Senin, 13 Oktober 2008

Tolong, PPC Lokal Dibanjiri Penjual Mimpi..!

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Tolong, PPC Lokal Dibanjiri Penjual Mimpi..!
Link Tittle : Tolong, PPC Lokal Dibanjiri Penjual Mimpi..!

lihat juga


Munculnya situs-situs penyedia program pay per click (PPC) seperti Klik Saya, Kumpul Blogger, AdSense Camp, dll. disambut gembira blogger Indonesia. Pasalnya, kehadiran situs PPC lokal menjadi solusi bagi pengelola blog berbahasa Indonesia yang ingin menikmati manisnya program PPC. Berhubung bahasa Indonesia masih belum didukung oleh Google AdSense, maka situs PPC lokal langsung menjadi program favorit bagi pengelola blog/situs berbahasa Indonesia.

Sayang disayang, menurut pengamatan saya iklan yang ditampilkan situs-situs PPC lokal seragam: promosi para penjual mimpi! Dari dua situs PPC lokal yang saya amati (Klik Saya dan Kumpul Blogger), pemasang iklannya kebanyakan adalah pemilik atau reseller situs-situs penjual mimpi alias situs-situs yang menjanjikan cara-cara cepat kaya dengan mudah di internet. Kalau tidak percaya silakan cek sendiri.

Hal ini tentu berbeda jauh dengan Google AdSense yang memiliki materi iklan jauh lebih beragam. Atau kalau mau dibandingkan dengan sesama PPC yang tidak kontekstual seperti AdBrite atau Bidvertiser, PPC lokal juga kalah dalam hal keberagaman stok iklan. Maka jangan risih kalau di sidebar blog Anda bertebaran kalimat-kalimat bombastis seperti "3 langkah rahasia menjaring uang berlimpah di internet", "Formula jitu menghasilkan uang tanpa kerja", atau "Kini saatnya membuat uang bekerja untuk Anda!" yang kesemuanya mempromosikan situs sejenis.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Menurut saya penyebabnya paling tidak ada dua, dan keduanya sangat berkaitan erat. Pertama, masih melekatnya citra negatif pada dunia internet marketing Indonesia. Akibatnya pebisnis/pengusaha offline takut beriklan di internet karena khawatir ikut dicap jelek. Kalaupun ingin berpromosi di internet, maka mereka lebih memilih memasang banner di situs-situs populer (baca: bertrafik tinggi) dengan kredibilitas baik seperti Detik atau Friendster.

Kedua, iklan berbasis pay per click masih belum begitu familiar bagi kalangan pebisnis Indonesia. Hanya kalangan penggiat internet marketing, webmaster dan blogger saja yang akrab dengan sistem periklanan ini. Beberapa oknum dari kalangan ini secara tidak bertanggungjawab memanfaatkan minimnya pengetahuan orang Indonesia terhadap internet dengan menjual produk-produk “ajaib”, produk-produk yang dapat membuat seseorang menjadi kaya dengan cepat dan mudah. Lantas mereka berpromosi di PPC lokal untuk membidik blogger pemula. Jadi jangan heran kalau iklan PPC lokal yang Anda pasang didominasi promosi situs-situs penjual mimpi.

Saya sendiri sedang berpikir-pikir untuk membuang script iklan PPC lokal di blog ini. Hal tersebut mulai saya pertimbangkan setelah seorang pengunjung mengasosiasikan saya dengan sebuah situs yang diiklankan di PPC lokal. Eh, kebetulan pula si pemilik situs tersebut mencantumkan nama blog ini sebagai salah satu dari 1.900+ client-nya (cerita tentang hal tidak etis ini akan saya bahas beberapa saat nanti). Sebagai gantinya saya akan coba-coba memajang iklan Google AdSense. Siapa tahu bisa menggenjot pendapatan saya yang masih seret banget. Hehehe…

Bagaimana pendapat Anda?

Sabtu, 11 Oktober 2008

Halal Bihalal Wikimu Jogja

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Halal Bihalal Wikimu Jogja
Link Tittle : Halal Bihalal Wikimu Jogja

lihat juga


Masih ingat Wikimu? Situs citizen journalism yang pernah saya singgung saat membahas tentang trafik dari article directory beberapa waktu lalu itu kembali mengadakan acara off air. Maksudnya, acara kumpul-kumpul antar member Wikimu yang berdomisili di Jogja. Kali ini acaranya bertajuk halal bihalal karena memang masih dalam suasana lebaran.

Kumpul-kumpul memang selalu asyik. Demikian juga dengan halal bihalal member Wikimu Jogja yang bertempat di kantor Yayasan LKiS Sorowajan tadi siang. Beberapa orang sudah saya kenal karena sama-sama ikut Wikimu Gathering di Museum Batik bulan Maret lalu. Beberapa orang lagi baru bertemu saat itu. Namun suasananya langsung cair dan hangat. Soalnya ada suguhan teh dan kopi hangat sih. Hehehe…

Ada sembilan orang yang hadir. Bertindak sebagai tuan rumah adalah Mas Hairus Salim dan Mbak Pusvyta, keduanya bekerja di Yayasan LKiS. Lalu Sutriyati aka Trie dan Tri Darmiyati, keduanya adik tingkat saya di Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY). Kemudian ada Sabjan Badio, Josephine Wijiastuti aka Pipin (aktivis CRS), Kukuh Setyono (reporter Harian Jogja), Hendy Adhitya (mahasiswa dan aktivis BEM Atma Jaya Yogyakarta), dan terakhir saya sendiri (siapa hayo?!).

