Tampilkan postingan dengan label Indonesiana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesiana. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 November 2009

Koran-koran Berguguran...

Indonesiana - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Indonesiana, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Koran-koran Berguguran...
Link Tittle : Koran-koran Berguguran...

lihat juga


Pertama kali ke Pemalang, saya ingat ada dua koran daerah yang secara khusus mengambil segmen pembaca di wilayah eks Karesidenan Pekalongan. Yang pertama Radar Tegal milik Jawa Pos Group, dan yang kedua Nirmala Post milik seorang pengusaha ternama di Tegal. Eh, waktu saya menikah bulan Agustus lalu, Nirmala Post sudah lenyap dari peredaran. Tinggallah Radar Tegal sendirian sebagai koran lokal di wilayah eks Karesidenan Pekalongan.

'Mati'-nya Nirmala Post ini menjadi kabar buruk bagi saya. Pasalnya saya sempat berencana magang di koran tersebut, dan syukur-syukur bisa kecantol jadi wartawan tetap. Tapi apa daya, koran yang memang dimaksudkan untuk menyaingi Radar Tegal itu harus mundur dari persaingan di tahun ketiganya.

Setelah menikah dan berbulan madu (*halah*), saya kembali mendapati berita tentang menghilangnya satu koran di Jogja. Ya, Koran Merapi, koran kuning alias koran yang banyak memuat berita kriminal dan mistis itu diberhentikan peredarannya oleh Kedaulatan Rakyat Group sejak 1 September 2009. Sebagai gantinya, PT BP Kedaulatan Rakyat menerbitkan koran baru; KR Bisnis.

Jauh sebelum berhenti-beredarnya Koran Merapi, mingguan Malioboro Ekspres tempat saya pertama kali mengawali jalan sebagai jurnalis sudah lebih dulu gulung tikar. Tidak berlanjutnya Malioboro Ekspres jadi semakin tragis karena koran ini terbit mingguan dan baru berusia kurang dari enam bulan. Saya di sana sekitar 3 bulan, lalu pindah untuk magang di Harian Jogja selama dua bulan satu minggu. Sekeluarnya saya dari Harian Jogja, Pemred Malioboro Ekspres memberi kabar kalau koran itu tidak lagi terbit.

Berjatuhannya media cetak sebenarnya sudah diprediksi oleh banyak pengamat. Kian mahalnya harga kertas serta semakin majunya dunia Teknologi Informasi membuat media cetak susah bersaing dengan media elektronik, dan belakangan dengan media internet. Dengan segala keterbatasannya, media cetak tidak bisa mengejar kecepatan gerak media internet dan juga media elektronik. Bagaimana bisa bersaing? Media cetak menyajikan berita kemarin, sedangkan media elektronik menyajikan berita-berita yang terjadi hari ini juga. Media internet bahkan selalu di-update setiap saat dengan berita-berita terbaru. Alhasil, hanya media cetak yang benar-benar memiliki konsumen loyal dalam jumlah besar saja yang mampu bersaing.

Fenomena ini sebenarnya juga pernah disampaikan seorang rekan yang jurnalis senior dalam beberapa kesempatan berbincang dengan saya. Waktu itu saya masih getol-getolnya ingin jadi jurnalis media cetak dan mengabaikan ajakannya untuk mengembangkan sebuah situs berita lokal. Tapi setelah melihat dengan mata kepala sendiri keambrukan Nirmala Post dan Koran Merapi, saya jadi berubah pikiran.

Hmmm, jadi merancang-rancang nih, kira-kira daerah mana ya yang punya potensi besar untuk saya garap jadi situs berita lokal? Teman-teman bisa memberi masukan?

NB: Gambar dari http://playyess.blogspot.com/2008/09/bermain-kembali-bareng-koran-merapi.html

Sabtu, 02 Mei 2009

Pepsi dan Coca Cola Mengandung Ekstrak Babi?

Indonesiana - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Indonesiana, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Pepsi dan Coca Cola Mengandung Ekstrak Babi?
Link Tittle : Pepsi dan Coca Cola Mengandung Ekstrak Babi?

lihat juga


Kian santernya pemberitaan tentang virus flu babi rupanya menimbulkan keresahan banyak kalangan. Lihat saja bagaimana pemerintah dan masyarakat sama-sama kelabakan menanggapi berita ini. Jadi ingat waktu isu flu burung sedang hangat-hangatnya beberapa waktu lalu. Namun kali ini persoalan menjadi lain karena yang 'terlibat' adalah babi, hewan yang oleh penganut agama Islam (dan Yahudi?) tidak boleh dikonsumsi dalam bentuk apapun.

