Jumat, 30 Oktober 2009

Yasinan Koq Dibayar Sih?

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Yasinan Koq Dibayar Sih?
Link Tittle : Yasinan Koq Dibayar Sih?

lihat juga


Tetangga depan kos saya meninggal. Berhubung rumah duka terletak di tengah-tengah ruko, alhasil tak ada tetangga di kanan-kirinya. Rumah itu juga jauh dari kampung. Di depannya jalan raya plus deretan ruko, di samping timurnya jalan besar yang disambung dengan kampus Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa, sementara di belakangnya kompleks perkantoran walikota Jogja.

Karena posisinya yang jauh dari kampung itu tuan rumah bingung waktu mau membacakan tahlil dan yasin untuk almarhum. Alhasil, mereka minta bantuan pengurus kos tempat saya tinggal untuk mencarikan orang yang mau membacakan yasin. Pilihan tepat. Kos saya berisi lebih dari 50 orang, so separuh saja penghuni kos yang berangkat rasanya sudah lebih dari cukup.

Pucuk di cinta ulam tiba, teman-teman kos tidak keberatan membantu. Sebagian benar-benar ikhlas demi amal baik, tapi tak dipungkiri ada juga yang berorientasi perut. Maklum, anak kos. Hehehe... Dan berangkatlah rombongan Asrama al-Asyhar ke rumah duka. Malam pertama, yang berangkat hanya beberapa orang. Kebetulan saya juga tidak ikut karena "asyik" meng-install ulang komputer.

Nah, malam kedua saya baru bisa ikut karena kebetulan tidak ke mana-mana. So, berangkatlah saya dengan rombongan. Menurut teman-teman yang berangkat di malam pertama, jumlah peserta yasinan di malam kedua ini lebih banyak dari malam pertama. Saya tidak menanggapinya. Saya pikir kemarin teman-teman juga tidak bisa ikut karena ada kesibukan lain.

Setelah menyeberang Jl. Kusumanegara yang selalu ramai kendaraan, sampailah kami di rumah duka. Di luar dugaan saya, ternyata benar-benar hanya anak-anak kos kami saya yang membaca yasin. Awalnya saya pikir ada satu-dua orang kampung atau tetangga kanan-kiri si tuan rumah. Nyatanya, dari sekitar 16 orang yang ada malam itu, semuanya dari kos tempat saya tinggal. Hmmm...

Yasinan dan tahlil hanya memakan waktu kurang dari 30 menit. Kemudian, seperti biasa, dilanjutkan dengan acara makan-makan sambil ngobrol. Nah, menjelang waktu pulang terjadi keanehan, setidaknya menurut saya ini aneh karena belum pernah saya temui sebelumnya. Apa yang aneh? Salah seorang anggota rumah keluar lalu membagikan bingkisan berupa roti kotak berukuran besar. Ah, ini sih masih belum aneh. Yang bikin kening saya berkerut adalah sewaktu kami juga diberi amplop satu-satu. Tanpa perlu dijelaskan tentu teman-teman tahu apa isinya, bukan?

Ya, sesuai dugaan, ternyata isinya uang. Walah, koq begitu sih? Masa iya orang yasinan dibayar? Padahal saya yakin teman-teman tidak mengharapkan uang. Kalau mengharapkan makan gratis sih saya yakin iya. Hehehe... Nah, karena tahu yang ikut yasinan dapat makan gratis plus uang plus bingkisan, di malam ketiga yang datang jauh lebih banyak lagi. Perkiraan saya sih sekitar 25 orang. Edan!

Yang jadi pertanyaan saya sampai saat ini adalah, koq ada ya orang yasinan dikasih duit? Apa memang di Jogja hal seperti ini umum dilakukan? Bagaimana dengan daerah lain? Mungkin teman-teman bisa berbagi pengalaman.

NB: Foto ilustrasi diambil dari http://flickr.com/photos/27371861@N02/2552396735

Sabtu, 19 September 2009

Met Lebaran, Blogger!

