Senin, 06 April 2009

Wisata Pantai Gunungkidul

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Wisata Pantai Gunungkidul
Link Tittle : Wisata Pantai Gunungkidul

lihat juga


Gunungkidul, propinsi paling terbelakang di Jogja. Selain letaknya yang paling jauh dari pusat kota Jogja, Gunungkidul juga tandus. Maklum, daerah pegunungan. Meski begitu jangan sepelekan kabupaten yang satu ini. Di balik ketandusan tanahnya, Gunungkidul menyimpan banyak potensi wisata pantai. Nah, kebetulan sekali belum lama ini saya dan teman-teman kos melakukan tour ke seluruh pantai-pantai yang ada di Gunungkidul. Gila, seru banget, Bro!

Tour yang saya sebut Tour de Gunungkidul ini dilaksanakan dua kali. Jaraknya seminggu. Minggu pertama kami hanya mengunjungi Pantai Ngerenehan, sebuah pantai kecil di mulut sebuah teluk. Pantainya lumayan pendek, sekitar 500 meter saja. Di kiri-kanan pantai berdiri bukit karang terjal yang menjorok hingga ke tengah laut. Di mulut teluk terdapat batu-batu karang yang meredam ombak deras Laut Selatan. Dengan demikian ombak di Pantai Ngerenehan tidak tinggi sehingga aman untuk mandi.





Di Ngerenehan kita tak cuma bisa mandi, tapi juga makan ikan. Setiap hari para nelayan hilir-mudik ke laut melalui pantai ini, jadi ikannya sangat melimpah. Tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa makan ikan laut di Ngerenehan. Harganya cukup bersahabat koq. Sebagai gambaran, teman saya membeli seekor ikan hiu kecil plus 4-5 ekor ikan pari dengan harga Rp 15.000 saja. Tidak ditimbang? Hehehe, nelayan di sana main kira-kira saja, Bro. Asal sudah deal ya sudah, ikan dilepas. Asyik kan?



Pantai Sepanjang
Seminggu setelah mengunjungi Ngerenehan, kami berangkat lagi ke selatan Jogja. Kali ini tujuannya Pantai Sepanjang. Di mana itu? Tidak jauh dari Ngerenehan koq. Hanya sekitar 5 kilometer ke arah timur, sebelum Pantai Baron. Di sini pemandangannya cukup indah. Sesuai namanya, Pantai Sepanjang benar-benar panjang. Melihat ke kanan-kiri hanya hamparan pasir putih yang memanjang.



Lain dengan Ngerenehan, di Sepanjang kita tidak boleh mandi. Masuk ke laut saja kalau bisa jangan. Kenapa? Arusnya deras, Bro. Selain itu kontur pantainya juga sangat curam. Sekali kita masuk ke laut dan terseret, bakalan repot deh yang menolong. So, kalau di sini enaknya cuma jalan-jalan menyusuri pantai, terus naik ke bukit untuk melihat hamparan Laut Selatan, dan kalau sudah capek istirahat di gubuk-gubuk yang banyak tersebar di sepanjang pinggiran pantai.



Bagaimana? Asyik, bukan? Selama ini nama Ngerenehan dan Sepanjang kalah tenar dibanding Pantai Baron, Trisik, Kukup, dan pantai-pantai Gunungkidul lain yang ada di brosur-brosur keluaran Dinas Pariwisata Jogja. Padahal pesona kedua pantai ini tidak kalah dibanding pantai-pantai lain. Dan satu kelebihan utama keduanya adalah: masih sepi pengunjung!

Setelah puas mengagumi pemandangan alam di Sepanjang, perjalanan kami lanjutkan ke timur. Ya, kami terus lanjut ke sebelah timur. Semua pantai kami masuki meski hanya melihat secara sekilas-sekilas saja sambil lewat. Sampai di suatu desa, eh, lha koq ban belakang motor saya bocor. Bukan bocor sih, orang tempat pentilnya secara ajaib bisa lepas dari ban. Jadilah kami berhenti dulu karena saya harus mengganti ban. Untung saja ada bengkel tak jauh dari tempat kami berhenti. :)



Akhirnya, sekitar jam 7 malam sampailah kami di pantai paling timur Jogja, Pantai Sadeng. Pantai ini merupakan sebuah pelabuhan kecil tempat para nelayan berlabuh setelah mencari ikan di laut. Ikan-ikan di sini juga murah-murah, Bro. So, kamipun sepakat patungan membeli ikan dan ujung-ujungnya tentu saja makan-makan. :)) Puas makan sekitar jam 8 malam. Gila, begitu mau pulang koq inget kalau waktu itu malam Jum'at. Walah....

Btw, meski capeknya bukan main, tapi perjalanan tersebut benar-benar menyenangkan. Suatu saat ingin saya mengulangi perjalanan itu lagi. Siapa mau ikut?

Minggu, 05 April 2009

Mau Jadi Raja Sulap?

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Mau Jadi Raja Sulap?
Link Tittle : Mau Jadi Raja Sulap?

lihat juga


Harian Jogja mengangkat tulisan tentang belanja online di halaman 15 (rubrik 'Belanja') Sabtu (4/4) kemarin. Penulisnya, duo Martha Nalurita dan Yuspita Anjar Palupi, memang bukan orang yang akrab dengan dunia online shopping. Tapi ulasan mereka cukup lengkap. Mulai dari ulasan ringkas tentang dunia online shopping di Indonesia, sampai tips-tips berbelanja online yang aman.