Berbarengan dengan santernya pemberitaan tentang flu babi, beberapa isu terkait dengan babi pun bermunculan ke permukaan. Salah satunya kabar yang saya peroleh dari seorang kenalan melalui imel. Dan tampaknya imel tersebut ia peroleh dari orang lain pula karena berkode Trs alias forward. Isinya? Dari judulnya saja Anda pasti sudah tahu apa isinya. Ya, judul itulah yang saya pakai untuk judul posting kali ini. Mau tahu isinya seperti apa? Silakan teruskan membaca!

Pepsi dan Coca Cola Mengandung Ekstrak Babi - TERBUKTI!

Baca dan Sebarkan !

Berita Buruk / Mengejutkan :

Pepsi dan Coca Cola mengandung ekstrak babi.
Kebanyakan orang2 tidak mengkonsumsi Pepsi dan Coca-Cola karena kandungan unsur kimia didalamnya yang sangat membahayakan tubuh seperti excessive carbonates, dll.

Namun, sekarang, tidak ada alasan yang lebih berbahaya lagi selain informasi berikut. Para ilmuwan dan peneliti di bidang kesehatan menyatakan bahwa mengkonsumsi Pepsi & Cola dapat mengakibatkan kanker dikarenakan bahan dasar pembuatannya berasal dari daging babi.

Babi adalah satu-satunya binatang yang mengkonsumsi sampah, kotoran hewan, dan urine. Pola makan babi ini menghasilkan tumbuhnya bakteri dan kuman yang sangat mematikan.

Berdasarkan laporan yang ditulis dalam Jordanian magazine, Rektor Delhi University Science and Technology , Dr. Mangoshada, secara ilmiah telah membuktikan bahwa bahan dasar pembuatan Pepsi dan Cola mengandung ekstrak yang berasal dari isi perut babi yang dapat mengakibatkan kanker dan penyakit mematikan lainnya.

Indian university menyelenggarakan uji terhadap dampak pengkonsumsian Pepsi dan Coca Cola. Hasil uji ini membuktikan bahwa pengkonsumsian Pepsi dan Coca memicu pada peningkatan kecepatan denyut jantung dan tekanan darah rendah.

Dan juga, pengkonsumsian 6 botol Pepsi atau Cola sekaligus dapat mengakibatkan kematian. Pepsi dan Coca Cola mengandung unsur2 kimia seperti: carbonic and phosphoric acids, citric acid yang dapat merusak gigi dan mengakibatkan kerapuhan pada tulang. Jika tulang (tulang disini adalah tulang yang berasal dari kerangka2 mayat yang telah dikuburkan selama 30 tahun) diletakkan dalam segelas Pepsi, maka tulang tersebut akan lumer selama 1 minggu.

Penelitian ini menetapkan bahwa calsium dapat larut dalam Pepsi dan Pepsi juga dapat melemahkan kandung kemih, ginjal, dan 'membunuh' pankreas dimana hal ini dapat mengakibatkan penyakit diabetes dan infeksi.

Penggemar Pepsi atau Coca-Cola, anda tidak perlu cemas karna masih banyak minuman-minuman lain di bumi ini, dan kita juga punya banyak alternatif minuman kesehatan seperti: jus buah, air kelapa, berbagai macam susu, dll, dan minuman2 ini juga sangat mudah didapatkan, bahkan di toko2 kecil skalipun.

MOHON SEBARKAN PESAN INI KEPADA SELURUH TEMAN DAN KONTAK YANG ADA DI MAIL ADDRESS ANDA


Nah, sudah tahu kan isinya bagaimana? Meskipun dalam imel tersebut disertakan hasil penelitian dari sejumlah universitas, namun saya pribadi belum bisa mempercayai kebenaran berita ini karena hanya disebarkan via imel. So, meskipun ada pesan untuk menyebarkan kabar ini, saya tidak menyarankan Anda untuk menyebar-luaskannya sebelum ada bukti otentik dan ilmiah mengenai hal ini. Tapi pilihan tentu saja di tangan Anda. :))

Senin, 30 Maret 2009

Berapa Lama Waktu untuk Nyoblos?

Indonesiana - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Indonesiana, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Berapa Lama Waktu untuk Nyoblos?
Link Tittle : Berapa Lama Waktu untuk Nyoblos?

lihat juga


Pemilu tinggal hitungan hari. Di tengah ingar-bingar kampanye yang dilakukan para kontestan Pemilu, berita-berita tentang kurang beresnya distribusi logistik Pemilu berseliweran di televisi. Akankah Pemilu 2009 mundur? Kalau kata Detik.com sih jangan. Karena kalau sampai mundur akan lebih banyak kerugiannya ketimbang manfaatnya.