Saya sebenarnya kurang suka dengan acara kumpul-kumpul. Tapi pertemuan member Wikimu selalu saja tidak ingin saya lewatkan. Kenapa? Hal ini tidak lepas dari begitu terkesannya saya pada pertemuan pertama di Museum Batik dulu. Bukan saja bertemu banyak orang baru dari berbagai latar belakang, di Wikimu Gathering waktu itu saya juga menyerap banyak ilmu berkaitan dengan kepenulisan. Terlebih mengenai bagaimana supaya kita bisa jeli memotret fragmen-fragmen menarik di kehidupan sehari-hari untuk disajikan dalam bentuk tulisan yang memikat. Bukankah pengetahuan semacam ini sangat penting bagi seorang blogger yang pekerjaan sehari-harinya menulis?

Dalam pertemuan siang tadi kami juga berdiskusi tentang banyak hal. Namanya saja kumpul-kumpul, maka topik apa saja dibahas. Mula-mula masih seputar Wikimu dan hal-hal yang berkaitan dengan tulis-menulis di situs tersebut. Namun selanjutnya topik pembicaraan jadi lebih luas lagi. Mulai dari pengalaman seru Pipin yang sering ‘tour’ keliling Indonesia menangani berbagai macam bencana dan krisis sosial, juga keseharian Mas Kukuh yang sering meliput tentang Front Pembela Islam (FPI). Habis itu kamipun berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Ini dia fotonya! Coba cari saya yang mana?

Photobucket

Dari kiri ke kanan: Pusvyta, Trie, Tri Darmiyati, Hairus Salim, Pipin, Kukuh Setyono (kaos hitam), Sabjan Badio (kemeja putih, belakang), saya (pake kaos kebanggaan :D ), dan Hendy Adhitya (pake topi).




Nah, kalau beberapa waktu lalu saya bilang bahwa dengan bergabung di situs article directory dan citizen journalism sangat menguntungkan dari segi promosi blog dan peningkatan trafik, maka sekarang saya tambahkan lagi satu manfaat lain yang jauh lebih bernilai. Apa itu? Persahabatan. So, ayo gabung di Wikimu!

Kamis, 09 Oktober 2008

Ayo Withdraw Danamu di PayPal..!

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Ayo Withdraw Danamu di PayPal..!
Link Tittle : Ayo Withdraw Danamu di PayPal..!

lihat juga


Tidak biasa-biasanya saya menulis judul yang provokatif seperti ini. Tapi ini hanya sebagai penegasan bagi Anda (terutama yang memiliki simpanan dana di PayPal) untuk segera menarik dana dari account PayPal Anda. Kenapa? Karena saat inilah waktu yang tepat untuk menarik dana Anda di PayPal ke Rupiah. Barusan saya iseng-iseng melakukan withdraw, dan ternyata kurs yang diberikan PayPal lumayan tinggi!

Saat terakhir withdraw bulan lalu, PayPal masih memberi kurs di bawah Rp 9000 per dolar. Tepatnya sekitar Rp 8900 sekian. Padahal kurs di luaran cukup tinggi, berkisar antara Rp 9200 sampai Rp 9300. Seiring dengan semakin terpuruknya perekonomian Amerika Serikat yang juga mempengaruhi perekonomian dunia, ternyata kurs dolar terhadap rupiah jadi semakin tinggi. Setidaknya versi PayPal yang kini memberi kurs Rp 9.340,56 per dolar. So, kalau Anda punya simpanan dana di PayPal, inilah saat yang tepat untuk menariknya ke dalam Rupiah!

Beberapa kali menarik dana dari PayPal ke Rupiah saya selalu menggerutu. Bagaimana tidak? Kurs di luaran selalu di atas Rp 9000, tapi PayPal tega-teganya hanya memberi kurs Rp 8900 selama berbulan-bulan sepanjang 2008 ini. Terakhir kali PayPal memberi kurs tinggi seingat saya cuma di awal-awal tahun ini, sekitar Rp 9400/dolar. Sayangnya waktu itu saya belum punya simpanan dana di PayPal karena memang belum punya penghasilan dari berbagai program online earning yang saya ikuti. Eh, begitu saya punya sedikit penghasilan dan ingin ditarik ke Rupiah, kurs jadi anjlok. PayPal selalu memberi kurs yang jauh lebih rendah dari kurs di luaran. Apes deh.

Nah, barusan saat iseng-iseng mengecek simpanan di account PayPal, saya coba-coba withdraw. Benar-benar coba-coba seperti yang biasanya saya lakukan. Tapi begitu melihat kurs yang diberi PayPal sebesar Rp 9.340,56/dolar, tanpa pikir panjang langsung saya tarik dana itu. Saya tidak mau menahan dana itu lebih lama lagi karena khawatir kurs-nya justru anjlok lagi. Memang masih ada kemungkinan kurs tersebut bakal lebih tinggi lagi dari yang sekarang, tapi jujur saja saya tidak berani berspekulasi. Toh, besok sudah dapat bayaran lagi dari SponsoredReviews. Kalau misalnya kurs PayPal naik lagi berarti saya tetap bisa menikmatinya. Hehehe...