Dalam tulisan itu juga disebutkan kalau apa saja sudah bisa dibeli secara online sekarang. Ya, apa saja! Mulai dari barang yang super mahal berharga jutaan rupiah, sampai dengan pernak-pernik seharga puluhan ribu rupiah. Nah, buat Anda yang sedang belajar sulap atau gemar dengan sulap, segala keperluan sulap juga sudah bisa didapatkan di internet lho.

Adalah RajaSulap.com, toko sulap online di mana Anda bisa membeli alat sulap dan segala keperluan berkaitan dengan sulap. Situs ini merupakan toko alat sulap online nomor 1 di Indonesia versi Google Indonesia. Coba saja ketikkan "toko alat sulap" di kotak pencarian Google Indonesia, maka situs RajaSulap.com akan terpampang di nomor 1 pada halaman 1 hasil pencarian. Bagaimana kalau yang diketik kata kunci lain? Ya coba saja sendiri. :))

Ada banyak peralatan sulap yang disediakan RajaSulap.com. Mulai dari koin, kartu ajaib, sampai dengan peralatan yang agak aneh seperti linking Polo mint, sebuah alat sulap yang memungkinkan Anda menyambungkan dua biji permen Polo bolong menjadi satu seperti rantai. Ada juga sarana belajar sulap seperti video dan buku-buku teori sulap. Cukup pesan melalui SMS atau telepon, maka barang pesanan Anda sudah dapat sampai di tangan 2-3 hari kemudian.

Tertarik?

Menata Kamar Kos Menjadi Surga

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Menata Kamar Kos Menjadi Surga
Link Tittle : Menata Kamar Kos Menjadi Surga

lihat juga


"Rumahku surgaku". Anda yang beragama Islam pasti sudah sangat familiar dengan kata-kata itu. Ya, kalimat pendek namun penuh makna tersebut adalah ucapannya Rosulullah Muhammad SAW. Sebuah konsep tentang keluarga bahagia. Keluarga yang menyenangkan, sehingga berada di dalamnya tak ubahnya seperti di dalam surga. Baity jannaty, begitu redaksi aslinya di dalam bahasa Arab.

Buat yang sudah menikah, "rumahku surgaku" bisa dilakukan bersama-sama pasangan. Ya, apalagi kalau bukan menikmati surga dunia. Hehehehe. Eits, jangan berpikiran ngeres dulu lho. Surga dunia yang saya maksud adalah membentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah. Sebuah keluarga yang aman tentrem toto raharjo. Nah, kalau yang belum menikah bagaimana dunks caranya?

Ada banyak jalan mewujudkan rumah yang serasa surga. Bagi yang masih sendirian dan tinggal di kos (seperti saya), kita juga bisa koq membangun sebuah surga di kos kita. Caranya? Salah satunya, ini cuma salah satunya saja lho, adalah dengan menata kos-kosan sebaik mungkin sehingga kita merasa betah di dalamnya. Buatlah kamar kos senyaman mungkin, dan enak dipakai istirahat. Tata serapi mungkin, dan buatlah kamar menjadi tempat kembali yang selalu dirindukan bila kita bepergian.

Kalau catnya sudah agak pudar ya dicat lagi. Warna apa yang cocok untuk kamar kos? Ini tentu terserah Anda, cari inspirasi memilih warna ruangan dengan melihat-lihat iklan interior & property atau membaca-baca artikel interior kantor yang banyak tersebar di internet. Tanya Mbah Google, pasti dia tahu harus ke mana mencari informasi-informasi itu.

Buat yang jauh dari rumah dan orang tua, kamar kos adalah tempat kembali satu-satunya. Di sanalah semua kegiatan kita bermula dan kemudian juga berakhir. Jadi, buatlah kamar kos senyaman mungkin agar setiap hari yang kita mulai selalu ceria. Dan setiap istirahat kita bisa merasa nyaman.

Itu saja. Semoga bermanfaat.

Sabtu, 04 April 2009

Awas, Copy Cat di Mana-mana..!

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Awas, Copy Cat di Mana-mana..!
Link Tittle : Awas, Copy Cat di Mana-mana..!

lihat juga


Dua hari tidak membuka email yang Gmail, saya jadi ketinggalan sebuah info penting dari Kang Munawar. Setelah menjadi guest blogger blog ini dengan artikel berjudul "5 Tips untuk Guest Blogger", Kang Nawar memberi tahu saya kalau ternyata artikel tersebut dikopi mentah-mentah setelah di-publish di sini. Gila! :(

Awalnya saya tidak membaca gelagat apa-apa, lha wong Kang Nawar memberi judul emailnya itu "Ini Blog Sampaian..?" Setelah saya buka barulah saya tahu apa yang terjadi. Artikel Kang Nawar yang dikirimkan dalam rangka guest blogging di blog ini dikopi oleh seorang blogger tak bertanggungjawab. Sialnya, si tukang kopi itu nama depannya juga Eko. Entah asli atau rekayasa, blogger itu bernama Eko Novianto.



Lihat saja screenshot di atas. Artikel tersebut dikopi persis sama, bahkan 100% mirip sekali dengan posting yang di blog ini. Susunan paragraf, besar-kecil dan tebal-tipis kata, bahkan kredit dan link-link (juga inbound link) yang saya berikan untuk Kang Nawar selaku penulis asli juga dikopi. Kalau mau lebih jelas silakan baca sendiri di sini.

