Tampilkan postingan dengan label Intermezzo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Intermezzo. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Oktober 2009

Yasinan Koq Dibayar Sih?

Intermezzo - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Intermezzo, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Yasinan Koq Dibayar Sih?
Link Tittle : Yasinan Koq Dibayar Sih?

lihat juga


Tetangga depan kos saya meninggal. Berhubung rumah duka terletak di tengah-tengah ruko, alhasil tak ada tetangga di kanan-kirinya. Rumah itu juga jauh dari kampung. Di depannya jalan raya plus deretan ruko, di samping timurnya jalan besar yang disambung dengan kampus Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa, sementara di belakangnya kompleks perkantoran walikota Jogja.

Karena posisinya yang jauh dari kampung itu tuan rumah bingung waktu mau membacakan tahlil dan yasin untuk almarhum. Alhasil, mereka minta bantuan pengurus kos tempat saya tinggal untuk mencarikan orang yang mau membacakan yasin. Pilihan tepat. Kos saya berisi lebih dari 50 orang, so separuh saja penghuni kos yang berangkat rasanya sudah lebih dari cukup.

Pucuk di cinta ulam tiba, teman-teman kos tidak keberatan membantu. Sebagian benar-benar ikhlas demi amal baik, tapi tak dipungkiri ada juga yang berorientasi perut. Maklum, anak kos. Hehehe... Dan berangkatlah rombongan Asrama al-Asyhar ke rumah duka. Malam pertama, yang berangkat hanya beberapa orang. Kebetulan saya juga tidak ikut karena "asyik" meng-install ulang komputer.

Nah, malam kedua saya baru bisa ikut karena kebetulan tidak ke mana-mana. So, berangkatlah saya dengan rombongan. Menurut teman-teman yang berangkat di malam pertama, jumlah peserta yasinan di malam kedua ini lebih banyak dari malam pertama. Saya tidak menanggapinya. Saya pikir kemarin teman-teman juga tidak bisa ikut karena ada kesibukan lain.

Setelah menyeberang Jl. Kusumanegara yang selalu ramai kendaraan, sampailah kami di rumah duka. Di luar dugaan saya, ternyata benar-benar hanya anak-anak kos kami saya yang membaca yasin. Awalnya saya pikir ada satu-dua orang kampung atau tetangga kanan-kiri si tuan rumah. Nyatanya, dari sekitar 16 orang yang ada malam itu, semuanya dari kos tempat saya tinggal. Hmmm...

Yasinan dan tahlil hanya memakan waktu kurang dari 30 menit. Kemudian, seperti biasa, dilanjutkan dengan acara makan-makan sambil ngobrol. Nah, menjelang waktu pulang terjadi keanehan, setidaknya menurut saya ini aneh karena belum pernah saya temui sebelumnya. Apa yang aneh? Salah seorang anggota rumah keluar lalu membagikan bingkisan berupa roti kotak berukuran besar. Ah, ini sih masih belum aneh. Yang bikin kening saya berkerut adalah sewaktu kami juga diberi amplop satu-satu. Tanpa perlu dijelaskan tentu teman-teman tahu apa isinya, bukan?

Ya, sesuai dugaan, ternyata isinya uang. Walah, koq begitu sih? Masa iya orang yasinan dibayar? Padahal saya yakin teman-teman tidak mengharapkan uang. Kalau mengharapkan makan gratis sih saya yakin iya. Hehehe... Nah, karena tahu yang ikut yasinan dapat makan gratis plus uang plus bingkisan, di malam ketiga yang datang jauh lebih banyak lagi. Perkiraan saya sih sekitar 25 orang. Edan!

Yang jadi pertanyaan saya sampai saat ini adalah, koq ada ya orang yasinan dikasih duit? Apa memang di Jogja hal seperti ini umum dilakukan? Bagaimana dengan daerah lain? Mungkin teman-teman bisa berbagi pengalaman.