Ayo, kapan lagi mau menarik dana Anda dari PayPal? Mumpung kurs-nya sedang tinggi lho. Tidak percaya? Nih, kebetulan saya menyimpan screenshot dari cuurency converter-nya PayPal.



Catatan: Maaf, saya sedang tidak enak badan. Ini nekat online untuk garap paid review berhubung besok jadwal pembayaran komisi dari SponsoredReviews. Tahu kan maksudnya? Hehehe. So, maaf ya kalo postingnya masih ngaco kaya gini. :D

Senin, 06 Oktober 2008

Blogger = Entrepreneur?

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Blogger = Entrepreneur?
Link Tittle : Blogger = Entrepreneur?

lihat juga


Apa padanan yang tepat bagi profesi blogger? Sementara sebagian orang masih beranggapan blogger bukanlah sebuah profesi, atau paling tidak bukanlah profesi yang menjanjikan, beberapa yang lain malah memadankan blogger dengan entrepreneur. Alasannya, apa yang dikerjakan seorang blogger sama persis dengan entrepreneur.

Awalnya saya mengerutkan kening sewaktu membaca pendapat seorang rekan blogger yang mengatakan kalau ia lebih memilih menjadi blogger daripada melanjutkan pekerjaannya karena mengelola blog pada hakikatnya belajar menjadi seorang entrepreneur. Tapi setelah dipikir lebih dalam lagi, pendapat tersebut ternyata ada benarnya juga. Artinya, dengan menjadi blogger secara tidak sadar kita sedang melatih diri untuk menjadi seorang entrepreneur.

Kalau mau diambilkan satu padanan yang paling mendekati karakteristiknya, maka mengelola blog tidak beda dengan menjalankan satu perusahaan penerbitan. Lebih spesifiknya lagi penerbitan media cetak harian alias surat kabar. Ada beberapa persamaan yang membuat saya memadankan blog dengan surat kabar. Satu di antaranya adalah pola update-nya yang teratur secara berkala.

Sebuah surat kabar umumnya diterbitkan harian (seperti Kedaulatan Rakyat atau Kompas), dan ada juga yang terbit mingguan (seperti Minggu Pagi kalau di Jogja). Tidak peduli berapa lama jangka waktu update-nya, yang jelas surat kabar mesti terus menerbitkan edisi terbaru sesuai jadwal yang telah ditentukannya. Bila tidak, maka surat kabar tersebut dapat dikatakan mati dan ditinggalkan pembacanya.

Begitu juga dengan blog. Sebuah blog dikatakan hidup dan akan terus eksis jika (dan hanya jika) secara konsisten di-update dalam tenggat waktu yang telah ditentukan pemiliknya. Entah itu sehari di-update 3 kali (seperti yang dilakukan John Chow), sehari sekali, atau tiap beberapa hari sekali, yang jelas sebuah blog harus tetap di-update dan menyajikan artikel-artikel terbaru bagi pembacanya. Kalau tidak? Anda sudah tahu sendiri jawabannya.

Meng-update blog secara berkala bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Banyak blogger mengakui kalau tugas terberatnya adalah terus mencari bahan-bahan posting sebagai suguhan terbaru bagi pembaca blognya. Dibutuhkan disiplin dan juga konsistensi tinggi untuk melakukan ini terus-menerus. Selain itu juga harus didasari oleh satu tujuan atau goal yang ingin dicapai dengan blog tersebut. Tanpa itu semua, memikirkan apa yang akan dipublikasikan selanjutnya saja akan terasa sangat berat.

Pemilik blog, sebagaimana pengelola surat kabar, juga harus berupaya keras memberikan yang terbaik bagi pembacanya. Baik tulisan maupun tampilan blog mesti dibuat sedemikian rupa agar menarik minat pembaca sekaligus membuat pembaca mau datang kembali dan akhirnya memilih menjadi pelanggan tetap. Memperhatikan kualitas tulisan dan juga tampilan ini akan jadi lebih penting lagi ketika blog sudah nenpunyai pengiklan. Sebab kalau sampai blog tidak lagi menarik bagi pembaca, bisa dipastikan trafik akan menurun. Dan pengiklan tidak mau memasang promosinya di blog yang sepi pengunjung.

Di titik ini, blogger sudah dapat disamakan dengan entrepreneur karena terus-menerus mencari ide-ide segar serta mencoba berbagai terobosan untuk dapat tetap eksis serta memenangkan ketatnya persaingan. Karena itu dalam perjalanannya baik blogger maupun entrepreneur harus senantiasa kreatif dan inovatif agar terus berkembang mejadi lebih baik lagi dari hari ke hari.

Bagaimana pendapat Anda?


Catatan: Artikel ini saya buat sewaktu sedang berlibur di tempat calon mertua di Pemalang. Rencananya akan diposting Sabtu, 4 Oktober, lalu. Tapi karena sampai saya pulang ke Jogja tidak ada warnet yang buka, maka baru bisa diposting sekarang. Dan habis ini saya mesti pergi lagi. Kali ini lebih jauh, ke Tangerang. Entah sampai kapan... :((

Jumat, 03 Oktober 2008

Mengenal Liew Cheon Fong, Fulltime Blogger Pertama Malaysia

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Mengenal Liew Cheon Fong, Fulltime Blogger Pertama Malaysia
Link Tittle : Mengenal Liew Cheon Fong, Fulltime Blogger Pertama Malaysia

lihat juga


Pernah dengar nama Liew Cheon Fong? Belum? Sama dong kalau begitu. Hehehe… Nama ini pertama kali saya tahu saat membaca ebook Chitika BlogBash. Chitika menyebut Cheon Fong—atau biasa dikenal dengan nickname LcF, sebagai salah satu blogger populer di Asia Tenggara. Dan yang membuat saya kemudian mem-bookmark namanya di urutan pertama dalam ingatan saya adalah bahwa Cheon Fong tinggal di Malaysia.