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Met Lebaran, Blogger!
Link Tittle : Met Lebaran, Blogger!

lihat juga


Alhamdulillah, setelah berpuasa selama 30 hari dan berjuang melawan segala bentuk hawa nafsu, sampailah kita di hari kemenangan yang dinanti-nantikan. Alhamdulillah, tahun ini akhirnya bisa juga saya puasa 30 hari penuh (saya mulai puasa hari Jumat, lebih cepat dari kalender pemerintah).

Karena itu, ijinkanlah saya untuk ikut merayakan hari nan fitri ini. Perkenankan saya ikut merayakan hari di mana semua kesalahan dilebur dan manusia-manusia beriman kembali suci seperti bayi. Tanpa berpanjang kata lagi saya ucapkan: Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Minal Aidzin wal Faidzin, Mohon Maaf lahir Batin

Foto diambil dari http://iceywicey.wordpress.com

Sabtu, 05 September 2009

Sebulan Pertama

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Sebulan Pertama
Link Tittle : Sebulan Pertama

lihat juga


SEBENARNYA posting ini mau saya tulis tanggal 4 kemarin. Berhubung IM2 Broom ngadat 2 hari, jadilah baru bisa saya tulis dan diposting sekarang. Telat sih, tapi masih belum terlalu lama koq. Jadi tidak apa-apa kan ya? ^_^

Btw, ada apa dengan tanggal 4? Hari istimewakah?

Kalau tanggal 4 September kemarin sih tidak ada yang istimewa. Hari istimewanya justru tepat sebulan sebelumnya, alias tanggal 4 Agustus. Ya, pada hari itu saya memasuki satu babak baru dalam kehidupan saya. Dengan hati mantap saya mengucapkan akad nikah di hadapan Bapak Penghulu, petugas KUA, orang tua, mertua, dan seluruh sanak-saudara yang berkumpul di Masjid al-Munawaroh, Taman, Pemalang.

Ada kejadian menarik waktu itu. Sejak malam sebelum akad saya sudah menghapal ucapan qobul yang akan saya ucapkan pada saat akad. Malah saya juga diam-diam masih menghapal sambil menunggu bapak-bapak dari KUA datang. Eh, begitu ijab-qobul mau diucapkan, lha koq penghulunya malah ngasih kepekan alias contekan ke saya. So, cuma sekali saja selesai sudah ijab-qobulnya, para hadirin pun berdecak kagum. Saya sama istri cuma bisa tertawa geli. ^_^

Kejadiannya singkat sekali. Mengucapkan ijab-qobul rasa-rasanya tak sampai 10 menit. Tapi tahukah teman-teman, berapa lama saya (dan istri) harus menunggu momen itu? 3 tahun! Karenanya kami berdua langsung tersenyum lebar begitu pengucapan akad nikah selesai. Akhirnya....

Eits, saya sadar ini bukan akhir. Justru ini merupakan satu langkah awal bagi kehidupan saya yang sebenarnya. Satu titik yang menentukan akan menjadi manusia seperti apa saya nanti. Kini saya sudah punya amanah bernama keluarga, meskipun dalam keluarga itu baru ada saya dan istri. Bila amanah ini dapat saya jaga dengan baik, maka saya boleh berbangga hati disebut sebagai "suami yang baik". Tapi jika sebaliknya, naudzubillah min dzalik.

Dan tidak terasa sebulan pertama sudah saya lalui. Baru sebentar memang. Karenanya masih belum terasa benar halang-rintangnya. Terlebih saya dan istri masih SLJJ, saya di Jogja & istri tetap di Pemalang karena terikat mengajar di dua SD negeri di sana. Nanti kalau sudah jadi satu dengan istri, mungkin itulah saatnya saya benar-benar merasa punya keluarga, amanah yang menentukan di mana tempat saya di hari akhir kelak.

Oke, teman-teman. Pada peringatan sebulan pernikahan ini saya mohon doa dari teman-teman, semoga saya dan istri awet sampai akhir hayat. Semoga kami dapat membangun sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rohmah. Amin.