NB: Foto ilustrasi diambil dari http://flickr.com/photos/27371861@N02/2552396735

Kamis, 21 Mei 2009

Bakso Pak Bawor Samirono

Intermezzo - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Intermezzo, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Bakso Pak Bawor Samirono
Link Tittle : Bakso Pak Bawor Samirono

lihat juga


SETELAH dapat jatah liputan steak di pekan kedua masa magang, lama sekali saya tidak liputan untuk rubrik kuliner. Mungkin tepatnya bukan "tidak liputan", soalnya saya sempat dapat dua tugas liputan kuliner. Yang pertama mencari soto tangkar tapi tidak ketemu sampai deadline, dan kedua mencari satu angkringan super duper laris di daerah Deresan tapi luput dari amatan saya sehingga tidak tertangkap. :))

Nah, untuk edisi Minggu besok saya kebagian jatah meliput Bakso Pak Bawor di daerah Samirono. Ceritanya seluruh bakso terenak dan terlegendaris di Jogja akan diangkat. So, seluruh kru dibagi untuk meliput 6 warung bakso yang dianggap ter dan ter tadi. Dan saya kebagian jatah mencicipi baksonya Pak Bawor di Samirono. Kebetulan sekali bakso merupakan menu jajan favorit saya selain mie ayam.

Asyik, akhirnya makan-makan juga..! Sorak saya dalam hati sewaktu diberi tugas itu. Tanpa tunggu lebih lama lagi, saya segera menggarapnya. Langkah pertama browsing di internet untuk mencari tahu lokasi warung Bakso Pak Bawor. Hehehe, soalnya saya belum tahu sih. Tujuan kedua adalah untuk mencari tahu tanggapan orang-orang yang pernah makan di sana. Syukurlah kedua-duanya saya dapatkan.

Menurut hasil browsing, warung bakso Pak Bawor Samirono terletak tepat di tengah-tengah kampung Samirono. Jadi, dari Jl. Kolombo masuk terus ke selatan ke kampung Samirono. Ancer-ancernya di selatan GOR UNY. Masuknya dari jalan yang terletak tepat di selatan jalan yang ke arah GOR UNY. Dari pinggir Jl. Kolombo jauhnya sekitar 300 meter.

Sangat tidak disarankan mendatangi warung bakso Pak Bawor dengan kendaraan umum. Pasalnya bis kota ataupun angkot hanya akan menurunkan Anda di Jl. Kolombo. Naik transJogja lebih tidak disarankan karena letak shelternya jauh dari jalan masuk ke kampung Samirono. So, minimal naik sepeda deh. Hehehe....

Kembali ke laptop. Setelah tanya sana, sini, situ, akhirnya sampai juga saya dan Ari (junior di AKY yang menemani saya) di warung bakso Pak Bawor yang kondang itu. Penampilan warungnya sangat biasa. Tapi melihat jumlah pengunjungnya, saya tahu ada yang istimewa di sini. Terlebih setelah beberapa pengamen datang menjajakan suaranya di sana. Bukankah pengamen itu paling tahu di mana lokasi yang paling banyak orang? :))

Bakso pun dipesan. Alamak, ternyata lama juga menunggunya. Pesanan baru datang setelah es jeruk di hadapan saya tinggal setengah gelas. Tapi saya beruntung datang saat tanggal merah. Konon kalau hari kerja kita bahkan harus berjuang keras untuk sekedar mendapatkan tempat duduk. Gila!

Bagaimana rasa baksonya? Jujur saja saya tidak tahu itu termasuk bakso enak atau biasa saja. Yang jelas pentol baksonya termasuk hebat karena kentara sekali rasa dagingnya. Begitu dibelah tekstur bagian dalamnya tidak rata, menandakan kalau adonannya lebih dominan daging dibanding kanji. Waktu saya tanya ke Mas Bowo, salah satu karyawan di sana, perbandingan adonannya adalah 5:1. Oo, pantas saja kalau begitu.

Tertarik mencoba? Harganya tidak mahal koq. Mungkin sekitar Rp6000-an. Soalnya tadi bakso dua plus es jeruk dua totalnya Rp15.000. Jadi harga baksonya ya kira-kira Rp6000 semangkuk, terus es jeruknya Rp1.500. Masih termasuk murah untuk ukuran bakso sekondang itu. :))

Rabu, 15 April 2009

Kalau Pengantin Naik Sepeda...