Lho, seharusnya kan tidak masalah karena ada link-nya dan aktif? Masalahnya bukan itu. Memang semua link ada lengkap seperti aslinya dan aktif. Tapi dengan perbuatannya itu dia telah membuat kesan kalau artikel tersebut dikirimkan Kang Nawar untuk blog itu, padahal sebenarnya kan dikopi dari sini? Kalau dia berniat baik dan tahu etika, tentunya diberi keterangan di mana dia mengambil artikel tersebut. Ternyata kan tidak?

Ini bukan pengalaman pertama saya menjadi korban kopi-paste. Sudah sering. Sebelum ini ada seorang blogger yang cukup terkenal mengkopi artikel saya yang berjudul "Mengenal Liew Cheon Fong, Fulltime Blogger Pertama Malaysia". Lihat saja kopiannya di sini dan screenshot berikut:



Sopannya, si blogger beken itu menambahkan 3 kata pada judul dan juga memberikan 2 paragraf penutup yang ia buat sendiri sebagai tambahan. Di akhir posting ia menuliskan "Sumber Inspirasi: Mas Eko Nur Huda". Tapi tidak sopannya, tidak ada satupun link ke alamat URL posting yang ia kopi. Ia hanya memberikan link ke blog ini, yakni http://www.ekonurhuda.com saja. Padahal seharusnya kan http://www.ekonurhuda.com/2008/10/mengenal-liew-cheon-fong-fulltime.html.

Saya mungkin benar waktu mengatakan bahwa blogger tidak kalah hebat dalam menulis dibanding para kolumnis koran. Karena itu blogger seharusnya tidak boleh diremehkan. Tapi perbedaannya, menjadi penulis bagus di blogosphere sangat beresiko jadi korban kopi-paste. Jadi, waspadalah, waspadalah..!

Jumat, 03 April 2009

Steak Gratis, Mau?

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Steak Gratis, Mau?
Link Tittle : Steak Gratis, Mau?

lihat juga


Dalam buku "Enaknya Wartawan Olahraga", Sumohadi Marsis menceritakan betapa asyiknya menjadi seorang wartawan olahraga. Mantan pentolan Tabloid BOLA itu sudah berkeliling ke puluhan negara secara gratis. Ia juga sudah pernah menonton pertandingan-pertandingan akbar seperti Liga Champion Eropa, Piala Eropa, bahkan Piala Dunia. Semua itu ia dapatkan dengan gratis karena ditugaskan kantornya. Enak ya?

Selama magang di Harian Jogja, saya juga sudah mulai merasakan enaknya jadi wartawan. Kejadian paling gres kemarin siang (2/4), waktu saya diberi tugas liputan ke sebuah restoran steak di Jl. Taman Siswa. Ceritanya koran tempat saya magang ini hendak mengangkat soal steak di rubrik "Kuliner" edisi Minggu besok. Karena ada banyak restoran steak di Jogja, maka kru yang menangani edisi Minggu dipecah ke tiga restoran steak terkemuka. Saya kebagian yang di Jl. Taman Siswa itu.

Ini kali pertama saya liputan tentang kuliner untuk Harian Jogja. Dan, jujur banget nih, ini juga jadi kunjungan pertama saya ke restoran steak. Saya itu paling tidak suka makan di tempat-tempat seperti itu. Maklum deh, kantongnya masih tipis. Penghasilannya masih kembang-kempis tak tentu arah. Kan saya terdaftar sebagai anggota KPK alias Komunitas Publisher Kere? Hehehe...

Saya janjian ketemu dengan manajer resto tersebut sekitar jam 12. Tapi tidak benar-benar jam 12 sih, soalnya kami (tanpa sengaja) sama-sama berangkat ke tempat janjian setelah sholat dhuhur. Jadi ya begitu sampai sudah jam 12 lewat. Kebetulan saya datang lebih dulu, jadi sempat bengong dulu di resto yang sederhana tapi ramai itu.

Setelah menunggu beberapa saat, Pak Manajer akhirnya datang juga. Kami bersalaman, berbasa-basi sebentar di tempat saya duduk, kemudian Pak Manajer tersebut mengajak saya ke ruangan dalam. Bukan ruangan manajer yang full ac dan sejuk lho. Tapi ruangan yang sebenarnya juga berfungsi untuk menerima pelanggan. Berhubung siang itu pengunjung tidak terlalu ramai, ruangan tersebut kosong. Di sanalah kami ngobrol-ngobrol tentang steak dan terutama sekali menu-menu yang dijual di resto itu.

Seumur-umur, saya cuma sekali makan steak. Itupun sudah lama sekali, sekitar tahun 2001 saat kelas table manner di pendidikan pariwisata yang pernah saya ikuti. Setelahnya saya tak pernah lagi makan steak. Artinya, saya benar-benar buta tentang steak. Alhasil, siang itu sempat kedodoran juga saya mau tanya apa. Improvisasi sedikit plus modal muka tembok, akhirnya sukses deh membuat Pak Manajer yang ramah itu bercerita panjang-lebar tentang menu steak yang ada di restorannya. :)

Kurang-lebih satu jam kemudian obrolan selesai. Saya lalu minta ijin memotret steak sebagai gambar pelengkap. Bayangan saya sih saya bakal memotret steak yang hendak dihidangkan ke konsumen karena memang saya juga bilangnya begitu. Eh, lha koq ternyata Pak Manajer itu meminta tolong bawahannya untuk membuatkan satu porsi beef steak khusus untuk saya. Bukan itu saja, segelas milkshake vanilla juga dihidangkan sebagai pasangannya. Walah...