Pemilu mendatang benar-benar ribet. Bagaimana tidak? Selain jumlah partai politik peserta Pemilu yang kelewat banyak, pemandangan di atas kertas suara bakal dipenuhi pula oleh ratusan nama calon legislator alias caleg. Eits, itu baru satu kertas suara lho. Padahal Pemilu besok pemilih diminta memberikan empat suara sekaligus. Masing-masing untuk DPRD II (Kabupaten/Kota), DPRD I (Propinsi), DPR RI, dan DPD. Yang jadi pertanyaan saya, berapa lama waktu yang bakal dibutuhkan oleh setiap pemilih untuk memberikan suaranya?

Pertanyaan yang sepele kelihatannya. Tapi coba bayangkan berapa besarnya masalah yang bisa ditimbulkan oleh hal yang sepele ini di lapangan. Hal ini terkait dengan durasi pelaksanaan pemilihan pada saat hari H, yakni tanggal 9 April 2009 nanti.

Dulu, jamannya Indonesia cuma punya 3 partai politik, setiap pemilih hanya butuh waktu paling lama 1 menit untuk menyalurkan suaranya. Jumlah pilihan yang hanya 3 membuat ukuran kertas suara kecil, cukup 2-3 lipatan saja untuk membuka dan menutupnya. Selain itu, pemilih juga tak perlu menghabiskan waktu berlama-lama mencari pilihannya karena sekali pandang sudah terlihat semua. Tinggal coblos yang mana pilihannya. Hijau, kuning, atau merah.

Pemilu 1999 dan 2004 memang diikuti banyak parpol, tapi caranya cukup dengan mencoblos lambang partai. Tidak ada juga deretan nama caleg di bawah tiap-tiap logo partai. Dengan demikian ukuran kertas suara tidaklah terlalu besar, dan tentu saja waktu yang diperlukan masing-masing pemilih juga tidak terlalu lama.

Nah, Pemilu April mendatang benar-benar beda. Ada 48 partai yang bertanding, plus ratusan calon legislator. Masalah pertama datang dari besarnya ukuran kertas suara. Saking besarnya, bilik suara sumbangan Jepang yang akan dipergunakan pada Pemilu nanti tidak mampu menutupi lebar kertas. Hati-hati, bisa-bisa orang di sebelah atau belakang Anda tahu apa yang Anda pilih. Bukan itu saja. Lebarnya kertas juga membuat surat suara tidak muat waktu dimasukkan ke dalam kotak suara (yang juga masih menggunakan bantuan dari Jepang).

Masalah kedua timbul berkaitan dengan cara baru yang diterapkan KPU untuk melakukan pemilihan, yakni dengan mencentang alias memberi tanda cek pada pilihan. Sosialisasi yang kurang memadai membuat banyak pemilih, terutama yang jauh dari pusat keramaian dan tidak punya akses informasi, membutuhkan waktu lebih lama ketika di bilik suara. Petugas di TPS bisa jadi bakal lebih direpotkan oleh para pemilih yang kebingungan mencari pilihannya dan tidak tahu cara melakukan pilihan.

Dari dua masalah di atas, Pemilu mendatang rasa-rasanya akan menjadi Pemilu terlama sepanjang sejarah Indonesia. Coba saja hitung berapa lama waktu untuk membuka lipatan kertas suara, berapa lama waktu untuk meletakkan kertas suara tepat di meja dalam bilik suara yang sempit, berapa lama waktu untuk mencari letak pilihan di antara sekian gambar dan deretan nama, dan berapa lama waktu untuk melipat kertas suara. Kalikan empat karena kertas suara yang harus dicentang ada empat.

Misalkan saja masing-masing pemilih membutuhkan waktu rata-rata 2 menit untuk melakukan pemilihan, dan di satu TPS ada 350 pemilih (KPU membolehkan hingga maks. 500 pemilih/TPS), maka TPS tersebut memerlukan waktu 700 menit. Waktu 700 menit itu sama dengan 11,5 jam lebih! Artinya, kalau pemilihan dimulai pukul 08.00 pagi, maka pemilihan baru akan selesai pukul 21.00-21.30 (tidak termasuk waktu istirahat). Tak terbayangkan betapa letihnya para petugas di TPS dibuatnya. Padahal setelah pemilihan suara selesai, jumlah suara yang masuk mesti dihitung sesegera mungkin dan harus selesai hari itu juga. Nah, lho!