Intermezzo - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Intermezzo, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Kalau Pengantin Naik Sepeda...
Link Tittle : Kalau Pengantin Naik Sepeda...

lihat juga


SEPASANG muda-mudi tersebut tampak sumringah di antara puluhan orang yang berkumpul di Taman Parkir Abu Bakar Ali, Minggu (12/4) sore itu. Mereka, Johan Sanjaya (27) dan Kate (26), memang sedang bergembira. Hari itu keduanya merayakan pernikahan mereka dengan cara unik, pawai keliling kota Jogja dengan sepeda onthel.

Johan dan Kate tidak hanya berdua. Orang tua mereka juga turut hadir bersama puluhan anggota Paguyuban Onthel Jogja (Podjok), sebuah komunitas penghobi sepeda. Dengan dikawal dua personil Polisi, rombongan pengantin bersepeda itu menyusuri rute sepanjang sekitar 5 km dari Jl. Malioboro sampai Wirosaban.

Orang-orang yang berada di sepanjang perjalanan tidak menyangka kalau pawai sepeda itu rombongan pengantin. Wajar saja, pasalnya tidak ada tanda khusus yang memperlihatkan identitas pengantin baru.

Sebagian anggota rombongan mengenakan pakaian bernuansa tempo dulu. Yang pria berkemeja putih dipadu celana panjang putih lengkap dengan topi bulat ala pembesar-pembesar jaman kolonial Belanda, sementara yang wanita memakai kebaya. Sebagian peserta rombongan bercelana jeans dipadu kaos oblong. Bahkan kedua mempelai cuma bercelana pendek dan memakai kaos oblong.



Kalau saja tidak ada papan kecil bertuliskan “Just Married” yang dipasang di batang kemudi sepeda Johan, orang tidak akan tahu pawai tersebut adalah rombongan pengantin.

Mengenang Masa Lalu
Acara bertajuk “Sawung Jabo Mantu dengan Onthel” ini merupakan ide pasangan Gono dan Tutik dari komunitas Podjok. Sesuai namanya, hari itu Sawung Jabo memang sedang mantu. Johan anaknya mempersunting Kate, seorang gadis Australia tulen.

Menurut Sawung, dipilihnya Jogja sebagai tempat diadakannya pawai pengantin bersepeda ini adalah untuk mengenang nostalgia antara dirinya dan Susan Piper, sang isteri tercinta. Masa itu Jogja masih dikenal sebagai kota sepeda. Masa di mana jalan-jalan Jogja masih dipenuhi orang-orang bersepeda. Di masa itulah keduanya bertemu.



Sawung dan Susan bertemu di tahun 1978. Waktu itu keduanya sama-sama aktif di Bengkel Teater binaan WS Rendra. Susan masih berstatus mahasiswi yang sedang mempelajari kebudayaan Jawa di keraton. Sedangkan Sawung aktif bermain musik dan teater. Hanya setahun setelah itu keduanya memutuskan untuk menikah.

Alasan lain, Jogja adalah kota tempat Sawung Jabo mulai meniti karir. “Di kota inilah saya mulai berkarya, dan tempat saya mengalami kebangkitan dalam bermusik,” kata Sawung kepada wartawan saat rombongan berhenti sejenak di depan keraton.

Ketika ditanya alasannya memilih pawai bersepeda, sambil tertawa lelaki bernama asli Mochamad Djohansyah ini mengatakan, “Acara seperti ini kan tidak perlu biaya banyak, tapi tepat sasaran.”

Cerita Sawung dibenarkan Susan. Kepada Harian Jogja ia berkata bahwa Jogja merupakan kota bersejarah baginya dan suami. Ada banyak kenangan yang ia alami di Jogja. Meski sekarang tinggal di Sydney, Australia, namun kenangan-kenangan tersebut masih melekat. Karena itulah, ketika ada usulan untuk mengadakan resepsi pernikahan anaknya di Jogja, Susan langsung mengiyakan.

“Konsepnya sederhana, tapi unik sekali,” demikian ujar Susan menanggapi acara sore itu.

Teman SMA
Diarak keliling kota dengan sepeda tentunya menjadi pengalaman mengesankan bagi Kate. Ketika dimintai komentarnya, gadis bermata biru ini berkata sambil tersenyum renyah, “I'm really happy. It's very exciting.”