So, jadilah saya makan siang dengan menu beef steak dan milkshake vanilla gratis. Mau? Nih, saya kasih gambarnya saja. :)




Catatan: Sebenarnya cerita ini mau saya tulis semalam. Tapi berhubung saya ngantuk sekali setelah pulang dari kantor Harian Jogja, jadi baru sempat diposting sekarang sambil menunggu hujan berhenti. :)

Kamis, 02 April 2009

Mengapa Saya Tidak Membeli SMUO?

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Mengapa Saya Tidak Membeli SMUO?
Link Tittle : Mengapa Saya Tidak Membeli SMUO?

lihat juga


Mumpung masih hangat-hangatnya bahas masalah Joko Susilo (JS), saya jadi tertarik untuk mengangkat sebuah kenangan lama. Tentu saja tidak jauh-jauh dari JS dan Formula Bisnis, karena saya hendak membeberkan pengalaman saya ketika pertama kali melihat situs penjual SMUO tersebut sampai kemudian berkeputusan untuk tidak membelinya. Ya, saya ingin membeberkan alasan mengapa saya tidak membeli SMUO.

Saya pertama kali mengenal JS dan Formula Bisnis melalui email sampah (spam). Waktu itu awal tahun 2004. Saya tidak ingat bulan berapa pastinya, tapi yang jelas harga SMUO masih Rp 90.000-an. Membaca sales page Formula Bisnis, siapa sih yang tidak terkesima? Bayangkan, Anda dapat menghasilkan uang puluhan juta rupiah hanya dengan menerapkan 3 langkah sederhana yang diajarkan dalam SMUO! Fantastis, bukan? Tidak heran jika saya jadi bersemangat sekali membaca habis seluruh isi sales page Formula Bisnis.

Dari sales page tersebut saya jadi tahu apa saja tiga langkah sederhana untuk memulai bisnis internet yang dimaksud JS dalam SMUO yang ditawarkannya. Tiga pilar utama yang diajarkan ebook tersebut adalah; (1) ciptakan produk, (2) buat website untuk menjual produk tersebut, dan (3) datangkan trafik. Benar-benar mudah! Demikian kata saya dalam hati waktu itu. Kebetulan pula waktu itu saya sedang butuh sumber pemasukan setelah berhenti jadi guide dan gagal melanjutkan kuliah ke jenjang S1.

Hampir saja saya tertarik membeli SMUO. Namun setelah melihat screenshot yang dipamerkan, saya justru jadi pikir-pikir lagi. Saya perhatikan baik-baik deretan angka yang ada di tampilan buku rekening itu, jumlahnya selalu Rp 45.000 dengan 3 digit akhir yang berlainan satu sama lain. Logika saya langsung bermain. Sejumlah pertanyaan kritis bermunculan di kepala saya. Bukankah harga SMUO Rp 90.000? Dari harga tersebut, JS selaku admin memperoleh Rp 45.000 dan separuhnya untuk reseller. Dan ingat, calon pembeli juga diingatkan untuk memberikan angka unik di 3 digit terakhir uang yang disetorkan. Jadi, dari seharusnya hanya Rp 45.000 masing-masing untuk admin (JS) dan reseller, pembeli harus mentransfer, misalnya, sejumlah Rp 45.212, Rp 45.234, Rp 45.007, dsb.




Pertanyaan penting dalam benak saya yang kemudian membuat saya batal membeli SMUO adalah, bisnis apa yang sebenarnya dijalankan JS? Apa yang hendak ia ajarkan pada saya dalam ebook SMUO itu? Kalau melihat dari angka-angka dalam screenshot yang ditunjukkan, bukankah sebenarnya ia sedang menunjukkan transferan dana dari para pembeli SMUO sebelumnya? Artinya, dari berjualan ebook itulah JS memperoleh uang. Dan itulah yang hendak diajarkannya pada saya (dan seluruh pengunjung FormulaBisnis.com) lewat ebook SMUO seharga Rp 90.000 tersebut. Bukankah itu yang ia katakan di kalimat awal sales page-nya?




Dari sana saya menyadari kalau apa yang akan diajarkan oleh ebook tersebut (bila saya jadi membelinya) tak lain tak bukan adalah apa yang sedang dijalankan JS dengan berjualan SMUO itu. Artinya, apa yang dibeberkan JS dalam ebook-nya justru sedang dijalankan olehnya bersama FormulaBisnis.com. Maka sayapun urung membeli SMUO. Untuk apa? Toh, saya sudah tahu apa yang akan diajarkan, yakni ciptakan sebuah produk informasi seperti SMUO, buat sebuah situs penjual seperti FormulaBisnis.com, dan kemudian alirkan trafik ke situs tersebut. Itu saja kan rahasianya?

Itu pengalaman saya dengan Formula Bisnis, dan itulah mengapa saya tidak membeli SMUO walaupun sebenarnya saya sempat sangat ingin memilikinya. Ini pengalaman nyata. Saya menyampaikannya hanya untuk sharing saja. Anda sendiri, bagaimana pengalaman Anda dengan Formula Bisnis?