Catatan: Foto-foto bisa dilihat di sini.

Kamis, 03 September 2009

Menanti Kiprah Sponsored Tweets

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Menanti Kiprah Sponsored Tweets
Link Tittle : Menanti Kiprah Sponsored Tweets

lihat juga


LAMA tak merambah blogosphere, rupanya ada banyak perkembangan yang luput saya ikuti. Seperti hadirnya beberapa program online earning baru, berita-berita seputar blogger senior, dan lainnya. Di antara seliweran kabar-kabar yang saya tangkap setelah comeback, kemunculan program bernama Sponsored Tweets yang paling menyita perhatian.

Sesuai namanya, Sponsored Tweets adalah sebuah program online earning berbasis situs mikro blogging Twitter. Anda pasti sudah bisa menebak, situs ini membayar kita untuk menampilkan tweet berbayar alias pay per tweet. Namanya tweet berbayar, tentu saja ada link iklan yang disisipkan di dalamnya.

Sebagai blogger matre, program online earning baru seperti ini tentu wajib ditelisik. So, mendaftarlah saya ke Sponsored Tweets segera setelah membaca penjelasan Mas Medhy dan juga pengakuan John Chow kalau dia sudah dapat $250 hanya dari 2 tweet saja. Wow..!

Well, sistem Sponsored Tweets secara gampang bisa dibilang sangat mirip dengan sponsored reviews atau paid review. Cuma kalau di sponsored reviews kita dibayar untuk menulis review produk, maka di Sponsored Tweets kita dibayar untuk men-tweet pesan sponsor. Bayarannya? Tergantung jumlah follower yang dimiliki. Sponsored Tweets punya hitungan khusus di mana kita akan dibayar untuk setiap tweet dan setiap klik yang dilakukan atas tweet promosi tersebut. Saya sendiri dihargai $1/tweet, tapi sampai sekarang belum juga dapat opportunity. Hehehe...

Membicarakan Sponsored Tweets, saya jadi ingat satu program make money tweeting alias program mencari uang dengan Twitter yang sudah muncul sebelumnya. Ya, yang saya maksud adalah Be a Magpie. Sistem Be a Magpie sangat mirip dengan Sponsored Tweets. Bedanya hanya pada mata uang yang digunakan untuk membayar komisi member, di mana Sponsored Tweets memakai dollar (US $) dan Be a Magpie memakai euro (€). Lalu Be a Magpie memberlakukan rasio 5:1 antara tweet nonkomersil dan tweet berbayar, sementara Sponsored Tweets tidak. Selebihnya sama.

Selain Sponsored Tweets dan Be a Magpie, ada satu program make money tweeting lain. Namanya Twittad. Bedanya, di Twittad seorang pengguna Twitter dibayar untuk menampilkan iklan di halaman profilnya. Mas Medhy menjadi blogger Indonesia pertama yang mengumumkan sudah merasakan manisnya earning dari Twittad. Tapi sekarang sudah tak terdengar lagi bagaimana kelanjutan program ini. Begitu juga dengan be a Magpie.

Melihat perjalanan dua situs make money tweeting pendahulunya, apa yang bisa ditawarkan oleh Sponsored Tweets jadi menarik ditunggu. Terlebih program ini digagas oleh IZEA, Inc. yang bisa dibilang telah meraup sukses besar dengan PayPerPost dan SocialSpark. Akankah Sponsored Tweets bernasib seperti Be a Magpie? Atau justru mampu mendobrak krisis dengan program lama tapi baru ini?

Bagaimana pendapat Anda?

Rabu, 02 September 2009

Lagi-lagi Ganti Template (Repost)

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Lagi-lagi Ganti Template (Repost)
Link Tittle : Lagi-lagi Ganti Template (Repost)

lihat juga


MUNGKIN saya adalah satu-satunya blogger yang paling sering gonta-ganti template. Waktu blog ini belum genap berusia setahun saja terhitung sudah sekitar 6-7 template silih berganti dipakai. Bila diambil rata-rata, maka blog ini berganti template hampir setiap bulan! Di bulan ramadhan tahun lalu saya sudah ganti template 2 kali. Dan Ramadhan kali ini diganti lagi. Gila ya?