Lebih lanjut Kate bercerita tentang kisah cintanya dengan Johan. Keduanya adalah teman satu SMA. Namun keduanya belum menjalin cinta saat masih sama-sama sekolah. “Nothing special,” ujar Kate sambil melirik Johan ketika menceritakan masa-masa awal pertemuannya dengan sang suami.

Namun diam-diam mereka rupanya sama-sama menyimpan perasaan tertentu. Saat liburan bersama di Jepang dipilih Johan sebagai waktu yang tepat untuk meminang Kate. Pucuk dicinta ulam tiba, Kate menerima lamaran Johan. Keduanyapun lantas mengikat janji sehidup-semati.

Pawai bersepeda keliling kota Jogja, Minggu (12/4), lalu merupakan rangkaian terakhir dari perayaan pernikahan Johan dan Kate. “Akad nikahnya sudah di Bali,” cerita Susan. Dari Bali, acara lalu dilanjutkan dengan sebuah resepsi di Surabaya, tempat kelahiran Sawung Jabo. Dan terakhir dipilihlah Jogja sebagai kota pamungkas.

Sambil berseloroh, Susan mengatakan kalau ada seorang temannya yang menyebut acara pernikahan Johan dan Kate dengan istilah 'rabi tour'. “Pernikahan tiga kota, seperti tur saja,” kata dosen Bahasa Indonesia di beberapa universitas di Ausralia ini sambil tertawa lepas. (M5)

Catatan: Ini naskah asli dari feature berjudul "Pengantin Pilih Naik Onthel" di rubrik 'Pagelaran' Harian Jogja edisi Senin, 13 April 2009 lalu.

Sabtu, 11 April 2009

Kisah Seorang Caleg Perempuan Jogja

Intermezzo - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Intermezzo, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Kisah Seorang Caleg Perempuan Jogja
Link Tittle : Kisah Seorang Caleg Perempuan Jogja

lihat juga


Pemilu telah usai. Proses penghitungan perolehan suara sedang berjalan. Untuk sementara Partai Demokrat masih memimpin dengan selisih yang cukup besar dengan Partai Golkar dan PDI Perjuangan di bawahnya. Meski belum selesai dihitung, tapi banyak pengamat dan juga masyarakat awam yang meyakini kalau Partai Demokrat akan menang besar dalam Pemilu kali ini.

Whatever. Saya koq malah tertarik membahas caleg-caleg yang tidak lolos ke Senayan. Kebetulan sekali ada seorang teman yang jadi caleg dari satu partai berbasis Muhammadiyah. Saya tidak tahu apakah dia lolos atau tidak jadi anggota DPRD Kab. Sleman. Namun melihat cerita pencalonannya koq saya malah yakin kalau si teman ini tadi tidak lolos. Kasihan? Bukan dia yang perlu dikasihani, tapi partai yang mengajukannya. :)

Teman saya ini sudah sejak lama saya tahu aktif di partai dimaksud. Dan terakhir bertemu ia menjadi pengurus DPD alias tingkat kabupaten. Nah, paling terakhir ketemu dianya sudah jadi caleg dari partai itu. Kebetulan sekali waktu itu saya sedang magang di SKM Malioboro Ekspres yang core beritanya tentang Pemilu dan segala pernak-perniknya. So, sayapun main ke rumahnya untuk diwawancarai. Semacam profil caleg perempuan begitulah.

Namanya juga teman, sesampainya di sana bukan wawancara yang terjadi. Kami ya cuma ngobrol ngalor-ngidul tak tentu arah sambil sesekali saja menyingung-nyinggung tentang visi-misinya. Nah, cerita baru jadi seru setelah saya mengajukan pertanyaan sepele, "Kok bisa jadi caleg sih?" Hehehe, kalau bukan teman mungkin saya sudah disuruh pulang gara-gara tanya begitu.