NB: Ikuti juga diskusinya di Kaskus. Klik di sini!

Catatan: Gambar-gambar diperoleh dari Web Archive, tepatnya di sini dan di sini.

Selasa, 31 Maret 2009

RahasiaBlogging Terancam, Joko Susilo Masuk Kaskus

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : RahasiaBlogging Terancam, Joko Susilo Masuk Kaskus
Link Tittle : RahasiaBlogging Terancam, Joko Susilo Masuk Kaskus

lihat juga


Masih ingat bagaimana kronologi terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Presiden RI pada Pemilu 2004? Adalah pernyataan Taufik Kiemas, suami Megawati Soekarnoputri yang saat itu menjabat Presiden, yang membuat popularitas SBY naik dan terus melejit menjelang Pemilu. Sampai akhirnya SBY memenangi duel dengan Megawati di putaran kedua dan 'naik pangkat' jadi RI 1.

Apa yang dikatakan Taufik Kiemas? Ah, Anda semua tentu masih ingat. Yang jelas pernyataan tersebut membuat banyak orang jatuh simpati pada SBY dan ujung-ujungnya menaikkan popularitas mertua Annisa Pohan ini. Nah, cerita serupa sepertinya akan terjadi di dunia maya. Lakonnya adalah Joko Susilo (JS) yang beberapa waktu lalu ramai-ramai dihujani pertanyaan oleh para Kaskuser seputar Formula Bisnis dan juga produk barunya, Rahasia Blogging.

Kenapa JS akhirnya naik ke permukaan? Kenapa pula ia mau menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan para Kaskuser? Ini pertanyaan penting yang harus dijawab. Dan kalau kita mau mundur sedikit ke belakang, sebelumnya telah terjadi 'perang kecil' antara Joko Susilo dan Bang Zalukhu. Di blognya, Bang Zalukhu bilang kalau Joko Susilo adalah penipu, meski dalam posting tersebut nama JS diubah dengan Jadi Serigala. Setelah itu, Bang Zalukhu memuat posting tentang rekayasa dalam sales letter Rahasia Blogging yang notabene adalah produk terbaru JS.

Ceritapun berlanjut. Semakin lama semakin banyak orang yang membicarakan Rahasia Blogging, semakin banyak pula yang meragukannya. Tiba-tiba, muncullah seorang blogger anonim dengan nick Mualim sang Kritikus (identitasnya sudah dikantongi lho) yang menyerang Bang Zalukhu. Well, perang kemudian melebar dengan melibatkan beberapa pihak. Sampai-sampai ada blogger yang merasa perlu melakukan klarifikasi karena merasa tersudut.

Oke, kembali ke pertanyaan tadi. Kenapa JS akhirnya naik ke permukaan? Kenapa JS mau menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan para Kaskuser? Jawabannya tidak sulit. Dengan maraknya publikasi negatif yang dilakukan para blogger terhadap Rahasia Blogging, jelas JS merasa khawatir. Bagaimana tidak khawatir kalau baru di-launch sudah dapat serangan bertubi-tubi? Nah, yang perlu dilakukan JS adalah dengan membalik imej negatif tersebut agar 'calon konsumen'-nya tidak lari. Caranya? Dia berguru pada SBY sewaktu Pemilu 2004 lalu.

Masih belum jelas? Oke, saya jelaskan. Setelah dikatai oleh Taufik Kiemas, SBY cepat tanggap. Ia memanfaatkan momen tersebut untuk membentuk citra sebagai orang teraniaya. Alhasil, simpati pun berdatangan padanya. Popularitasnya meningkat pesat. Terlebih media turut mem-blow up cerita tersebut. Selanjutnya Anda sudah tahu jalan ceritanya, bukan?

Inilah yang coba diikuti JS. Ia muncul di Kaskus, membiarkan dirinya 'dibantai' habis-habisan oleh para Kaskuser. Dengan demikian ia berharap dirinya tidak lagi dijuluki penipu karena sudah berani unjuk diri dan meladeni pertanyaan orang-orang yang selama ini meragukannya. Hal ini bisa memberikan efek psikologis positif bagi orang yang semula ragu-ragu membeli produknya. Kesan sebagai orang yang dipojokkan coba ia timbulkan. Kalau sudah demikian, kan enak saja melontarkan pernyataan, "Ah, mereka itu hanya iri dengan keberhasilan saya." Dan semakin kuatlah alasan orang untuk membeli produk-produk JS.

Itu yang pertama. Yang kedua, kontroversi yang berkembang merupakan 'iklan gratis' bagi JS dan produk-produknya. Semakin marak blogger yang mengekspose dirinya dan produk-produknya, JS akan jadi semakin populer. Orang-orang yang awalnya tidak tahu sama sekali tentang JS akan mencari informasi lebih banyak lagi tentang dia. Maka meluncurlah orang-orang tersebut ke situs-situs milik JS. Lumayan, cuma nongkrong beberapa jam saja di Kaskus sudah bisa memperoleh trafik banyak. Belum lagi kemungkinan orang-orang tersebut justru tertarik dengan jualannya JS. :)

Berhasilkah strategi ini diterapkan JS? Kita lihat saja.

Senin, 30 Maret 2009

Berapa Lama Waktu untuk Nyoblos?

