebut sampai kemudian berkeputusan untuk tidak membelinya. Ya, saya ingin membeberkan alasan mengapa saya tidak membeli SMUO.

Saya pertama kali mengenal JS dan Formula Bisnis melalui email sampah (spam). Waktu itu awal tahun 2004. Saya tidak ingat bulan berapa pastinya, tapi yang jelas harga SMUO masih Rp 90.000-an. Membaca sales page Formula Bisnis, siapa sih yang tidak terkesima? Bayangkan, Anda dapat menghasilkan uang puluhan juta rupiah hanya dengan menerapkan 3 langkah sederhana yang diajarkan dalam SMUO! Fantastis, bukan? Tidak heran jika saya jadi bersemangat sekali membaca habis seluruh isi sales page Formula Bisnis.

Dari sales page tersebut saya jadi tahu apa saja tiga langkah sederhana untuk memulai bisnis internet yang dimaksud JS dalam SMUO yang ditawarkannya. Tiga pilar utama yang diajarkan ebook tersebut adalah; (1) ciptakan produk, (2) buat website untuk menjual produk tersebut, dan (3) datangkan trafik. Benar-benar mudah! Demikian kata saya dalam hati waktu itu. Kebetulan pula waktu itu saya sedang butuh sumber pemasukan setelah berhenti jadi guide dan gagal melanjutkan kuliah ke jenjang S1.

Hampir saja saya tertarik membeli SMUO. Namun setelah melihat screenshot yang dipamerkan, saya justru jadi pikir-pikir lagi. Saya perhatikan baik-baik deretan angka yang ada di tampilan buku rekening itu, jumlahnya selalu Rp 45.000 dengan 3 digit akhir yang berlainan satu sama lain. Logika saya langsung bermain. Sejumlah pertanyaan kritis bermunculan di kepala saya. Bukankah harga SMUO Rp 90.000? Dari harga tersebut, JS selaku admin memperoleh Rp 45.000 dan separuhnya untuk reseller. Dan ingat, calon pembeli juga diingatkan untuk memberikan angka unik di 3 digit terakhir uang yang disetorkan. Jadi, dari seharusnya hanya Rp 45.000 masing-masing untuk admin (JS) dan reseller, pembeli harus mentransfer, misalnya, sejumlah Rp 45.212, Rp 45.234, Rp 45.007, dsb.




Pertanyaan penting dalam benak saya yang kemudian membuat saya batal membeli SMUO adalah, bisnis apa yang sebenarnya dijalankan JS? Apa yang hendak ia ajarkan pada saya dalam ebook SMUO itu? Kalau melihat dari angka-angka dalam screenshot yang ditunjukkan, bukankah sebenarnya ia sedang menunjukkan transferan dana dari para pembeli SMUO sebelumnya? Artinya, dari berjualan ebook itulah JS memperoleh uang. Dan itulah yang hendak diajarkannya pada saya (dan seluruh pengunjung FormulaBisnis.com) lewat ebook SMUO seharga Rp 90.000 tersebut. Bukankah itu yang ia katakan di kalimat awal sales page-nya?




Dari sana saya menyadari kalau apa yang akan diajarkan oleh ebook tersebut (bila saya jadi membelinya) tak lain tak bukan adalah apa yang sedang dijalankan JS dengan berjualan SMUO itu. Artinya, apa yang dibeberkan JS dalam ebook-nya justru sedang dijalankan olehnya bersama FormulaBisnis.com. Maka sayapun urung membeli SMUO. Untuk apa? Toh, saya sudah tahu apa yang akan diajarkan, yakni ciptakan sebuah produk informasi seperti SMUO, buat sebuah situs penjual seperti FormulaBisnis.com, dan kemudian alirkan trafik ke situs tersebut. Itu saja kan rahasianya?

Itu pengalaman saya dengan Formula Bisnis, dan itulah mengapa saya tidak membeli SMUO walaupun sebenarnya saya sempat sangat ingin memilikinya. Ini pengalaman nyata. Saya menyampaikannya hanya untuk sharing saja. Anda sendiri, bagaimana pengalaman Anda dengan Formula Bisnis?

NB: Ikuti juga diskusinya di Kaskus. Klik di sini!

Catatan: Gambar-gambar diperoleh dari Web Archive, tepatnya di sini dan di sini.