Kalau ada yang bertanya kenapa sesering itu saya berganti-ganti template, maka jawabannya hanya satu: mungkin saya ini orangnya terlalu perfeksionis. Saya bilang “mungkin” lho. Bisa jadi juga jawabannya adalah: saya ini ledha-ledhe alias plin-plan. Hehehe… Tapi yang jelas apa yang saya cari adalah paduan terbaik antara tampilan blog, tata halaman, sistem navigasi, dan juga waktu loading-nya.

Template yang saya pakai sebelum ini sebenarnya sudah bagus tampilannya. Fresh dan sejuk. Waktu loadingnya juga termasuk cepat. Apalagi headernya sudah saya ganti dengan ditambahkan logo sendiri. Tapi satu yang membuat saya kurang sreg adalah, kalau sedang dalam kondisi 'home' tampilannya kurang enak dilihat (bagi saya lho). Apalagi kalau beberapa posting pakai gambar sedangkan yang lain tidak. Kacau deh pokoknya. :D

Hal itu sebenarnya bisa dibilang bukan gangguan. LHa wong semua template ya begitu itu tampilannya kalau sedang menampilkan blog dalam kondisi 'home' alias halaman depan. Tapi dasar saya tukang komplain, akhirnya terulang lagi deh kejadian saat Ramadhan tahun lalu: ganti template (lagi).

Bagaimana dengan template yang sekarang? Untuk sementara ini saya merasa puas. Dari sekian banyak template yang pernah saya pakai, baru template inilah yang memenuhi keinginan saya. Pertama, desainnya simple tapi menarik. Tata halamannya rapi, mirip dengan yang biasa dipakai majalah-majalah online. Minimnya gambar yang dipakai (hanya di header, itupun ukurannya kecil) semoga saja membuat loading-nya tidak lambat. Eits, ini penilaian (subjektif) saya lho. Anda tentu punya penilaian sendiri kan? So, jangan malu-malu untuk mengungkapkannya di kolom komentar.

Oya, saya sebenarnya sudah kangen sekali ngeblog. Tapi hampir 3 bulan tidak ngeblog rupanya cukup membuat otak beku dan tangan kaku. Maka jadilah untuk pertama kalinya saya cuma repost saja. Mudah-mudahan setelah ini saya bisa aktif lagi menulis posting-posting baru yang segar. ^_^

Minggu, 31 Mei 2009

Rehat...

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Rehat...
Link Tittle : Rehat...

lihat juga


Hari ini, tepat di akhir bulan Mei 2009, masa magang saya di Harian Jogja berakhir sudah. Setelah selama 10 pekan atau 70 hari sejak tanggal 13 Maret 2009, akhirnya berakhir juga status saya sebagai reporter magang. Sungguh tidak terasa, terlebih karena saya mendapat jatah di mingguan yang praktis kerjanya jauh lebih santai dibanding yang harian. But, it's ok. Saya tidak mungkin memperpanjang masa magang karena ada satu alasan pribadi.

Ada banyak pengalaman menarik yang saya dapati dari magang ini. Sejumlah narasumber yang sempat saya temui telah memperkaya saya dengan wacana, pemikiran, pengetahuan, pelajaran, bahkan juga kekonyolan. Dan rasanya inilah hal paling berharga yang saya dapatkan selama magang ini. Tentu saja selain kesempatan untuk menampangkan tulisan-tulisan saya di Harian Jogja edisi Minggu selama masa magang tersebut.