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Berapa Lama Waktu untuk Nyoblos?
Link Tittle : Berapa Lama Waktu untuk Nyoblos?

lihat juga


Pemilu tinggal hitungan hari. Di tengah ingar-bingar kampanye yang dilakukan para kontestan Pemilu, berita-berita tentang kurang beresnya distribusi logistik Pemilu berseliweran di televisi. Akankah Pemilu 2009 mundur? Kalau kata Detik.com sih jangan. Karena kalau sampai mundur akan lebih banyak kerugiannya ketimbang manfaatnya.

Pemilu mendatang benar-benar ribet. Bagaimana tidak? Selain jumlah partai politik peserta Pemilu yang kelewat banyak, pemandangan di atas kertas suara bakal dipenuhi pula oleh ratusan nama calon legislator alias caleg. Eits, itu baru satu kertas suara lho. Padahal Pemilu besok pemilih diminta memberikan empat suara sekaligus. Masing-masing untuk DPRD II (Kabupaten/Kota), DPRD I (Propinsi), DPR RI, dan DPD. Yang jadi pertanyaan saya, berapa lama waktu yang bakal dibutuhkan oleh setiap pemilih untuk memberikan suaranya?

Pertanyaan yang sepele kelihatannya. Tapi coba bayangkan berapa besarnya masalah yang bisa ditimbulkan oleh hal yang sepele ini di lapangan. Hal ini terkait dengan durasi pelaksanaan pemilihan pada saat hari H, yakni tanggal 9 April 2009 nanti.

Dulu, jamannya Indonesia cuma punya 3 partai politik, setiap pemilih hanya butuh waktu paling lama 1 menit untuk menyalurkan suaranya. Jumlah pilihan yang hanya 3 membuat ukuran kertas suara kecil, cukup 2-3 lipatan saja untuk membuka dan menutupnya. Selain itu, pemilih juga tak perlu menghabiskan waktu berlama-lama mencari pilihannya karena sekali pandang sudah terlihat semua. Tinggal coblos yang mana pilihannya. Hijau, kuning, atau merah.

Pemilu 1999 dan 2004 memang diikuti banyak parpol, tapi caranya cukup dengan mencoblos lambang partai. Tidak ada juga deretan nama caleg di bawah tiap-tiap logo partai. Dengan demikian ukuran kertas suara tidaklah terlalu besar, dan tentu saja waktu yang diperlukan masing-masing pemilih juga tidak terlalu lama.

Nah, Pemilu April mendatang benar-benar beda. Ada 48 partai yang bertanding, plus ratusan calon legislator. Masalah pertama datang dari besarnya ukuran kertas suara. Saking besarnya, bilik suara sumbangan Jepang yang akan dipergunakan pada Pemilu nanti tidak mampu menutupi lebar kertas. Hati-hati, bisa-bisa orang di sebelah atau belakang Anda tahu apa yang Anda pilih. Bukan itu saja. Lebarnya kertas juga membuat surat suara tidak muat waktu dimasukkan ke dalam kotak suara (yang juga masih menggunakan bantuan dari Jepang).

Masalah kedua timbul berkaitan dengan cara baru yang diterapkan KPU untuk melakukan pemilihan, yakni dengan mencentang alias memberi tanda cek pada pilihan. Sosialisasi yang kurang memadai membuat banyak pemilih, terutama yang jauh dari pusat keramaian dan tidak punya akses informasi, membutuhkan waktu lebih lama ketika di bilik suara. Petugas di TPS bisa jadi bakal lebih direpotkan oleh para pemilih yang kebingungan mencari pilihannya dan tidak tahu cara melakukan pilihan.

Dari dua masalah di atas, Pemilu mendatang rasa-rasanya akan menjadi Pemilu terlama sepanjang sejarah Indonesia. Coba saja hitung berapa lama waktu untuk membuka lipatan kertas suara, berapa lama waktu untuk meletakkan kertas suara tepat di meja dalam bilik suara yang sempit, berapa lama waktu untuk mencari letak pilihan di antara sekian gambar dan deretan nama, dan berapa lama waktu untuk melipat kertas suara. Kalikan empat karena kertas suara yang harus dicentang ada empat.

Misalkan saja masing-masing pemilih membutuhkan waktu rata-rata 2 menit untuk melakukan pemilihan, dan di satu TPS ada 350 pemilih (KPU membolehkan hingga maks. 500 pemilih/TPS), maka TPS tersebut memerlukan waktu 700 menit. Waktu 700 menit itu sama dengan 11,5 jam lebih! Artinya, kalau pemilihan dimulai pukul 08.00 pagi, maka pemilihan baru akan selesai pukul 21.00-21.30 (tidak termasuk waktu istirahat). Tak terbayangkan betapa letihnya para petugas di TPS dibuatnya. Padahal setelah pemilihan suara selesai, jumlah suara yang masuk mesti dihitung sesegera mungkin dan harus selesai hari itu juga. Nah, lho!

Duh, Pemilu 2009 benar-benar rumit ya? Tidak cuma rumit, tapi juga mahal. Maka, kalau saya boleh berpendapat, sebaiknya KPU membuat aturan tegas mengenai parpol peserta Pemilu untuk tahun 2014 mendatang. Buatlah sistem pemilu seramping dan seefisien mungkin agar pemilih tak bingung, petugas TPS tidak keletihan, dan biaya yang dikeluarkan Pemerintah tidak banyak. Setuju?