Sebuah fakta menarik mengetahui Chitika mengundang seorang blogger Malaysia dalam proyeknya. Di ebook tersebut terdapat nama-nama besar seperti Darren Rowse, Joel Comm, Aaron Wall, Daniel Scocco, Chris Batty, Jay Brewer dan lain-lainnya yang sudah diakui sebagai master blogger. Itu artinya Cheon Fong adalah seorang blogger yang sudah diperhitungkan kemampuannya (setidaknya oleh Chitika) sehingga namanya terdaftar di antara para master blogger dunia. Hmmm, tentu Anda jadi penasaran sehebat apa sih si LcF ini, bukan?

Rupanya Cheon Fong memang bukan blogger sembarangan, Saudara-saudara. Ia tercatat sebagai fulltime blogger pertama di Malaysia. Maksudnya tentu saja orang yang bekerja dan menghasilkan uang semata-mata dengan blog. Nah, buat Anda yang berniat menjadi fulltime blogger, pengalaman Liew Cheon Fong ini patut disimak baik-baik.

Awalnya Cheon Fong adalah seorang programmer sekaligus webmaster profesional di sebuah perusahaan kosmetik lokal. Sejak tahun 2005 ia mengenal blog dan mengisi waktu luangnya untuk mengurus blog. Pertama-tama hanya iseng-iseng menyalurkan hobi. Seiring berjalannya waktu, ternyata dari blognya itu ia mampu memperoleh penghasilan sebanyak gaji bulanannya. Iapun mulai berpikir untuk keluar dari pekerjaan dan menekuni profesi sebagai fulltime blogger.

Sebuah pemikiran hebat. Tidak semua orang berani meninggalkan pekerjaan tetap dengan gaji rutin yang sudah pasti demi menjadi fulltime blogger, profesi yang sekilas pandang tidak begitu menjanjikan karena penghasilannya tidak jelas. Terlebih waktu itu blog dan blogging belum begitu populer di Malaysia. Namun Cheon Fong sudah bulat tekadnya. 18 Agustus 2005 ia menyatakan keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, kemudian memfokuskan diri menjadi fulltime blogger sejak 9 September 2005.

Sudah bisa ditebak kalau kemudian Cheon Fong menerima banyak pertanyaan dari keluarga besarnya. Karena tak satupun anggota keluarganya yang paham apa itu blog, blogging, ataupun blogger, Cheon Fong hanya menjelaskan kalau ia ingin bekerja di rumah dengan memanfaatkan internet. Keluarganya mendukung keputusan tersebut meskipun tidak begitu mengerti apa maksud Cheon Fong. Lucunya, sampai saat inipun ibunya tidak mengerti apa yang dilakukan Cheon Fong sampai bisa menerima cek secara rutin setiap bulan. Hehehe, ada yang punya pengalaman serupa?

Jalan Cheon Fong tak selalu mulus. Ia justru menerima banyak komentar negatif dari pembaca blognya saat menceritakan niat tersebut. Beberapa orang menertawakan bahasa Inggris-nya yang masih berantakan, sementara sebagian lagi memintanya untuk bersikap reaslistis karena blogger bukanlah sebuah profesi ataupun pekerjaan. Cheon Fong tak terpengaruh. Ia menganggap komentar-komentar negatif itu sebagai angin lalu dan terus melangkah. Terbukti sekarang ia bisa hidup enak dengan penghasilan berlimpah sebagai fulltime blogger.

Kesuksesan Cheon Fong segera menginspirasi blogger-blogger Malaysia untuk mengikuti jejaknya. Meskipun diakuinya penghasilan dari blog masih belum begitu besar, namun Cheon Fong merasakan hidup sebagai fulltime blogger benar-benar menyenangkan. Tidak hanya jam kerja yang seenaknya, ia juga jadi memiliki banyak waktu luang bersama keluarga dan kebebasan untuk bepergian ke mana saja kapanpun. Hal ini tentu tidak mungkin ia dapatkan kalau masih menjadi karyawan.

Jujur saja, setelah membaca kisah ini saya jadi sangat termotivasi untuk menjadi fulltime blogger. Sayangnya hal tersebut belum bisa saya wujudkan sekarang karena masih harus membagi konsentrasi dan waktu dengan kuliah. Mudah-mudahan setelah lulus tahun depan saya bisa mulai menekuni "karir" sebagai fulltime blogger. Amin. Bagaimana dengan Anda?

Posting yang MIRIP 99.99%:
- Caksub Ingin Seperti Liew Cheon Fong, Fulltime Blogger Pertama Malaysia

Minggu, 28 September 2008

Google Translate Support Bahasa Indonesia Lho...