Setelah magang ke mana lagi? Planning terdekat adalah menyelsaikan kuliah. Setelah magang seharusnya saya tinggal menggarap Laporan Kerja Praktek (LKP) saja. Tapi karena masih punya tanggungan beberapa mata kuliah, mungkin saya mesti bernegoisasi dulu dengan pihak kampus mengenai hal ini. Magang saya juga sebenarnya di luar kelaziman. Soalnya, sebenarnya yang boleh magang hanyalah mahasiswa yang sudah menghabiskan teorinya. :))

Mulai Juni sampai Agustus saya akan disibukkan dengan beberapa kegiatan dan sekaligus kewajiban. Ya, selain mengejar ketertinggalan di kampus tentunya. So, mungkin saya akan mengurangi aktivitas blogging selama dua-tiga bulan itu. Untuk itu saya mohon pamit pada teman-teman yang biasa berkunjung kemari. Saya juga mohon maaf jika selama Juni-Agustus tidak bisa berkunjung balik.

Itu saja. Dan saya mohon pamit untuk sejenak menghilang dari blogosphere. Terima kasih...


Kamis, 28 Mei 2009

Lebih Cepat (Tidak Selalu) Lebih Baik

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Lebih Cepat (Tidak Selalu) Lebih Baik
Link Tittle : Lebih Cepat (Tidak Selalu) Lebih Baik

lihat juga


Lebih cepat lebih baik. Itulah jargon yang diusung pasangan capres-cawapres Jusuf Kalla-Wiranto. Pasangan yang populer disebut JK-Win ini seolah ingin menyentil Presiden SBY yang sering bersikap lamban dan cenderung bingung menentukan sikap kala menghadapi suatu persoalan. Contoh kecil, SBY tak menentukan pilihan waktu ditanya siapa jagoannya dalam final Liga Champions kemarin malam.

Lebih cepat memang lebih baik, tapi tidak selalu lebih baik. Semua tergantung bagaimana persepsi kita mengenai kata "cepat". Terkadang terlalu cepat justru menjadi tidak baik dan kontraproduktif. Contohnya terlalu cepat berkomentar tanpa membaca keseluruhan isi posting terlebih dahulu.

Posting saya yang berjudul "Nothing Is Impossible" bisa diambil sebagai contoh. Karena pembuka dan penutup posting tersebut bercerita mengenai kesuksesan Yunani memenangi Piala Eropa 2004 (plus gambar), sejumlah pengunjung yang "bertindak cepat" jadi meninggalkan komentar tidak nyambung. Bahkan ada yang dengan pedenya mengomentari kisah sukses Yunani. Padahal inti dari posting tersebut bukan di situ.

Contoh lain adalah serial posting "Skenario (Curang) Meningkatkan Earning AdSense" yang saya buat September tahun lalu. Ada 6 tulisan dalam serial tersebut, di mana masing-masing artikel membahas satu trik curang untuk meningkatkan earning AdSense. Nah, di tulisan terakhir (artikel ke-6) saya membuat satu kesimpulan yang sangat antiklimaks dan saya yakin tidak diduga-duga para pembaca. Namun kebanyakan pembaca ternyata bertindak "terlalu cepat" dan langsung mengambil kesimpulan tanpa mau membaca keseluruhan seri tersebut, terutama bagian terakhir yang menjadi kesimpulan.

Inilah fenomena dunia blogging di Indonesia. Ketika trafik menjadi tujuan utama, maka makna paling penting dan termulia dari blogging jadi terlupakan. Blog tak lagi berfungsi sebagai media menuangkan ide-ide untuk didiskusikan dengan pengunjung, bukan lagi media untuk saling berbagi, bukan pula untuk menjalin persahabatan antar blogger.

Apa yang terjadi justru kebalikannya. Demi mengejar trafik, seorang blogger rela melakukan blogwalking dari satu blog ke blog lain. Karena tujuan utamanya hanya kunjungan balik yang berarti menambah trafik blognya, maka iapun selalu "bertindak cepat". Cukup baca judul, lihat gambar (kalau ada), dan baca sekilas paragraf pembuka dan penutup, lalu tinggalkan komentar. Jangan harapkan komentar panjang-lebar, diberi satu-dua kalimat pendek saja pemilik blog sudah sangat bersyukur.