Maka teman saya itupun bercerita. Katanya, ia sebenarnya tidak ada niatan untuk menjadi caleg. Ia hanya senang berorganisasi. Dan karena tokoh pendiri partai di mana ia mencalonkan diri itu sangat ia kagumi, jadilah ia ikut jadi pengurus. Tanpa imbalan apa-apa tentu saja. Semata-mata hanya demi menunjukkan kesetiaan pada partai dan sang tokoh yang sangat ia hormati dan kagumi. Terus, kenapa sampai ia bisa jadi caleg? Rupa-rupanya untuk memenuhi kuota keterwakilan perempuan yang disyaratkan sebanyak 30% dari total caleg yang diajukan. Jadilah teman saya ini caleg pelengkap.

Berbeda dengan teman-temannya sesama caleg yang rata-rata membayar Rp 15 juta hanya untuk mendaftarkan diri saja, teman saya ini tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk partai. Nah, yang jadi masalah kemudian adalah: dia benar-benar tidak punya cukup modal untuk berkampanye. So, waktu saya temui ia hanya diam saja di rumah. Saya tanya kegiatan kampanyenya dia bilang tidak pernah kampanye ke mana-mana. Bahkan tetangga kanan-kirinya pun tidak ada yang tahu kalau dia jadi caleg. Walah...!

Cerita punya cerita, sebenarnya teman saya ini ingin sekali memproduksi alat-alat kampanye. Ya, seperti caleg-caleg lain yang punya kalender, kaos, baliho, atau sekedar sticker untuk ditempel di muka pintu. Tapi apalah daya. Boro-boro untuk mencetak alat-alat kampanye, lha wong dia saja masih bingung mencari pekerjaan tetap yang bisa menghidupi dirinya koq. Hmmm....

Usai Pemilu kemarin saya belum sempat ketemu dia lagi. Tapi saya koq yakin dia tidak bakal terpilih. Bagaimana mungkin terpilih kalau modalnya cuma 2 keluarga yang tak lain adalah saudaranya sendiri di dapil di mana ia dicalonkan. OMG!

Senin, 06 April 2009

Wisata Pantai Gunungkidul

Intermezzo - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Intermezzo, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Wisata Pantai Gunungkidul
Link Tittle : Wisata Pantai Gunungkidul

lihat juga


Gunungkidul, propinsi paling terbelakang di Jogja. Selain letaknya yang paling jauh dari pusat kota Jogja, Gunungkidul juga tandus. Maklum, daerah pegunungan. Meski begitu jangan sepelekan kabupaten yang satu ini. Di balik ketandusan tanahnya, Gunungkidul menyimpan banyak potensi wisata pantai. Nah, kebetulan sekali belum lama ini saya dan teman-teman kos melakukan tour ke seluruh pantai-pantai yang ada di Gunungkidul. Gila, seru banget, Bro!

Tour yang saya sebut Tour de Gunungkidul ini dilaksanakan dua kali. Jaraknya seminggu. Minggu pertama kami hanya mengunjungi Pantai Ngerenehan, sebuah pantai kecil di mulut sebuah teluk. Pantainya lumayan pendek, sekitar 500 meter saja. Di kiri-kanan pantai berdiri bukit karang terjal yang menjorok hingga ke tengah laut. Di mulut teluk terdapat batu-batu karang yang meredam ombak deras Laut Selatan. Dengan demikian ombak di Pantai Ngerenehan tidak tinggi sehingga aman untuk mandi.





Di Ngerenehan kita tak cuma bisa mandi, tapi juga makan ikan. Setiap hari para nelayan hilir-mudik ke laut melalui pantai ini, jadi ikannya sangat melimpah. Tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa makan ikan laut di Ngerenehan. Harganya cukup bersahabat koq. Sebagai gambaran, teman saya membeli seekor ikan hiu kecil plus 4-5 ekor ikan pari dengan harga Rp 15.000 saja. Tidak ditimbang? Hehehe, nelayan di sana main kira-kira saja, Bro. Asal sudah deal ya sudah, ikan dilepas. Asyik kan?



Pantai Sepanjang
Seminggu setelah mengunjungi Ngerenehan, kami berangkat lagi ke selatan Jogja. Kali ini tujuannya Pantai Sepanjang. Di mana itu? Tidak jauh dari Ngerenehan koq. Hanya sekitar 5 kilometer ke arah timur, sebelum Pantai Baron. Di sini pemandangannya cukup indah. Sesuai namanya, Pantai Sepanjang benar-benar panjang. Melihat ke kanan-kiri hanya hamparan pasir putih yang memanjang.