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Google Translate Support Bahasa Indonesia Lho...
Link Tittle : Google Translate Support Bahasa Indonesia Lho...

lihat juga


Satu lagi berita gembira bagi Anda yang masih belum pede dengan kemampuan bahasa Inggrisnya. Setelah sebelumnya diuntungkan dengan kehadiran situs paid review lokal, maka kini Google yang bakal memudahkan jalan Anda meraih dolar di internet. Dengan bantuan The Big G, Anda bisa membuat artikel dalam bahasa Inggris sekalipun skill bahasa Inggris Anda pas-pasan. Serius lo? Yap, saya serius! Bagaimana caranya?

Anda pasti sudah tahu Google Translate, bukan? Itu lho, layanan penerjemah multibahasa milik Google. Layanan ini biasa digunakan para pemain paid review untuk mengubah satu artikel menjadi artikel orisinil yang sama sekali lain dari aslinya. Caranya dengan menerjemahkan artikel asli ke beberapa bahasa lain, lalu mengembalikannya ke bahasa Inggris. Nah, sekarang kita tidak perlu repot-repot lagi menerjemahkan berulangkali ke beberapa bahasa karena Google Translate sudah men-support bahasa Indonesia.

Berita ini pertama kali saya ketahui waktu berkunjung ke blognya Giredo. Begitu selesai membaca postingnya Giredo saya langsung meluncur ke Google Translate. Ternyata benar, pilihan bahasa Indonesia ada di antara deretan bahasa-bahasa lainnya. Test drive langsung saya lakukan. Satu paragraf dari artikel tentang ReviewMu yang saya tulis dua hari lalu dijadikan bahan percobaan. Dan beginilah hasilnya:

Photobucket

Hasil terjemahannya tidak begitu mengecewakan koq, meskipun susunan tata bahasanya banyak yang rancu. Kita masih perlu melakukan perbaikan dan mengedit hasil terjemahan ini sebelum dipublikasikan di blog atau di-submit di pemain situs-situs article directory. Dan buat Anda yang hobi menulis dengan bahasa gaul alias tidak mengindahkan EYD, Google Translate sepertinya tidak mengenali kosakata seperti "dong" atau "kan". Coba perhatikan kata-kata yang saya beri garis bawah hijau pada gambar di atas.

Selain menerjemahkan artikel, Google Translate juga sudah menyediakan fasilitas penerjemah halaman situs dari dan ke bahasa Indonesia. Untuk menerjemahkan satu halaman situs kita memasukkan alamat URL halaman yang akan diterjemahkan di kolom paling bawah lalu klik tombol "Translate". Sebagai percobaan saya memasukkan alamat URL posting tentang ReviewMu untuk membandingkan hasilnya dengan hasil terjemahan artikel sebelumnya. Hasilnya silakan lihat gambar berikut:

Photobucket

Ternyata hasil terjemahannya tidak jauh berbeda. Maksud saya, sama-sama banyak yang rancu. Tata bahasa Indonesia yang berbeda dengan grammar bahasa Inggris menyebabkan hasil terjemahan Google masih perlu diedit agar bisa dimengerti para pengguna bahasa Inggris. Artinya, kita tetap harus memeras otak untuk menghasilkan konten berbahasa Inggris. Tapi paling tidak dengan bantuan Google Translate kerja kita tidak seberat dan serepot dulu lagi. Iya nggak sih?

Btw, kapan ya Google AdSense men-support bahasa Indonesia? :(

Sabtu, 27 September 2008

Eko Itu Nama Pasaran Ya?

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Eko Itu Nama Pasaran Ya?
Link Tittle : Eko Itu Nama Pasaran Ya?

lihat juga


Yang punya nama Eko jangan tersinggung dulu ya? Ini hanya posting iseng menjelang lebaran supaya tidak stress. Daripada terus-terusan pusing melihat berita kemacetan mudik, ricuh pembagian zakat, bentrok berkepanjangan antara FPI dan AKKBB, atau berita-berita yang membuat hati miris lainnya, di sini saya ingin berbagi satu cerita berkaitan dengan betapa banyaknya orang bernama Eko di dunia ini. Eit, jangan protes ya kalau saya bilang nama Eko itu mendunia. Soalnya dulu waktu masih magang di Prambanan saya pernah ketemu orang Suriname bernama Eko lho. Hehehe...

Benarkah Eko itu nama pasaran? Sewaktu kecil di Palembang saya tidak banyak tahu orang-orang bernama Eko di sekitar saya, kecuali seorang anak tetangga yang berusia jauh lebih tua dari saya. Semasa SD juga tidak banyak orang bernama Eko yang saya tahu. Nah, pemilik nama Eko mulai banyak saya temui ketika saya masuk SMP di daerah Sungai Bahar, Jambi. Anak tetangga ada satu yang namanya Eko. Gilanya, si Eko ini punya adik bernama Nurhuda. Walah..!