Duh, Pemilu 2009 benar-benar rumit ya? Tidak cuma rumit, tapi juga mahal. Maka, kalau saya boleh berpendapat, sebaiknya KPU membuat aturan tegas mengenai parpol peserta Pemilu untuk tahun 2014 mendatang. Buatlah sistem pemilu seramping dan seefisien mungkin agar pemilih tak bingung, petugas TPS tidak keletihan, dan biaya yang dikeluarkan Pemerintah tidak banyak. Setuju?

Minggu, 29 Maret 2009

Iklan Caleg di Internet

Indonesiana - Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul Indonesiana, saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Iklan Caleg di Internet
Link Tittle : Iklan Caleg di Internet

lihat juga


Konon, keberhasilan Barack Hussein Obama memenangi Pemilu AS akhir tahun lalu berkat agresifnya kampanye online yang dilakukan tim sukses Barry. Memang, menjelang Pemilu tim sukses anak tiri Soetoro ini sibuk menggarap komunitas online dengan membuat profil Obama di berbagai situs jejaring sosial. Di antaranya di Facebook, MySpace, LinkedIn, Friendster, YouTube, dan Twitter. Selain itu tim sukses Obama juga membuat situs khusus tentang Obama, www.barackobama.com, dan situs khusus bagi para donatur yang ingin memberi sumbangan di ObamaDonations.com.

Keaktifan Barack Obama di internet merupakan satu poin penting bagi kemenangannya. Menurut data yang dikeluarkan InternetWorldStats.com, pengguna internet di Amerika Serikat sebanyak 218,3 juta. Angka ini merupakan 71,9% dari total populasi AS yang tercatat sebanyak 303,8 jiwa. Terlebih, internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat AS. So, merajai internet membantu Obama untuk dapat menang telak atas McCain.

Di Indonesia, internet rupanya juga mulai dilirik oleh para politisi. Di Facebook, iklan Gerindra/Prabowo sudah muncul sejak pertengahan tahun lalu. Disusul dengan iklan-iklan para calon legislator. Lalu yang tak kalah menarik adalah iklan caleg di situs PPC. Saya sempat merekam sebuah iklan caleg yang nongol dari script KlikSaya.



Fenomena ini bolehlah kita bilang 'mencontek' strategi kampanye Obama. Namun, satu pertanyaan kritis yang muncul kemudian adalah, sejauh mana efektifitas iklan caleg di internet? Ini mengingat penetrasi penggunaan internet di Indonesia yang baru mencapai angka 10% dari total populasi. Menurut data dari InternetWorldStats, pengguna internet di Indonesia baru sebanyak 25 juta orang dari 237.512.355 penduduk. Masih terbilang sedikit. Bandingkan dengan Malaysia atau Singapura yang angka pengguna internetnya masing-masing lebih dari 60%.

Selain itu, sistem pemilihan di Indonesia yang berdasarkan basis daerah pemilihan (dapil) tertentu membuat iklan caleg di internet jadi tidak efektif. Kenapa? Karena iklan caleg DPR RI untuk dapil DI Yogyakarta, misalnya, bakal muncul dan bisa dilihat oleh pengguna internet di luar Jogja. Apa untungnya iklan tersebut ditampilkan pada mereka yang notabene bukan calon pemilih di Jogja?

Facebook belum bisa melakukan filter iklan berdasarkan kota atau propinsi. Teknologi Facebook baru memungkinkan pemasang iklan untuk memilih audiens berdasarkan negara. Sedangkan di KlikSaya, dan situs PPC lokal lainnya, juga tidak ada filter yang dapat membatasi penayangan iklan. KlikSaya hanya bisa melakukan filter tema blog, yakni di blog mana saja iklan tersebut akan ditampilkan.

Melihat dua hal tersebut, rasa-rasanya iklan caleg di internet akan sia-sia deh. Pasalnya, selain komunitasnya sedikit, iklan tersebut juga tidak memiliki target yang jelas. Masih untung kalau tidak dikerjai para blogger iseng, dengan cara mengklik iklan mereka sering-sering misalnya. Tentu saja yang diklik iklan di blog lain. Kalau ngeklik iklan di blog sendiri ya sama saja bunuh diri. :))

Sekedar saran buat para caleg yang suka pasang iklan di Facebook atau KlikSaya, alangkah lebih baiknya kalau dana iklan online itu disumbangkan ke para korban jebolnya tanggul Situ Gintung. Iya kan?