Minggu, 29 Maret 2009

Iklan Caleg di Internet

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Iklan Caleg di Internet
Link Tittle : Iklan Caleg di Internet

lihat juga


Konon, keberhasilan Barack Hussein Obama memenangi Pemilu AS akhir tahun lalu berkat agresifnya kampanye online yang dilakukan tim sukses Barry. Memang, menjelang Pemilu tim sukses anak tiri Soetoro ini sibuk menggarap komunitas online dengan membuat profil Obama di berbagai situs jejaring sosial. Di antaranya di Facebook, MySpace, LinkedIn, Friendster, YouTube, dan Twitter. Selain itu tim sukses Obama juga membuat situs khusus tentang Obama, www.barackobama.com, dan situs khusus bagi para donatur yang ingin memberi sumbangan di ObamaDonations.com.

Keaktifan Barack Obama di internet merupakan satu poin penting bagi kemenangannya. Menurut data yang dikeluarkan InternetWorldStats.com, pengguna internet di Amerika Serikat sebanyak 218,3 juta. Angka ini merupakan 71,9% dari total populasi AS yang tercatat sebanyak 303,8 jiwa. Terlebih, internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat AS. So, merajai internet membantu Obama untuk dapat menang telak atas McCain.

Di Indonesia, internet rupanya juga mulai dilirik oleh para politisi. Di Facebook, iklan Gerindra/Prabowo sudah muncul sejak pertengahan tahun lalu. Disusul dengan iklan-iklan para calon legislator. Lalu yang tak kalah menarik adalah iklan caleg di situs PPC. Saya sempat merekam sebuah iklan caleg yang nongol dari script KlikSaya.



Fenomena ini bolehlah kita bilang 'mencontek' strategi kampanye Obama. Namun, satu pertanyaan kritis yang muncul kemudian adalah, sejauh mana efektifitas iklan caleg di internet? Ini mengingat penetrasi penggunaan internet di Indonesia yang baru mencapai angka 10% dari total populasi. Menurut data dari InternetWorldStats, pengguna internet di Indonesia baru sebanyak 25 juta orang dari 237.512.355 penduduk. Masih terbilang sedikit. Bandingkan dengan Malaysia atau Singapura yang angka pengguna internetnya masing-masing lebih dari 60%.

Selain itu, sistem pemilihan di Indonesia yang berdasarkan basis daerah pemilihan (dapil) tertentu membuat iklan caleg di internet jadi tidak efektif. Kenapa? Karena iklan caleg DPR RI untuk dapil DI Yogyakarta, misalnya, bakal muncul dan bisa dilihat oleh pengguna internet di luar Jogja. Apa untungnya iklan tersebut ditampilkan pada mereka yang notabene bukan calon pemilih di Jogja?

Facebook belum bisa melakukan filter iklan berdasarkan kota atau propinsi. Teknologi Facebook baru memungkinkan pemasang iklan untuk memilih audiens berdasarkan negara. Sedangkan di KlikSaya, dan situs PPC lokal lainnya, juga tidak ada filter yang dapat membatasi penayangan iklan. KlikSaya hanya bisa melakukan filter tema blog, yakni di blog mana saja iklan tersebut akan ditampilkan.

Melihat dua hal tersebut, rasa-rasanya iklan caleg di internet akan sia-sia deh. Pasalnya, selain komunitasnya sedikit, iklan tersebut juga tidak memiliki target yang jelas. Masih untung kalau tidak dikerjai para blogger iseng, dengan cara mengklik iklan mereka sering-sering misalnya. Tentu saja yang diklik iklan di blog lain. Kalau ngeklik iklan di blog sendiri ya sama saja bunuh diri. :))

Sekedar saran buat para caleg yang suka pasang iklan di Facebook atau KlikSaya, alangkah lebih baiknya kalau dana iklan online itu disumbangkan ke para korban jebolnya tanggul Situ Gintung. Iya kan?

Jumat, 27 Maret 2009

Ketika Blog Masih Diremehkan

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Ketika Blog Masih Diremehkan
Link Tittle : Ketika Blog Masih Diremehkan

lihat juga


Anda kenal Alfian Alfan, Arif Afandi atau Asef Umar Fakhruddin? Tidak jadi persoalan kalau Anda tidak mengenal mereka, atau bahkan baru kali ini tahu nama-nama tersebut. Kenapa? Jawabannya simpel saja, mereka penulis kolom di media cetak, sedangkan kita adalah blogger yang lebih akrab dengan media online.

Mereka adalah kolumnis-kolumnis terkenal di koran-koran nasional. Alfian Alfan sering menampilkan tulisannya di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, dan media nasional lainnya. Arif Afandi adalah pentolan Jawa Pos dan tulisan-tulisannya kerap mewarnai halaman Jawa Pos serta seluruh media daerah di bawah jaringan JPNN. Begitu juga dengan Asef Umar Fakhruddin. Tulisannya sudah bertebaran di mana-mana, dan ia juga baru saja menerbitkan beberapa judul buku.

Kenapa saya menceritakan mereka?

Belum berapa lama ini saya terlibat satu diskusi seru dengan seorang penulis kolom ternama. Awalnya ia sering sekali menyarankan saya untuk menulis artikel di koran. Pertanyaan khasnya setiap bertemu saya adalah, "Sudah nulis, Kang?" Biasanya saya hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan itu. Kalaupun menjawab, saya akan bilang, "Mohon doanya, Kang." Nah, hari itu saya menjawab lain. "Sudah!" Kata saya. Dia lantas tanya lagi, "Nulis di mana?" Saya jawab, "Di blog." Dia tersenyum.