Alhasil, blogwalking hanya menjadi satu wahana (maaf) setor wajah semata. Asal namanya tercatat mengunjungi blog lain dengan harapan dikunjungi balik. Tak ada diskusi, tak ada tukar-pikiran. Maka jangan heran kalau blog-blog yang bertema agak serius dan berat jarang pengunjungnya.

Maaf, hanya sekedar uneg-uneg. Tolong jangan diambil hati (emosi), tapi diambil pikiran (logika) saja. :D

Sabtu, 23 Mei 2009

Nothing Is Impossible

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Nothing Is Impossible
Link Tittle : Nothing Is Impossible

lihat juga


Masih ingat gambar di sebelah? Ya, ini momen saat Yunani merebut gelar juara Piala Eropa 2004 di Portugal. Sebuah momen bersejarah yang rasanya bakal melekat lama di ingatan para pecinta bola. Kenapa? Karena kemenangan Yunani sangat di luar dugaan. Masuk sebagai underdog, tapi Yunani justru keluar sebagai juara. From zero to hero.

Nothing is impossible. Adidas selaku sponsor apparel Yunani langsung memanfaatkan momen tersebut untuk lebih mempopulerkan jargonnya. Segera saja kalimat 'nothing is impossible' terlihat di mana-mana bersama foto timnas Yunani sedang merayakan kemenangan di Euro 2004. Ya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Bahkan Pablo Picasso, pelukis tersohor Spanyol pernah mengatakan 'Everything you can imagine is real'.

Suatu malam, saya chat dengan seorang rekan blogger. Sebut saja namanya Popo. Karena sudah sangat akrab, saya tak sungkan-sungkan menceritakan sebuah rencana padanya. Bukan rencana saya, tapi rencana seorang rekan lain di mana saya diajak terlibat menggarapnya. Apa rencananya? Tak muluk-muluk koq, mendirikan sebuah portal berita khusus Jogja.

Ketika rencana tersebut saya ceritakan pada Popo, dia bertanya "Mau menyaingi Detik?". Saya jawab enteng, "Who knows?". Eh, koq dia mengirim gambar orang tertawa dan menambahinya dengan kalimat, "Susah, Ko. Orang Okezone saja masih belum bisa menyamai Detik." Lagi-lagi saya jawab enteng, "Itu kan Okezone." Lalu pembicaraan jadi mengambang, jadi serba tidak enak.

Well, mungkin Popo benar tentang tak mungkin kami menyaingi Detik. Menyamainya pun mungkin susah. Tapi vonis ini terlalu dini dan sangat tidak adil. Bagaimana tidak? Detik sudah beroperasi sebagai situs berita sejak 1 Juli 1998, sementara kami baru sekedar rencana. Bahkan membandingkan Detik dengan Okezone juga tidak adil karena Okezone baru berjalan beberapa tahun belakangan. Tentu sebuah pembandingan yang tidak tepat.

Khusus soal rencana pembuatan situs berita lokal Jogja, rekan saya sudah membeberkan konsepnya kepada saya saat kami bertemu beberapa bulan lalu. Sebuah konsep cerdas yang bila itu dijalankan bakal sangat luar biasa hasilnya. Dan rencana itu sudah mulai direalisasikan oleh rekan tersebut. Ia pun sudah meminta saya untuk mencarikan beberapa anak AKY yang mau menjadi reporter di situsnya tersebut. Saya sendiri ditawari dua posisi: jadi reporter atau redaktur. :))

Sekali lagi, mungkin Popo benar saat mengatakan kami tak mungkin menyaingi Detik. Tapi pernyataan ini masih butuh kata tambahan. Ya, kami tidak mungkin menyaingi detik sekarang, tapi 5-10 tahun lagi siapa tahu? Apalagi saya tahu persis rekan yang punya ide membuat situs berita lokal Jogja tersebut punya jaringan sangat luas. Maklum, ia pernah jadi wartawan di Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Solopos, dan terakhir menjadi manajer di beberapa radio swasta.