Lain dengan Ngerenehan, di Sepanjang kita tidak boleh mandi. Masuk ke laut saja kalau bisa jangan. Kenapa? Arusnya deras, Bro. Selain itu kontur pantainya juga sangat curam. Sekali kita masuk ke laut dan terseret, bakalan repot deh yang menolong. So, kalau di sini enaknya cuma jalan-jalan menyusuri pantai, terus naik ke bukit untuk melihat hamparan Laut Selatan, dan kalau sudah capek istirahat di gubuk-gubuk yang banyak tersebar di sepanjang pinggiran pantai.



Bagaimana? Asyik, bukan? Selama ini nama Ngerenehan dan Sepanjang kalah tenar dibanding Pantai Baron, Trisik, Kukup, dan pantai-pantai Gunungkidul lain yang ada di brosur-brosur keluaran Dinas Pariwisata Jogja. Padahal pesona kedua pantai ini tidak kalah dibanding pantai-pantai lain. Dan satu kelebihan utama keduanya adalah: masih sepi pengunjung!

Setelah puas mengagumi pemandangan alam di Sepanjang, perjalanan kami lanjutkan ke timur. Ya, kami terus lanjut ke sebelah timur. Semua pantai kami masuki meski hanya melihat secara sekilas-sekilas saja sambil lewat. Sampai di suatu desa, eh, lha koq ban belakang motor saya bocor. Bukan bocor sih, orang tempat pentilnya secara ajaib bisa lepas dari ban. Jadilah kami berhenti dulu karena saya harus mengganti ban. Untung saja ada bengkel tak jauh dari tempat kami berhenti. :)



Akhirnya, sekitar jam 7 malam sampailah kami di pantai paling timur Jogja, Pantai Sadeng. Pantai ini merupakan sebuah pelabuhan kecil tempat para nelayan berlabuh setelah mencari ikan di laut. Ikan-ikan di sini juga murah-murah, Bro. So, kamipun sepakat patungan membeli ikan dan ujung-ujungnya tentu saja makan-makan. :)) Puas makan sekitar jam 8 malam. Gila, begitu mau pulang koq inget kalau waktu itu malam Jum'at. Walah....

Btw, meski capeknya bukan main, tapi perjalanan tersebut benar-benar menyenangkan. Suatu saat ingin saya mengulangi perjalanan itu lagi. Siapa mau ikut?

Minggu, 05 April 2009

Menata Kamar Kos Menjadi Surga

Intermezzo - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Intermezzo, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Menata Kamar Kos Menjadi Surga
Link Tittle : Menata Kamar Kos Menjadi Surga

lihat juga


"Rumahku surgaku". Anda yang beragama Islam pasti sudah sangat familiar dengan kata-kata itu. Ya, kalimat pendek namun penuh makna tersebut adalah ucapannya Rosulullah Muhammad SAW. Sebuah konsep tentang keluarga bahagia. Keluarga yang menyenangkan, sehingga berada di dalamnya tak ubahnya seperti di dalam surga. Baity jannaty, begitu redaksi aslinya di dalam bahasa Arab.

Buat yang sudah menikah, "rumahku surgaku" bisa dilakukan bersama-sama pasangan. Ya, apalagi kalau bukan menikmati surga dunia. Hehehehe. Eits, jangan berpikiran ngeres dulu lho. Surga dunia yang saya maksud adalah membentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah. Sebuah keluarga yang aman tentrem toto raharjo. Nah, kalau yang belum menikah bagaimana dunks caranya?

Ada banyak jalan mewujudkan rumah yang serasa surga. Bagi yang masih sendirian dan tinggal di kos (seperti saya), kita juga bisa koq membangun sebuah surga di kos kita. Caranya? Salah satunya, ini cuma salah satunya saja lho, adalah dengan menata kos-kosan sebaik mungkin sehingga kita merasa betah di dalamnya. Buatlah kamar kos senyaman mungkin, dan enak dipakai istirahat. Tata serapi mungkin, dan buatlah kamar menjadi tempat kembali yang selalu dirindukan bila kita bepergian.