Pembicaraan kemudian melebar. Sampai pada saatnya dia mengeluarkan ucapan yang membuat telinga saya memerah. Apa katanya? "Saya dan teman-teman komunitas penulis itu sejak dulu tidak begitu tertarik dengan blog. Soalnya kalau blog itu kan asal tulis saja bisa dimuat, pasti dimuat. Beda dengan koran yang harus melalui proses redaksional." Intinya, ia ingin mengatakan kalau blog itu mutunya kalah dibanding media cetak. Itu artinya, secara tidak langsung ia ingin mengatakan kalau kolumnis seperti dia 'lebih berkualitas' dibanding blogger. Oh ya?

Ya, benar kalau ia bilang tulisan di koran telah melalui proses seleksi di meja redaksi. Ia juga benar ketika mengatakan kalau asal menulis saja sudah bisa dimuat di blog. Tapi ia salah besar ketika menyimpulkan kalau blog tidak sama baik dengan koran, dan blogger tidak sepandai kolumnis dalam hal menulis. Di titik ini ia telah mencampur-adukkan fakta dengan pendapat pribadi dan bingung dengan rangkaian logikanya sendiri sehingga menyebabkannya mengeluarkan kesimpulan yang tidak tepat. Ditambah lagi, ia juga tidak begitu akrab dengan blog dan komunitas blogger. Kloplah sudah.

Ada banyak alasan mengapa seseorang lebih suka menulis di blog ketimbang di koran. Alasan paling utama adalah ketidakmampuan penulis untuk mengontrol dan mengatur apa yang harus ia tulis ketika ingin menulis di koran. Setiap media memiliki kebijakan redaksional sendiri-sendiri mengenai naskah yang boleh dimuat. Untuk dapat menembus meja redaksi, penulis kolom harus bisa menyesuaikan diri dengan style yang diinginkan koran tersebut.

Selain itu, koran adalah media bisnis, jualannya adalah berita. Agar laku, sebuah media harus bisa mencium informasi apa yang sedang dibutuhkan masyarakat. Isu-isu apa saja yang tengah berkembang, itulah yang akan diangkat. Begitu juga dengan kolom opininya (yang ditulis oleh para kolumnis seperti saya sebutkan di atas). Hanya artikel dengan tema-tema 'aktual' saja yang akan lolos sampai ke halaman opini. Tapi arti 'aktual' di sini sudah berubah maknanya menjadi 'sesuai keinginan pasar' dan 'sesuai dengan mainstream'. Lihat saja saat peringatan Hari Raya Nyepi kemarin. Koran mana yang tidak menampilkan artikel bertema Nyepi?

Masih ada hubungannya dengan koran sebagai media bisnis, ketika Anda mengirim sebuah artikel ke satu media dan pada saat yang bersamaan seorang yang terkenal (tokoh masyarakat, akademisi, pakar, dll.) juga membuat artikel dengan tema yang sama dengan Anda, percayalah, redaksi akan lebih memilih artikel si tokoh tadi. Mengapa demikian? Maaf, nama Anda tidak cukup menjual. Redaksi tidak mau berjudi dengan menampilkan tulisan Anda yang bukan siapa-siapa, yang belum dikenal masyarakat luas. Mereka lebih memilih popularitas penulis sebagai daya tarik, sungguhpun mungkin tulisan Anda lebih baik.

Cukup? Belum. Satu lagi kelemahan media cetak adalah keterbatasan halaman, baik oleh jumlah halaman yang sudah tetap maupun karena digusur iklan. Anda hanya boleh mengirim naskah sepanjang 4 halaman kwarto spasi ganda ke Kompas. Lebih dari itu, tulisan Anda kemungkinan besar diedit, dipotong. Tapi editor tidak akan mau bersusah-payah mengedit terlalu banyak. Kalau ada tulisan lain dengan tema sama tapi seusai dengan lebar halaman yang disediakan, tulisan Anda akan dibuang ke kotak sampah.

Menulis di media massa juga harus memiliki kesabaran ekstra. Anda mesti sabar menunggu kabar naskah yang dikirimkan, entah itu ditolak atau diterima. Padahal kalau tema yang Anda angkat sebuah topik tematik, begitu naskah sampai ke tangan editor bisa jadi isi tulisan tersebut sudah basi. Tambahan lagi, tidak cukup sekali-dua kali mengirim naskah untuk dapat melihat tulisan kita dimuat di koran. Seorang wartawan senior Kedaulatan Rakyat pernah bercerita kalau ia harus mengirim lebih dari 100 naskah sebelum bisa melihat karyanya dimuat di Intisari. Wow!

Bersyukurlah kita yang hidup di jaman internet ini, terlebih saat blog dan citizen journalism menjadi cara baru menyampaikan informasi kepada masyakarat luas. Karena itu, berbagai kemudahan yang dimiliki blog jangan lantas membuat kita selaku blogger berlaku seenaknya saja dalam menulis konten. Jangan biarkan kolumnis yang saya ceritakan tadi terus-terusan meremehkan blogger. Untuk itu, ayo kita ciptakan konten yang lebih berbobot. Tunjukkan bahwa blogger juga tak kalah piawai dengan kolumnis koran dalam soal tulis-menulis. Setuju?