Tapi itu masih belum cukup, Saudara-saudara. Ternyata di kelas saya ada 3 orang Eko!
Eko yang pertama nama lengkapnya Eko Prasetyo, selepas SMP kami jarang ketemu karena lain desa. Lalu Eko kedua bernama lengkap Eko Sarjianto, dan Eko yang ketiga adalah Eko Sriyanto. Kedua Eko terakhir ini masih sering saya temui tiap pulang kampung. Dan kalau pas kami kumpul bareng bertiga teman-teman suka iseng menyebut kami sebagai Trio Eko. :))

Semasa SMA di Muara Bulian, pemilik nama Eko masih banyak beredar di sekitar saya. Di kelas dua saya punya dua teman yang sama-sama bernama Eko. Jadi dengan saya ada tiga Eko dalam kelas tersebut. Dua Eko yang lain adalah Eko Dian Iing Sholihin (sekarang menjadi Kepala Bagian di salah satu departemen di Pemkab. Batanghari) dan Eko Bandung (saya lupa nama aslinya, tapi dia sering dijuluki begitu karena memang asli Bandung).

Pertemuan saya dengan sesama pemilik nama Eko terus berlanjut saat menempuh studi di sebuah program pendidikan pariwisata. Menantu pemilik tempat kos saya ada yang namanya Eko. Terus sekelas dengan saya ada satu Eko lain yang bernama lengkap Eko Gunarpo. Awalnya kami tidak akrab karena baik dari segi fisik maupun lingkungan pergaulan berbeda jauh. Tapi karena sama-sama hobi main PS kami akhirnya malah jadi sering "bertanding" dan ngobrol banyak.

Di kampus saya yang sekarang (Akademi Komunikasi Yogyakarta alias AKY) tidak ada yang bernama Eko. Jadi sayalah satu-satunya Eko di kampus tersebut. Kemudian saat memulai blog dulu saya juga jarang bertemu pemilik nama ataupun nick Eko. Saya pikir inilah akhir perjumpaan saya dengan sesama pemilik Eko. Ternyata pikiran saya salah. Ada beberapa blogger dan pemilik situs yang bernama Eko di Indonesia ini. Iseng-iseng saya buat daftarnya sepanjang yang saya tahu, dan inilah dia si Eko-Eko itu:

Saya sendiri (EkoNurhuda.com)
Eko Pramuyanto (MasEko.com)
Eko Priyanto (Info-Baru.com)
Eko Prasetyo 1 (EkoPrasetyo.com)
Eko Prasetyo 2 (SimplyEko.com)
Eko Sulistyo (PengelolaKeuangan.wp)
Eko Sriyantono (CakEko.blog)
Eko Setiawan (BlackKingdom.blog)
Eko Yudiono (Farrelano.blog)
Eko HM Arata (SerampaiKata.blog)
Eko Budi Prasetyo (Amphie09.blog)
Eko Purwanto (WebMediaCenter.com)
Eko Junaedi (EkoJunaedi.blog)
FX Eko Budi Kristanto(FXEkoBudi.net)
Didik Eko Tjahjono (DidikEkoTjahjono.com)
Sigit Eko S. (IlmuPhotoshop.com)

Sudah, ah! Capek saya menulis seluruh blogger bernama Eko. Padahal saya yakin masih banyak Eko-Eko lain yang juga seorang blogger seperti nama-nama di atas. Anda mau menambahkan?

Jumat, 26 September 2008

Mengkritisi Peluang ReviewMu

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Mengkritisi Peluang ReviewMu
Link Tittle : Mengkritisi Peluang ReviewMu

lihat juga


Cosa Aranda telah sukses membuat gebrakan besar dengan meluncurkan ReviewMu, situs paid review lokal pertama di Indonesia. Seperti pernah saya bilang beberapa waktu lalu, kehadiran ReviewMu bisa jadi angin segar bagi blogger yang kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas. ReviewMu juga bisa jadi solusi bagi blogger yang ingin me-monetize blog berbahasa Indonesia. Sudah banyak blogger mengeluh karena bahasa blog mereka jadi campur-aduk gara-gara dipakai menulis paid review. Diharapkan masalah seperti ini bisa terpecahkan dengan hadirnya ReviewMu.

Dapatkah ReviewMu memenuhi harapan tersebut? Masih butuh waktu untuk menjawabnya. Sampai saat ini baru ada 3 advertiser yang jadi client ReviewMu (seperti yang terakhir saya lihat di member area), namun ini bukanlah pertanda kalau peminatnya kurang. Di luar itu saya justru tertarik mengangkat soal seberapa antusias blogger Indonesia menyambut kehadiran program satu ini. Hal ini saya kaitkan dengan harga review yang (saat ini) minimal hanya Rp 10.000/review.

Begini. Saya mulai dengan membandingkan komisi minimal ReviewMu dengan dua situs paid review favorit saya, yakni Blogsvertise dan SponsoredReviews. Di Blogsvertise blogger minimal akan menerima komisi sebesar $2/review. Dengan kurs Rp 8.900/dolar (nilai kurs terakhir versi PayPal), komisi itu setara dengan Rp 17.800. Sedangkan SponsoredReviews memberikan komisi minimal $3.25 (65% dari $5, harga paling rendah) per review. Dikali Rp 8.900 hasilnya sama dengan Rp 28.925. Jelas jauh lebih besar dari komisi minimal yang diberikan ReviewMu, bukan?

Coba kita hitung-hitungan sebentar. Di ReviewMu, Anda harus menyelesaikan 10 review untuk memperoleh bayaran Rp 100.000. Di Blogsvertise, dengan asumsi tiap review dibayar $2 uang sebanyak Rp 100.000 bisa diraih hanya dengan menulis 6 review saja. Blogger yang terbiasa memperoleh grab bag task alias GBT malah menerima $10 (=Rp 89.000) per review. Di SponsoredReviews, uang Rp 100.000 sudah bisa didapat dengan hanya menulis 4 review senilai $3.25 yang merupakan harga minimal.