Kalau catnya sudah agak pudar ya dicat lagi. Warna apa yang cocok untuk kamar kos? Ini tentu terserah Anda, cari inspirasi memilih warna ruangan dengan melihat-lihat iklan interior & property atau membaca-baca artikel interior kantor yang banyak tersebar di internet. Tanya Mbah Google, pasti dia tahu harus ke mana mencari informasi-informasi itu.

Buat yang jauh dari rumah dan orang tua, kamar kos adalah tempat kembali satu-satunya. Di sanalah semua kegiatan kita bermula dan kemudian juga berakhir. Jadi, buatlah kamar kos senyaman mungkin agar setiap hari yang kita mulai selalu ceria. Dan setiap istirahat kita bisa merasa nyaman.

Itu saja. Semoga bermanfaat.

Senin, 23 Maret 2009

Kania Sutisnawinata Naik Metro Mini...

Intermezzo - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Intermezzo, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Kania Sutisnawinata Naik Metro Mini...
Link Tittle : Kania Sutisnawinata Naik Metro Mini...

lihat juga


Tahu Kania Sutisnawinata kan? Itu lho, presenter Metro TV yang sering berkacamata (sepertinya dia satu-satunya presenter Metro TV yang berkacamata deh). Orangnya agak kecil-kecil, berambut pendek. Dulu ia sempat menjadi host Indonesia Now bersama Dalton Tanonaka. Sekarang Kania jarang kelihatan. Entah dapat tugas apa dari Metro TV yang membuatnya tidak sering lagi tampil di layar kaca The Election Channel itu. Apa karena sekarang Metro TV sudah punya banyak presenter baru ya? Entahlah.

Kenapa pagi-pagi begini sudah ngomongin Kania Sutisnawinata? Ceritanya pas lagi asyik berfesbuk ria saya menemukan satu tautan yang mengejutkan. *halah* Mau tahu apa isi videonya? Kania Sutisnawinata naik metro mini? Ah, bukan! Isinya ternyata sebuah video berisi adegan ketika Kania sedang menutup Headline News. Lho, bukannya sudah biasa tuh Kania membawakan Headline News? Iya, benar. Tapi yang luar biasa, presenter top sekelas Kania-pun ternyata masih bisa keseleo lho. Tidak percaya? Yuk, buktikan sendiri! Lihat videonya setelah mengklik link bertuliskan "Lanjutkan membaca "Kania Sutisnawinata Naik Metro Mini" di bawah ini. Hehehe...



Gimana, lucu kan? Kalau saja Surya Paloh lihat bisa-bisa Kania Sutisnawinata langsung kena tegur. Masa iya seenaknya saja mengganti nama stasiun TV tempatnya bekerja. Mending kalau gantinya dengan nama yang lebih bagus. Lha, kalau Metro TV jadi metro mini seperti tadi itu gimana coba? :) Sayangnya tidak ada keterangan kapan kejadian ini berlangsung.

Btw, selamat pagi, Indonesia...

Catatan: Video ini sudah ada di YouTube sejak kira-kira setahun yang lalu. Tapi pura-pura gak tahu aja yah? :)

Posting ini telah dikopi mentah-mentah oleh forum IndonesiaIndonesia.com. Silakan lihat kopiannya di sini. Duh, kalo gak bisa buat isi/topik mbok ya gak usah buat forum segala, Bung. :(


Jumat, 09 Januari 2009

Save Our PSS, Inspirasi dari Sleman

Intermezzo - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Intermezzo, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Save Our PSS, Inspirasi dari Sleman
Link Tittle : Save Our PSS, Inspirasi dari Sleman

lihat juga


Untuk kepentingan peliputan rubrik olahraga di Malioboro Ekspres, saya janjian bertemu dengan Mbak Deni Aryanti. Siapa dia? Mbak yang satu ini adalah pentolan Slemanona, wadah supporter wanita PSS Sleman. Setelah berkoordinasi panjang melalui serangkaian sms, akhirnya kami sepakat untuk bertemu di Kedai Kopi yang berada di perempatan Kentungan, Jl. Kaliurang. Dari janji jam tujuh malam, bincang-bincang baru dimulai jam setengah delapan. Sudah biasa. :)

Ketertarikan saya menemui Mbak Ined (sapaan akrabnya) bermula dari situs SaveOurPSS.com. Ceritanya waktu sedang mencari-cari referensi tentang PSS Sleman saya malah menemui situs baru tersebut. Tanpa pikir panjang lagi langsung saja saya kunjungi. Dari nama situsnya, sepertinya bakal cocok dengan tema tulisan yang akan saya angkat untuk edisi mendatang. Ternyata dugaan saya benar. Save Our PSS adalah sebuah gerakan untuk menyelamatkan PSS Sleman dari kebangkrutan.