Kembali ke cerita Yunani. Saat Euro 2004 dimulai, tak satupun pengamat berani memprediksi Yunani bakal jadi juara. Pasalnya, rekor internasional Yunani teramat buruk. Lebih sering absen di turnamen antarnegara dan tidak pernah menang di ajang internasional yang diikutinya membuat Yunani diposisikan hanya sebagai pelengkap Euro 2004. Apalagi Yunani tergabung di Grup A bersama Portugal, Spanyol dan Rusia yang peringkat FIFA-nya jauh lebih tinggi.

Publik mulai tercengang ketika tuan rumah Portugal berhasil mereka tundukkan di partai pembuka. Lalu satu demi satu raksasa Eropa mereka gilas. Rep. Ceska, Prancis, dan Portugal untuk kedua kalinya di partai final. So, nothing is impossible.

Catatan: Foto dari SkySport.com dan Freewebs.com.

Kamis, 21 Mei 2009

Bakso Pak Bawor Samirono

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Bakso Pak Bawor Samirono
Link Tittle : Bakso Pak Bawor Samirono

lihat juga


SETELAH dapat jatah liputan steak di pekan kedua masa magang, lama sekali saya tidak liputan untuk rubrik kuliner. Mungkin tepatnya bukan "tidak liputan", soalnya saya sempat dapat dua tugas liputan kuliner. Yang pertama mencari soto tangkar tapi tidak ketemu sampai deadline, dan kedua mencari satu angkringan super duper laris di daerah Deresan tapi luput dari amatan saya sehingga tidak tertangkap. :))

Nah, untuk edisi Minggu besok saya kebagian jatah meliput Bakso Pak Bawor di daerah Samirono. Ceritanya seluruh bakso terenak dan terlegendaris di Jogja akan diangkat. So, seluruh kru dibagi untuk meliput 6 warung bakso yang dianggap ter dan ter tadi. Dan saya kebagian jatah mencicipi baksonya Pak Bawor di Samirono. Kebetulan sekali bakso merupakan menu jajan favorit saya selain mie ayam.

Asyik, akhirnya makan-makan juga..! Sorak saya dalam hati sewaktu diberi tugas itu. Tanpa tunggu lebih lama lagi, saya segera menggarapnya. Langkah pertama browsing di internet untuk mencari tahu lokasi warung Bakso Pak Bawor. Hehehe, soalnya saya belum tahu sih. Tujuan kedua adalah untuk mencari tahu tanggapan orang-orang yang pernah makan di sana. Syukurlah kedua-duanya saya dapatkan.

Menurut hasil browsing, warung bakso Pak Bawor Samirono terletak tepat di tengah-tengah kampung Samirono. Jadi, dari Jl. Kolombo masuk terus ke selatan ke kampung Samirono. Ancer-ancernya di selatan GOR UNY. Masuknya dari jalan yang terletak tepat di selatan jalan yang ke arah GOR UNY. Dari pinggir Jl. Kolombo jauhnya sekitar 300 meter.

Sangat tidak disarankan mendatangi warung bakso Pak Bawor dengan kendaraan umum. Pasalnya bis kota ataupun angkot hanya akan menurunkan Anda di Jl. Kolombo. Naik transJogja lebih tidak disarankan karena letak shelternya jauh dari jalan masuk ke kampung Samirono. So, minimal naik sepeda deh. Hehehe....

Kembali ke laptop. Setelah tanya sana, sini, situ, akhirnya sampai juga saya dan Ari (junior di AKY yang menemani saya) di warung bakso Pak Bawor yang kondang itu. Penampilan warungnya sangat biasa. Tapi melihat jumlah pengunjungnya, saya tahu ada yang istimewa di sini. Terlebih setelah beberapa pengamen datang menjajakan suaranya di sana. Bukankah pengamen itu paling tahu di mana lokasi yang paling banyak orang? :))

Bakso pun dipesan. Alamak, ternyata lama juga menunggunya. Pesanan baru datang setelah es jeruk di hadapan saya tinggal setengah gelas. Tapi saya beruntung datang saat tanggal merah. Konon kalau hari kerja kita bahkan harus berjuang keras untuk sekedar mendapatkan tempat duduk. Gila!