Berangkat dari perbandingan ini saya mempunyai satu pertanyaan besar: mampukah ReviewMu menarik minat para pemain paid review di Indonesia? Dengan komisi jauh lebih kecil dari situs paid review luar, saya rasa koq sulit ya. Kalaupun tertarik bergabung, maka mereka hanya akan mencari referal banyak-banyak sambil menunggu advertiser yang berani memberi bayaran tidak jauh dari komisi Blogsvertise atau SponsoredReviews (sebagai contoh). Kalau tidak ada ya mereka memilih fokus ke paid review luar.

Lho, jangan dibandingkan dengan situs luar dong! Kan standarnya beda? Mungkin ada di antara Anda yang protes begitu. Oke itu memang betul. Tapi di mata blogger yang paling penting adalah seberapa banyak mereka akan dibayar. Blogger tentu akan membandingkan masalah komisi ini sebelum akhirnya memutuskan bergabung dengan satu program tertentu. Bila program A menawarkan bayaran minimal $2 atau $3.25, kenapa mereka harus tertarik bergabung dengan program B yang hanya memberi komisi minimal Rp 10.000 (=$1.1)? Lagipula sekarang jasa content writer menjamur. Artinya, keterbatasan bahasa Inggris sudah bukan menjadi kendala besar untuk mengeruk dolar dari paid review luar.

Bagi blogger pemula yang belum tahu banyak tentang paid review atau jarang menerima task/opportunity dari paid review luar, ReviewMu tentu akan menjadi primadona. Namun Cosa Aranda dan timnya mesti bekerja lebih keras lagi untuk dapat mengundang minat pemain-pemain paid review yang biasa menerima bayaran minimal $10/review. Terlebih lagi untuk mengundang minat jagoan-jagoan paid review seperti Indra Diky atau Toni Jauhari.

Kalau saya boleh memberi masukan, sebaiknya ReviewMu segera menaikkan harga minimalnya. Alasannya? Bila harga minimal tetap Rp 10.000/review, maka bisa dipastikan semua advertiser hanya akan membayar sebesar itu. Bisa dipastikan pula kalau semua task/opportunity yang ada harganya hanya Rp 10.000. Koq bisa? Bayangkan saja jika Anda yang jadi advertiser, tentu Anda akan berpikir “kenapa mesti membayar lebih kalau Rp 10.000 saja dibolehkan?” Di lain pihak blogger akan berpikir, “kenapa saya mesti menulis review seharga Rp 10.000 kalau di tempat lain bisa dapat lebih?” Iya, kan?

Nah, dengan menaikkan harga minimal secara otomatis ReviewMu juga menaikkan standar komisi yang tentunya akan mengundang minat lebih banyak blogger untuk bergabung. Termasuk juga para jagoan paid review. Nah, dengan memiliki banyak blogger sebagai membernya, tentu saja akan lebih mudah lagi bagi ReviewMu untuk menggaet advertiser. Kalau sudah begini baik blogger, advertiser, maupun pengelola ReviewMu sama-sama diuntungkan. Bukankah itu yang sejak semula diinginkan Mas Cosa?

Bagaimana pendapat Anda?

Selasa, 23 September 2008

ReviewMu, Paid Review a la Indonesia

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : ReviewMu, Paid Review a la Indonesia
Link Tittle : ReviewMu, Paid Review a la Indonesia

lihat juga


Setelah melalui beberapa tes dan masa uji coba yang melibatkan beberapa blogger pilihan, akhirnya situs paid review lokal pertama resmi diluncurkan. Namanya ReviewMu, dikelola oleh CV Cosa Aranda Network (CAN) yang tak lain adalah perusahaan milik Cosa Aranda sang master Google AdSense dari Surabaya. Sekilas namanya hampir mirip dengan situs paid review yang lain, yakni ReviewMe. Namun ReviewMu sangat khas Indonesia. Semua fiturnya menggunakan bahasa Indonesia, termasuk juga mata uang untuk komisinya yang menggunakan Rupiah.

Anda yang sering berkunjung ke blog master satu ini pasti sudah mendengar bocorannya sejak lama. Waktu itu Cosa mengumumkan bahwa ia mencari 20 blogger untuk menjadi beta tester ReviewMu. Saya telat baca posting itu, jadinya tidak ikut mendaftar karena di kolom komentar sudah ada 100 orang lebih yang mendaftarkan diri. Ya sudah, jadinya baru bisa mendaftar sekarang deh.

Kehadiran ReviewMu ini tentu saja menjadi angin segar bagi blogger Indonesia, terutama yang (maaf) tidak pede dengan kemampuan bahasa Inggrisnya. Alasannya apalagi kalau bukan karena di situs paid review lokal pertama ini blogger cukup menulis review dalam bahasa Indonesia. Bila selama ini hanya menjadi penonton di kancah paid review, dengan hadirnya ReviewMu mereka juga bisa turut mencicipi nikmatnya program online earning yang sedang jadi favorit ini. Asyik kan?