Seperti diketahui bersama, sejak pemerintah mengeluarkan PP No. 58 Tahun 2008, klub-klub yang selama ini mengandalkan APBD sebagai sumber pendanaan mulai kelimpungan. Terlebih setelah Menteri Dalam Negeri menyatakan kepala daerah yang nekat mengalirkan dana APBD untuk pembiayaan klub dapat dikenai sanksi. PSS yang biasanya memperoleh dana 5 milyar dari APBD jadi gigit jari. Gaji pemain tertunda, kontrak tidak jelas, pendanaan untuk putaran keduapun masih gelap.

Melihat kondisi itu koran-koran lokal di Jogja mulai meramalkan kejatuhan PSS. Judul berita yang disajikan tak jauh-jauh dari kata "PSS bangkrut", dan sebagainya. Okezone.com bahkan mempertanyakan eksistensi PSS ketika menurunkan berita tentang ditolaknya permohonan Kantor Keuangan Pemkab Sleman yang meminta dispensasi dari Mendagri untuk mengucurkan dana ke PSS. Intinya, PSS Sleman benar-benar di ujung tanduk, baik eksistensi maupun reputasinya.

Mulanya saya diminta untuk mengurai kebangkrutan PSS tersebut. Namun di tengah pencarian referensi koq malah bertemu dengan Save Our PSS (SOP). Ya sudah, karena bagi saya gerakan SOP ini sangat kreatif dan juga bisa menjadi inspirasi bagi kelompok suporter lain di Jogja, akhirnya saya memutuskan untuk terlebih dahulu mengangkat tentang SOP. Kebetulan sekali, saya adalah (calon) wartawan pertama yang mendatangi SOP. Dan kalau hasil liputan tersebut dimuat, maka Malioboro Ekspres akan jadi koran pertama yang mengangkat tentang SOP. Senangnya...

Sesuai namanya, misi SOP adalah menyelamatkan PSS agar tetap eksis di Liga Indonesia. Program yang digawangi anak-anak Slemania ini bertujuan menggalang dana sebanyak-banyaknya untuk PSS. Berbagai macam kegiatan sudah mereka susun. Di antaranya mengadakan lomba mewarnai untuk anak SD & TK, lomba futsal antar SMA, lomba desain kaos PSS untuk mahasiswa, talkshow sepakbola, dan masih banyak lagi. Saat ini yang sudah berjalan adalah penjualan kaos 'Save Our PSS'. Saking cintanya pada PSS, teman-teman SOP rela patungan untuk biaya pencetakan kaos. Luar biasa!

Saya pikir semua kelompok suporter di Indonesia patut mencontoh apa yang dilakukan Slemania dengan Save Our PSS-nya. Bukankah sebagian besar klub di Liga Indonesia masih mengandalkan dana APBD? Buktikan kalau suporter itu benar-benar dapat memberikan support bagi klub. Dan buktikan pula kalau sebagai pendukung setia kelompok suporter dapat melakukan apa saja demi mempertahankan keberlangsungan hidup klub kesayangannya. So, apa yang bisa Anda lakukan untuk membantu klub kesayangan Anda dari kebangkrutan?

Oya, hasil liputan saya bisa dibaca di Malioboro Ekspres edisi minggu depan, terbit hari Senin dan dijual eceran seharga Rp 2.000/eks. Baca ya? :))

Pesan layanan masyarakat: Kaos 'Save Our PSS' bisa dibeli seharga Rp 50.000 di Toko Sport Fina, Jl. Kentungan B 27 KM 6,5 Condongcatur, Depok, Sleman. Lokasinya tepat di sebelah selatan lapangan Kentungan. Kalau masih bingung silakan telpon ke (0274) 886241.