Selasa, 31 Maret 2009

RahasiaBlogging Terancam, Joko Susilo Masuk Kaskus

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : RahasiaBlogging Terancam, Joko Susilo Masuk Kaskus
Link Tittle : RahasiaBlogging Terancam, Joko Susilo Masuk Kaskus

lihat juga


Masih ingat bagaimana kronologi terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Presiden RI pada Pemilu 2004? Adalah pernyataan Taufik Kiemas, suami Megawati Soekarnoputri yang saat itu menjabat Presiden, yang membuat popularitas SBY naik dan terus melejit menjelang Pemilu. Sampai akhirnya SBY memenangi duel dengan Megawati di putaran kedua dan 'naik pangkat' jadi RI 1.

Apa yang dikatakan Taufik Kiemas? Ah, Anda semua tentu masih ingat. Yang jelas pernyataan tersebut membuat banyak orang jatuh simpati pada SBY dan ujung-ujungnya menaikkan popularitas mertua Annisa Pohan ini. Nah, cerita serupa sepertinya akan terjadi di dunia maya. Lakonnya adalah Joko Susilo (JS) yang beberapa waktu lalu ramai-ramai dihujani pertanyaan oleh para Kaskuser seputar Formula Bisnis dan juga produk barunya, Rahasia Blogging.

Kenapa JS akhirnya naik ke permukaan? Kenapa pula ia mau menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan para Kaskuser? Ini pertanyaan penting yang harus dijawab. Dan kalau kita mau mundur sedikit ke belakang, sebelumnya telah terjadi 'perang kecil' antara Joko Susilo dan Bang Zalukhu. Di blognya, Bang Zalukhu bilang kalau Joko Susilo adalah penipu, meski dalam posting tersebut nama JS diubah dengan Jadi Serigala. Setelah itu, Bang Zalukhu memuat posting tentang rekayasa dalam sales letter Rahasia Blogging yang notabene adalah produk terbaru JS.

Ceritapun berlanjut. Semakin lama semakin banyak orang yang membicarakan Rahasia Blogging, semakin banyak pula yang meragukannya. Tiba-tiba, muncullah seorang blogger anonim dengan nick Mualim sang Kritikus (identitasnya sudah dikantongi lho) yang menyerang Bang Zalukhu. Well, perang kemudian melebar dengan melibatkan beberapa pihak. Sampai-sampai ada blogger yang merasa perlu melakukan klarifikasi karena merasa tersudut.

Oke, kembali ke pertanyaan tadi. Kenapa JS akhirnya naik ke permukaan? Kenapa JS mau menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan para Kaskuser? Jawabannya tidak sulit. Dengan maraknya publikasi negatif yang dilakukan para blogger terhadap Rahasia Blogging, jelas JS merasa khawatir. Bagaimana tidak khawatir kalau baru di-launch sudah dapat serangan bertubi-tubi? Nah, yang perlu dilakukan JS adalah dengan membalik imej negatif tersebut agar 'calon konsumen'-nya tidak lari. Caranya? Dia berguru pada SBY sewaktu Pemilu 2004 lalu.

Masih belum jelas? Oke, saya jelaskan. Setelah dikatai oleh Taufik Kiemas, SBY cepat tanggap. Ia memanfaatkan momen tersebut untuk membentuk citra sebagai orang teraniaya. Alhasil, simpati pun berdatangan padanya. Popularitasnya meningkat pesat. Terlebih media turut mem-blow up cerita tersebut. Selanjutnya Anda sudah tahu jalan ceritanya, bukan?

Inilah yang coba diikuti JS. Ia muncul di Kaskus, membiarkan dirinya 'dibantai' habis-habisan oleh para Kaskuser. Dengan demikian ia berharap dirinya tidak lagi dijuluki penipu karena sudah berani unjuk diri dan meladeni pertanyaan orang-orang yang selama ini meragukannya. Hal ini bisa memberikan efek psikologis positif bagi orang yang semula ragu-ragu membeli produknya. Kesan sebagai orang yang dipojokkan coba ia timbulkan. Kalau sudah demikian, kan enak saja melontarkan pernyataan, "Ah, mereka itu hanya iri dengan keberhasilan saya." Dan semakin kuatlah alasan orang untuk membeli produk-produk JS.

Itu yang pertama. Yang kedua, kontroversi yang berkembang merupakan 'iklan gratis' bagi JS dan produk-produknya. Semakin marak blogger yang mengekspose dirinya dan produk-produknya, JS akan jadi semakin populer. Orang-orang yang awalnya tidak tahu sama sekali tentang JS akan mencari informasi lebih banyak lagi tentang dia. Maka meluncurlah orang-orang tersebut ke situs-situs milik JS. Lumayan, cuma nongkrong beberapa jam saja di Kaskus sudah bisa memperoleh trafik banyak. Belum lagi kemungkinan orang-orang tersebut justru tertarik dengan jualannya JS. :)

Berhasilkah strategi ini diterapkan JS? Kita lihat saja.