Ngomong-ngomong, bayarannya berapa nih? Sama halnya dengan situs paid review lain, besar-kecilnya komisi yang diterima blogger sangat bergantung pada kualitas blog yang dimilikinya. Semakin bagus popularitas sebuah blog, maka semakin besar pula komisi yang bisa didapatnya. Google pagerank, peringkat Alexa, trafik, dan beberapa faktor lain tentu sangat mempengaruhi pertimbangan advertiser sebelum memilih review dari sebuah blog. Dan hal ini juga mempengaruhi besaran uang yang mau dibayarkan ke blog tersebut.

Bagaimana dengan program referensi? Jangan khawatir. Sebagai seorang yang sudah lama berkecimpung di dunia internet marketing, Cosa tentu tahu kalau program referensi adalah faktor penting bagi perkembangan ReviewMu. Jadi, kalau Anda ingin memperoleh hasil lebih banyak lagi, silakan referensikan ReviewMu pada teman-teman yang lain. Anda akan memperoleh komisi 10% dari setiap transaksi yang dilakukan oleh member hasil referensi Anda, baik itu blogger maupun advertiser.

Oya, komisi dibayarkan setiap bulan dengan cara transfer bank. Sementara ini baru 3 bank yang diterima sebagai sarana pembayaran komisi, yakni BCA, Mandiri, dan Niaga. Semoga saja ke depan bank-bank nasional lain seperti BNI, BRI atau yang lainnya juga dapat diterima. Sehingga peluang bagus yang diberikan ReviewMu ini dapat dinikmati oleh lebih banyak orang. Buat advertiser, semoga lebih menghargai blogger dengan memberi harga review yang lebih tinggi lagi. Masa iya kemarin ada yang tega kasih harga Rp 5000/review sih? Dasar..!

Sudah mendaftar di ReviewMu? Kalau belum, Anda dapat mendaftarkan diri di sini sebagai referral saya. Tapi kalau tidak mau jadi referral saya silakan daftar melalui link yang ini. Oke?

Sabtu, 20 September 2008

Pemerintah Malaysia Tangkapi Blogger

- Hallo sobat gh54hss574, Pada post kali ini yang berjudul , saya telah menyediakannya dengan susah payah. mudah-mudahan isi postingan yang saya bikin ini dapat anda pahami. okelah, ini postingannya.

Tittle : Pemerintah Malaysia Tangkapi Blogger
Link Tittle : Pemerintah Malaysia Tangkapi Blogger

lihat juga


Polisi Diraja Malaysia kembali menangkap seorang blogger. Kali ini Syed Azidi Syed Azis alias Sheih Kickdefella yang ditangkap Rabu (17/9) lalu. Pihak kepolisian Malaysia menangkap Syed Azidi di kediamannya di selatan Kelantan yang merupakan basis oposisi. Syed Azidi ditangkap karena menampilkan bendera nasional secara terbalik di blognya. Ia dijerat dengan UU Tindak Penghasutan.

Penangkapan ini bernuansa politis. Sebab selama ini Syed Azidi dikenal memiliki hubungan dengan petinggi partai oposisi yang berhaluan Islam konservatif, Parti Islam SeMalaysia (PAS). Gambar bendera nasional yang dipasang terbalik di blognya merupakan bentuk protes atas kondisi politik dan ekonomi Malaysia yang memang tengah bergejolak. Ia juga mengkampanyekan pemasangan bendera terbalik itu di internet. Kampanye tersebut mengusik perhatian PM Abdullah Badawi yang meminta pihak kepolisian segera mengusut tuntas kasus ini.

Lima hari sebelumnya, Jum’at (12/9), Polisi Diraja Malaysia juga menahan seorang blogger bernama Raja Petra Kamaruddin. Pengelola portal Malaysia Today ini ditangkap karena dituduh melakukan penghasutan untuk membenci pejabat pemerintahan berkuasa melalui blognya. Situs Malaysia Today sendiri merupakan sebuah situs kontroversial yang mendapat kecaman dari banyak pihak.

Raja Petra juga sempat melontarkan tuduhan bahwa Wakil PM Najib Razak dan istrinya terlibat dalam sebuah pembunuhan yang mengakibatkan tewasnya seorang perempuan asal Mongolia. Ia ditangkap berdasarkan Internal Security Acts (UU Keamanan Internal/ISA), sebuah UU yang sering digunakan pemerintah Malaysia untuk membungkam oposisi dan orang-orang yang diduga terkait dengan tindak terorisme. Dengan UU ini pemerintah boleh menahan seseorang selama 2 tahun dan terus memperbarui masa tahanannya tanpa melalui proses pengadilan.

Di Indonesia sendiri kasus penangkapan blogger pernah terjadi. Blogger senior Jogja, Herman Saksono alias Momon, sempat ditahan polisi karena memajang foto Presiden SBY yang telah dimodifikasi sedemikian rupa di blognya. Ia sempat akan dijerat dengan pasal penghinaan terhadap presiden. Tapi untunglah kasus tersebut tidak jadi panjang sehingga Momon bisa kembali aktif di blogosphere tanpa kekurangan bobot badannya walau satu gram-pun. Lho??? Maksudnya????

So, pesan saya pada teman-teman sesame blogger: berhati-hatilah! Jangan memuat tulisan yang berpotensi membawa Anda ke dalam jeratan hukum. Oke?

Catatan: Setelah ini serial "Cara (Curang) Meningkatkan Earning AdSense" dilanjutkan dengan tulisan kedua yang di-publish secara otomatis sore nanti jam 18:10. So, stay tune ya...