Bagaimana rasa baksonya? Jujur saja saya tidak tahu itu termasuk bakso enak atau biasa saja. Yang jelas pentol baksonya termasuk hebat karena kentara sekali rasa dagingnya. Begitu dibelah tekstur bagian dalamnya tidak rata, menandakan kalau adonannya lebih dominan daging dibanding kanji. Waktu saya tanya ke Mas Bowo, salah satu karyawan di sana, perbandingan adonannya adalah 5:1. Oo, pantas saja kalau begitu.

Tertarik mencoba? Harganya tidak mahal koq. Mungkin sekitar Rp6000-an. Soalnya tadi bakso dua plus es jeruk dua totalnya Rp15.000. Jadi harga baksonya ya kira-kira Rp6000 semangkuk, terus es jeruknya Rp1.500. Masih termasuk murah untuk ukuran bakso sekondang itu. :))

Selasa, 19 Mei 2009

Bertemu Pangeran

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Bertemu Pangeran
Link Tittle : Bertemu Pangeran

lihat juga


Namanya Nieko Messa Yudha, seorang pebisnis yang cukup mapan. Tapi semenjak menikahi putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X, ia mendapat gelar Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) dan punya nama baru Wironegoro. Nah, saya menemuinya dalam kapasitasnya sebagai pengelola Jogja National Museum (JNM). Apalagi kalau bukan tugas liputan jurnalistik di tempat saya magang. Ceritanya saya disuruh mewawancarai sang Pangeran mengenai JNM.

Pertama kali dapat tugas tersebut, seperti biasa saya santai-santai saja. Tapi begitu tahu kalau yang harus ditemui adalah seorang Pangeran bergelar KPH, walah koq saya tiba-tiba saja jadi grogi. Dua minggu lebih tugas tersebut tidak saya garap. Meskipun nomor HP sudah di tangan dan alamat JNM sudah dikantongi, tapi saya tak kunjung turun ke lapangan. Grogi abisss..! :))

Beberapa lama kemudian, karena terdorong rasa tidak enak sama redaktur yang mengasuh saya, akhirnya nekat juga saya mengontak sang Pangeran. Sebelumnya saya sempat browsing di internet mengenai JNM dan juga KPH Wironegoro. Dapat beberapa referensi yang memberi bocoran sedikit, dan ini membuat saya bisa sedikit rileks. So, saya pun menelepon.

Begitu telepon diangkat jadi kikuk juga. Mau pakai panggilan apa nih? Masa iya mau memanggil lengkap KPH Wironegoro? Rasanya tidak mungkin deh. Akhirnya nekat saya sok akrab saja dan panggil Mas Nico yang memang jadi panggilan akrabnya. Hehehe. Tahu tidak, ternyata kemudian KPH Wironegoro menyebut dirinya sebagai Wiro. Tentu saja saya jadi salting karena merasa salah panggil. :))

Untungnya semua berjalan lancar. Kami membuat janji dan bertemu keesokan harinya di JNM. Ugh, betapa senangnya bisa bertemu dengan kerabat dekat Kraton Yogyakarta. Bayangkan, istri KPH Wironegoro merupakan calon penerus tahta Kraton Yogyakarta karena merupakan anak sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X. Itu artinya, kalau boleh GR, saya sedang berhadapan dengan suami calon Ratu Yogyakarta. Hehehehe....

Sepulang dari wawancara di JNM itu, benak saya berbisik nakal. Untung saja saya bertemu Pangeran di jaman modern seperti sekarang. Kalau saja bertemunya di jaman monarki jadul kala, tentu saya harus terlebih dahulu menyembah sang Pangeran. Bicaranya pun harus dengan bahasa Jawa kromo inggil yang saya sama sekali tidak tahu. Hihihi....

Catatan: Foto dari sinarharapan.co.id.